Nasehat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy “ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”

الحث على المودة والتآلف
والتحذير من الفرقة والإختلاف

“ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”

للشيخ الدكتورربيع بن هادي المدخلي حفظه الله

Oleh :
Fadhilah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy

Alih Bahasa :
Abu Salma bin Burhan Al-Atsari

Korektor dan Editor :
Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc.

Judul Asli :
Al-Hatstsu ‘alal mawaddah wal I’tilaafi wat Tahdziru minal Furqoh wal Ikhtilaafi

Penerbit :
Markaz Imam al-Albani
Amman Yordania

Download dari
Maktabah Abu Salma al-Atsari

KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.
Amma Ba’du :
Berikut ini merupakan ceramah ilmiah seputar manhaj dan tarbiyah (pembinaan) yang bermanfaat, dengan izin Allah, yang disampaikan oleh Fadhilatus Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi –semoga Allah menjaga beliau dan menjadikan (ilmu)nya bermanfaat- di saat pertemuan yang mubarak (penuh berkah) yang dihadiri oleh para penuntut ilmu syar’i di Universitas Islam Madinah Munawarah, beberapa minggu yang lalu.
Ceramah ini sungguh mengandung mutiara-mutiara yang berharga dari nasehat-nasehat yang mengagumkan dan pengarahan-pengarahan yang sarat dengan manfaat, yang disampaikan di saat dan kondisi yang sangat tepat sekali –segala puji hanya milik Allah- sebagai petunjuk bagi jalannya dakwah salafiyyah yang mubarakah (penuh berkah) ini, yang pada masa-masa akhir ini telah terkontaminasi oleh sebagian pemikiran asing dan karakter/perangai yang jauh darinya!
Semoga Allah membalas Syaikh Abu Muhammad Rabi’ bin Hadi –semoga Allah senantiasa menjaganya- dengan sebaik-baik ganjaran, atas upaya yang yang telah dipersembahkannya –dan apa yang akan beliau persembahkan- dalam menolong da’wah yang mulia ini dan jalan yang menentramkan ini.
Markaz Imam Albani sungguh memandang pentingnya menyebarkan ceramah bermanfaat yang penuh berkah ini –insya Allah- agar manfaatnya semakin menyebar dan kebaikannya semakin besar. Allah Ta’ala berfirman : “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Demikianlah akhir seruan kami, segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.
Amman – Yordan
19 Sya’ban 1425 H.

ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”

S
yaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair al-Madkholi –Semoga Allah menjaganya- berkata :

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ،
ياأيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحده وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
أما بعد :
فإن أصدق الحديث كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد  ، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ،وكل ضلالة في النار
Segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan pada-Nya, meminta pengampunan dari-Nya, dan memohon perlindungan dari buruknya jiwa-jiwa kami dan jeleknya amal-amal kami. Barang siapa yang Allah telah menunjukinya maka tak ada seorangpun yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang Allah mengehendaki kesesatan atasnya maka tak ada seorangpun yang sanggup memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanyalah Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad ada hamba dan utusan-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran : 102)
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu, yang darinya Ia menciptakan pasangannya, dan memperkembangbiakkan dari keduanya kaum lelaki dan wanita yang banyak, maka bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’ : 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Al-Ahzab : 70-71).
Amma Ba’du :
Sesungguhnya sebenar-benar suatu perkataan adalah perkataan Allah (Kitabullah) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka .
Marhaban (Selamat datang) wahai saudaraku seislam, para penuntut ilmu yang mulia , yang telah melakukan perjalanan jauh dari ujung dunia, dalam rangka meneguk ilmu syar’i yang memancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di tempat turunnya wahyu ini, kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang merupakan tempat kedua turunnya wahyu setelah Makkah Mukarramah, yang berangkat darinya panji-panji jihad dan futuh (ekspansi islam) untuk meninggikan kalimat Allah Tabaroka wa Ta’ala, dan untuk menyebarkan agama yang haq (benar) ini, serta untuk memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya, sebagaimana yang difirmankan Allah Tabaroka wa Ta’ala :
 هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون 
“Dialah Allah yang mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang musyrik benci.”
(Ash-Shaff : 9).
Allah sungguh telah memenangkan agama ini melalui tangan (usaha) para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia dengan penuh keikhlasan . Mereka membuka hati manusia dengan ilmu, petunjuk dan keimanan, mereka membuka benteng-benteng dan negeri dengan pedang kebenaran, dan mereka menolong agama Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala usaha yang mereka miliki, dengan setiap apa yang mereka sanggupi, baik dengan mengorbankan harta dan jiwa. Mereka adalah orang yang mengimplementasikan kehendak Allah terhadap agama ini, serta mereka adalah orang yang memuliakan dan memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya. Karena agama ini tegak di atas petunjuk dan ilmu, tidak tegak di atas hawa nafsu, kebodohan, kedunguan dan kekacauan -yang saat ini melanda banyak negeri!- yang bersumber dari orang-orang yang tidak menegakkan dakwah mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, namun menegakkan dakwah mereka di atas hawa nafsu –kecuali yang Allah Tabaroka wa Ta’ala selamatkan-.
Universitas Islam ini, -beserta segenap staf dan pendirinya- mengerti akan realita kaum muslimin di dunia Islam yang hidup dalam kebodohan dan jauh dari manhaj Allah yang haq –kecuali hanya sedikit saja-. Oleh karena itu didirikanlah Universitas ini di atas manhaj islam yang shahih (benar), yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihi Sholaatu was Salaam. Empat perlima mahasiswanya adalah dari anak-anak dunia islam (luar negeri), dan dan dua puluh persennya adalah anak-anak dari negeri Haramain Syarifain ini, supaya mereka dapat meneguk dari sumber ilmu yang murni ini dan agar setelah mendapatakan ilmu mereka kembali ke negeri mereka dan menyebarkan kebenaran ini. Ini adalah kebaikan, dan ini adalah petunjuk yang kalian mengetahuinya.
فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون 
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah : 122)
Ini adalah suatu kesempatan emas bagi kalian, maka pergunakanlah. Dan ambillah ilmu yang bermanfaat yang murni lagi bersih, yang bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena sumber-sumbernya masih banyak di sekitar kalian di kota ini, dan di universitas ini –segala pujian hanya milik Allah-.
Barangsiapa yang menghendaki kebenaran dan kebaikan bagi dirinya, keluarganya, kaumnya dan negerinya, maka hendaklah dia menyingsingkan lengan bajunya dan mengambil ilmu dari para ulama yang ada, yang mana mereka (para ulama) ini mengkhidmatkan diri mereka untuk mengajarkan kebenaran dan menyebarluaskannya, semoga Allah memberkahimu.
Belajarlah kalian dari sumber-sumber (referensi) yang menghimpun aqidah dan manhaj yang benar, bacalah kitab-kitab tafsir salafiyah, yang menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, atau dengan Sunnah Rasulullah, atau dengan pemahaman sahabat yang mulia, yang mana mereka hidup di zaman turunnya wahyu, dan mereka menyertai serta menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka mengetahui maksud-maksud al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka adalah orang-orang yang paling layak utl dijadikan rujukan dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah Rasulullah yang mulia ‘alaihi Sholaatu wa Salaam pernah bersabda, dan menceritakan tentang Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) :
من كان على ما أنا عليه وأصحابي
“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas (pemahaman)-ku dan sahabatku”
Pemahaman sahabat yang mulia tehadap agama Allah yang haq ini, yang mereka ambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ucapan, perbuatan, pendidikan dan pengarahan beliau ‘alaihi Sholaatu wa Salam, maka wajib kita jadikan sebagai referensi. Mereka adalah orang-orang mukmin yang dimaksudkan oleh firman Allah Tabaroka wa Ta’ala :
 ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وسآءت مصيرا 
“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas atasnya petunjuk dan mengikuti jalannya selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’ : 115).
Ini adalah ancaman yang pedih bagi siapa saja yang menentang Allah dan rasul-Nya, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (para sahabat, ed.).
Perhatikanlah benar-benar perkara ini, dan bersemangatlah kalian untuk memahami jalannya orang-orang mukmin, yang mereka menyandarkan (pemahaman)-nya dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan dari tazkiyah serta tarbiyah beliau terhadap mereka di atas al-Kitab dan al-Hikmah, semoga Allah memberkahimu.
Ini adalah kesempatan baik bagimu, fahamilah dari mereka (sahabat) agama Allah yang haq ini, dan berusahalah dengan segala kesungguhan kalian di dalam memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya dengan hujjah (argumentasi yang terang) dan burhan (keterangan yang jelas).
Hendaklah kalian menuntut ilmu dari sumbernya yang asli, dari kitab-kitab tafsir salafiy dan kitab-kitab aqidah salafiyah, yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang akan menjelaskan kepada kalian perbedaan antara jalannya orang-orang mukmin yang shadiq (jujur) dengan jalannya mubtadi’in (pelaku bid’ah) yang menyelisihi manhaj Allah yang haq. Mereka, yaitu orang-orang mukmin yang shadiq –demi Allah- adalah pengemban amanat ummat ini terhadap agama Allah Azza wa Jalla, terhadap keselamatan aqidah dan manhajnya, dan terhadap ketetapannya (ketsabatannya) di atas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Termasuk hal yang sudah kalian fahami adalah, bahwasanya merupakan suatu kewajiban atas kita untuk meneladani Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan keduanya, dan menggigitnya dengan gigi geraham, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menasehati sahabatnya dengan nasehat yang indah yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati menjadi bergetar, mereka meminta kepada beliau agar memberikan nasehat kepada mereka, mereka berkata :
يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا
“Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami”, lantas Rasulullah bersabda,
أوصيكم بتقوى الله ـ انتبهوا لهذا ـ لهذه الوصية ـ والسمع والطاعة ،وإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسُنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، عضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة
“Aku menasehatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah…”, perhatikanlah wasiat ini! “ dan untuk tetap mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum msulimin, ed.), sesungguhnya barang siapa diantara kalian masih hidup akan melihat perselisihan yang amat banyak, maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus (ar-Rasyidin) lagi mendapat petunjuk (al-Mahdiyin), gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara yang baru (muhdats) karena setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat. ”
Nasehat ini mengandung wasiat untuk bertakwa kepada Allah, yang merupakan suatu keharusan darinya, dan tidaklah hal ini termanifestasikan melainkan hanya pada diri ulama yang jujur lagi shalih, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
إنما يخشى اللهَ َمن عباده العلماء 
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28).
Maka bertakwalah kalian kepada Allah Azza wa Jalla agar kalian dapat mencapai derajat ini (derajat ulama, ed.), dan belajarlah agar kalian dapat mencapai kedudukan mereka. Karena barang siapa yang mengetahui aqidah dan manhaj yang benar, hukum, adab dan akhlak yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka dialah orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya takwa itu dapat termanifestasikan melalui perkara-perkara ini seluruhnya.
Dari pengetahuan terhadap perkara ini –sebagaimana telah kami sebutkan-, akan menyebabkan seorang hamba dapat meraih ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan meraih khosyah (rasa takut) serta muroqobah (merasa diawasi Allah) pada setiap waktu dan tempat dan pada setiap situasi dan kondisi. Ini merupakan kedudukan yang paling agung –yaitu kedudukan ihsan- (sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril, ed.) :
أن تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu” .
Tingkatan ihsan ini, menyebabkan manusia yakin bahwasanya Allah melihatnya, dan Allah mendengar setiap apa yang ia ucapkan, Allah mendengar setiap denyut nadi jantungnya dan getaran keinginannya, bahkan apa yang terbetik pada dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan mendengarnya, dan Dia melihat (mengawasi) di saat gerak dan diamnya.
Seorang mukmin sejati akan senantiasa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan, dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengarkan apa yang ia katakan, dan Allah memiliki “(malaikat-malaikat pengawas) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (segala perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Infithar : 11-12). Jika perasaan mulia ini terdapat di dalam jiwa seorang mukmin, maka ia akan memperoleh ketakwaan yang akan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan, kesyirikan, kebid’ahan serta khurofat, dan dia akan mendapatkan kedudukan ihsan, dikarenakan dia selalu merasa diawasi oleh Allah, dan selalu merasa bahwa Allah melihat dirinya, tidak tersembunyi urusannya di sisi Allah sedikit maupun banyak, walaupun sekecil biji sawi.
Perasaan yang mulia ini akan menghantarkannya –insya Allah- kepada takwa kepada Allah, tidak ada seorangpun dapat mencapai hal ini melainkan dengan mengetahui aqidah shahihah dan syariat yang benar dari perkara halal dan haram, dan mengetahui perintah dan larangan Allah serta janji dan ancaman dari kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka inilah yang berhak mendapatkan pujian Allah Tabaroka wa Ta’ala yang Ia berfirman tentang mereka,
 إنما يخشى الله من عباده العلماء 
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28)
dan firman-Nya,
 يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات 
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (al-Mujaadalah : 11).
Maka bersemangatlah kalian dalam di dalam meneladani mereka para ulama, yang menghimpun antara ilmu dan amal. Yang demikian ini merupakan buah dari ilmu yang benar dan takwa kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala serta muroqobah/merasa diawasi oleh-Nya. Hendaklah kalian juga -wahai saudara-saudaraku-, berusaha meraih keimanan yang yang bersih lagi murni, dan ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Karena telah berfirman Rabb kita Jalla Sya’nuhu :
والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
“Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.” (al-Ashri : 1-3).
Keimanan yang bersih sesungguhnya dibangun di atas ilmu. Amal yang shalih tidak akan terpancar melainkan dari ilmu dan dakwah kepada Allah, yang tidak bisa dijalankan melainkan oleh ahlu ilmi. Bersabar atas setiap gangguan adalah suatu tuntutan bagi orang yang berilmu dan mengajar serta berdakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala –semoga Allah memberkahimu-.
Maka jadilah kalian seperti mereka yang berilmu dan mengimani ilmu ini, yang menyeru kepada ilmu dan keimanan ini, dan bersabar atas gangguan dalam menyampaikan kebenaran dan kebaikan ini kepada manusia, karena merupakan suatu keniscayaan bagi seorang muslim yang beriman ketika berdakwah kepada Allah akan menghadapi gangguan, yang terkadang belum terlintas di dalam benak mereka!
Seorang muslim sebenarnya tidak perlu aneh dengan hal ini, karena sesungguhnya sebaik-baik makhluk Allah telah diuji di jalan Allah dan di jalan dakwah kepada Allah, yaitu para Nabi dan Rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam, dan mereka telah diganggu lebih daripada kita, dan diuji dengan musuh yang lebih sengit permusuhannya dan lebih banyak ketimbang kita, dan inilah makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحون ثم الأمثل فالأمثل
“Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi kemudian orang-orang yang shalih, kemudian yang serupa dengan mereka.” Dan sabdanya pula : “Tidak ada seorangpun yang diuji sebagaimana diriku diuji di jalan Allah.”
Barangsiapa yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, serta menyeru kepadanya, niscaya dia akan diuji –kecuali yang dikehendaki oleh Allah-. Maka persiapkan dirimu dengan kesabaran, karena
 واصبر إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب 
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (az-Zumar : 10),
dan Allah telah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bersabar sebagaimana bersabarnya Ulul Azmi, Allah Yang Maha Suci berfirman kepada beliau :
فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل لهم 
“Bersabarlah dirimu sebagaimana bersabarnya Ulul Azmi dari para rasul dan janganlah kamu meminta disegerakannya adzab bagi mereka (kaum musyrikin)” (al-Ahqaf : 35).
Pada diri Rasulullah dan seluruh nabi Allah terdapat tauladan yang baik bagi kita. Rasulullah diperintahkan untuk meneladani para nabi sebelumnya dan berpedoman dengan petunjuk mereka. Dan kita diperintahkan untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan bersabar sebagaimana sabarnya beliau ‘alaihi Sholatu wa Salam,
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر 
“Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah bagi orang-orang yang mengharap Rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” (al-Ahzab : 21).
Suri tauladan yang baik begitu sempurna pada seluruh keadaan yang dimiliki oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tauladan pada aqidah beliau, maka kita harus beraqidah sebagaimana aqidah beliau. Tauladan pada ibadah beliau maka kita harus beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini untuk-Nya dan ittiba’ (mencontoh) ibadah yang telah diajarkan Rasul yang mulia ‘alaihi Sholatu wa Salam. Tauladan pada akhlak beliau yang agung yang mana banyak para da’i yang menyeru kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan mayoritas para pemuda tidak memilikinya bahkan sebagian besar pemuda –atau bahkan semuanya- melupakannya. Padahal sesungguhnya Allah memuji Rasul-Nya ‘alaihi Sholatu wa Salam dengan pujian yang dalam dan sanjungan yang harum, firman-Nya :
وإنك لعلى خلق عظيم 
“Dan sesungguhnya padamu wahai Muhammad terdapat perangai yang agung”
(al-Qolam : 4).
Seorang da’i yang menyeru ke jalan Allah, penuntut ilmu, pemberi pengarahan dan penasehat, mereka seluruhnya membutuhkan untuk menelusuri jejak Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam aqidah, manhaj dan akhlak beliau. Jika perkara ini terkumpul secara sempurna atau mendekati kesempurnaan pada seorang da’i yang menyeru ke jalan Allah, maka akan berhasil dakwah ini insya Allah. Seorang da’i tersebut hendaknya menampulkan dakwah ini di dalam bentuk yang paling indah dan paling baik, semoga Allah memberkahimu.
Jika seorang da’i dalam urusan dakwahnya tidak memiliki akhlak yang mulia seperti sabar, hikmah, ramah dan lemah lembut atau perkara lainnya yang merupakan perkara urgen yang tercermin di dalam dakwah para rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam, maka yang demikian ini adalah kekurangan yang akan mencelakakan dakwahnya. Oleh karena itu, seorang da’i harus menyempurnakan (perangai) ini.
Banyak manusia terkadang lalai dari perangai ini! Hal ini jelas membahayakan dakwah salafiyah dan pengikutnya (yaitu salafiyin, pent.). Karena lalai dari akhlak ini dan mengedepankan dakwah ini kepada manusia dengan cara yang mereka benci, atau mereka anggap jelek dan mereka pandang menakutkan, dari perangai yang keras, kaku, gegabah atau yang semisalnya, akan merintangi jalannya dakwah sehingga manusia tidak mau menerimanya. Sesungguhnya perangai-perangai ini dibenci di dalam urusan dunia apalagi di dalam urusan agama. Oleh karena itu merupakan keharusan bagi penuntut ilmu untuk meniti jalan akhlak yang mulia dalam berdakwah. Demikian pula, seyogyanya anda wahai saudaraku, bercermin kepada atsar yang datang tentang cara berdakwah ke jalan Allah dengan mempelajari sirah (sejarah) Rasul, mempelajari akhlak, aqidah dan manhaj beliau.
Sebagian manusia ada yang tidak menghiraukan aqidah dan manhaj Rasulullah, namun mereka mengikuti manhaj-manhaj dan aqidah-aqidah lainnya yang diada-adakan oleh Syaithan untuk orang-orang yang dihinakan Allah dari ahlul bid’ah dan ahli kesesatan. Ada pula manusia yang mencocoki dengan aqidah beliau saja namun menelantarkan manhaj! Ada pula manusia yang mencocoki aqidah dan manhaj beliau, namun perangai mereka menyia-nyiakan aqidah dan manhaj. Mereka memiliki kebenaran di sisi aqidah dan manhajnya yang benar, akan tetapi perangai dan uslub (cara) mereka di dalam berdakwah merusak dakwah itu sendiri dan membahayakannya.
Berhati-hatilah kalian dalam menyelisihi aqidah, manhaj dan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Wajib bagi kalian mempelajari bagaimana cara nabi ‘alaihis Sholatu was Salam menyeru manusia, dan teguklah taujihat (pengarahan) nabawi ini yang mengandung hikmah, kesabaran, kelembutan, sifat pemurah, sifat pemaaf, lemah lembut, kasih sayang, dan perangai lainnya.
Ambillah (manhaj nabi dalam berdakwah ini, pent.) wahai saudaraku dan ketahuilah bahwa merupakan suatu keharusan mengimplementasikannya di dalam dakwah kita kepada manusia. Jangan ambil satu sisi dari Islam dan meninggalkan sisi lainnya, atau satu aspek dari metode dakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala namun meninggalkan aspek lainnya, karena hal ini akan membahayakan agama Allah Azza wa Jalla dan membahayakan dakwah ini dan orang-orangnya.
Demi Allah, tidaklah dakwah salafiyah ini tersebar di zaman ini –dan sebelumnya- melainkan melalui tangan (upaya) dari para ulama yang berilmu yang memiliki hikmah dan kelemahlembutan, yang meneladani metode Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka menerapkannya sekuat tenaga, semoga Allah senantiasa memberikan manfaat dengan keberadaan mereka, sehingga menyebar dakwah salafiyah ini ke seantero dunia, adalah dengan akhlak, ilmu dan hikmah mereka.
Namun akhir-akhir ini, kami melihat bahwa dakwah salafiyah semakin surut dan menyusut, hal ini tiada lain adalah karena telah hilangnya hikmah di tengah-tengah mereka (para ulama tersebut, ed.), bahkan turut hilang pula hikmah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum kelembutan, kasih sayang, akhlak, keramahan, dan kelemahlembutan beliau ‘alaihis Sholatu was Salam.
‘Aisyah pernah mencerca seorang Yahudi, lantas nabi bersabda kepadanya :
يا عائشة إن الله يحب الرفق في الأمر كله
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu mencintai kelemahlembutan pada seluruh perkara” . Hadits ini, jika ada seorang ‘alim menyebutkannya hari ini dalam rangka mengajak para pemuda kepada manhaj yang benar di dalam berdakwah kepada Allah, maka niscaya mereka akan berkata : ini tamyi’!!! (manhaj yang lunak).
Akhlak-akhlak yang mulia ini jika disebutkan, seperti hikmah, ramah, lemah lembut, kasih sayang dan pemaaf, yang mana hal ini merupakan kebutuhan dakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan merupakan aktivitas yang dapat memikat manusia kepada dakwah yang benar, maka dampak yang dihasilkannya adalah : masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Akan tetapi mereka –al-Mubaddilin (orang-orang yang senang merubah)-, mereka mempersembahkan at-Tanfir (menyebabkan manusia menjadi lari), sembari melupakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :
إن منكم منفرين ، يسروا ولا تعسروا ، وبشروا ولا تنفروا
“Sesungguhnya ada diantara kalian ini munaffirin (orang yang menyebabkan manusia menjadi lari, pent.) ” dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Permudahlah janganlah kalian persulit, berilah kabar gembira janganlah kalian menyebabkan mereka lari” .
Wahai saudara sekalian, sungguh mereka tidak sadar! Demi Allah, Bahwa mereka telah menuduh Rasulullah sebagai mumayyi’ (orang yang lunak manhajnya, pent.) demikian pula para sahabat dan para ulama’ juga dituduh sebagai mumayyi’un. Dengan metode mereka yang tasyaddud (keras) dan bengis yang menghancurkan dakwah salafiyah ini, mereka secara tidak langsung telah menganggap Rasulullah yang menyeru kepada kelemahlembutan, hikmah dan kasih sayang sebagai mumayyi’, kami mohon ampunan kepada Allah!!!
Demi Allah! Mereka tidak menghendaki hal ini dan mereka tidak bermaksud begini! Akan tetapi mereka tidak sadar! Maka wajib bagi mereka –mulai sekarang- untuk memahami dampak dan akibat dari perbuatan semacam ini. Dan sesungguhnya kami –demi Allah- bersungguh-sungguh, mengobservasi, menulis, menasehatkan dan mengajak dengan kelemahlembutan ke jalan Allah Ta’ala namun mereka menganggap kami sebagai mumayyi’in, mereka tidak menginginkan kami mengucapkan kata hikmah, ramah dan lemah lembut. Kami telah melihat bahwa asy-Syiddah (kekerasan) telah menghancurkan dakwah salafiyah dan mengoyak-ngoyak salafiyin, lantas apa yang kita lakukan? Maka aku katakan -wahai saudaraku sekalian- : ketika kita melihat api menyala, apakah kita tinggalkan begitu saja sehingga semakin berkobar?! Ataukah kita mendatanginya dengan perkara ini (manhaj nabi yang lemah lembut, pent.) yang akan memadamkan kobaran api itu?!
Maka aku terpaksa –dan ini adalah kewajibanku -dan aku telah mengatakannya sebelum ini-, bahkan aku menekankan kembali tatkala kulihat kegoncangan dan bencana ini, aku katakan : Wajib atas kalian untuk berlemahlembut! wajib atas kalian bersikap ramah! wajib atas kalian untuk saling bersaudara! dan wajib atas kalian saling menyayangi! Karena sesungguhnya kekerasan ini (sekarang) tertuju kepada ahlus sunnah sendiri, tatkala mereka meninggalkan ahlul bid’ah dan mereka tujukan perangai syiddah (kekerasan) yang membinasakan ini kepada ahlus sunnah, dan menyeruak ke dalamnya penganiayaan dan tindakan-tindakan batil lainnya yang zhalim!
Maka jauhilah! Dan sekali lagi jauhilah jalan yang dapat membinasakan kalian ini dan menghancurkan dakwah salafiyyah dan salafiyin! Berdakwahlah kepada Allah Ta’ala dengan segenap kemampuan kalian dengan hujjah (keterangan yang jelas) dan burhan (argumentasi yang terang) di setiap tempat, dengan menukil firman Allah dan sabda Rasulullah, dan mohonlah pertolongan atas hal ini kepada Allah- kemudian kepada ucapan para a`immatul huda (imam-imam yang lurus), yang mana keimaman dan kedudukan mereka di dalam Islam diterima baik oleh Ahlus Sunnah maupun ahlul bid’ah.
Aku nasehatkan kepada saudaraku yang akan pergi ke Afrika, atau ke Turki, atau ke India –atau selainnya- (dalam rangka berdakwah, ed.) untuk senantiasa bermodalkan dengan firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan dari para imam yang mereka hormati. Jika anda pergi ke Afrika, misalnya, anda katakan : Ibnu Abdil Bar berkata, Malik berkata, Fulan berkata –dimana banyak dan tidak sedikit manusia di sana memiliki aqidah yang rusak!-, jika anda mendatangi mereka dengan Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian kalian datangkan perkataan para ulama, niscaya mereka akan mendengarkan perkataan anda dan mereka akan memperhatikan anda. Inilah hikmah! Namun, jika anda datang dengan perkataan dari diri anda sendiri maka akibatnya bisa jadi mereka tidak menerima satupun dari anda.
Anda juga harus memulai perkataan anda setelah dengan Firman Allah dan sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan perkataan para ulama, yang mana mereka (para ulama tersebut, pent.) memiliki kedudukan dan tempat di dalam diri manusia dan mereka tidak mampu mencela ulama tersebut maupun ucapan mereka. Jika anda berkata : ‘Bukhari mengatakan ini dan itu’, maka sesungguhnya mereka menghormatinya. Sebagai contoh, misalnya kaum sufi di setiap tempat, mereka menghormati Bukhari dan Muslim, dan mereka juga menghormati kedua kitab mereka (shahihain, pent.) dan kedua imam tersebut, mereka juga menghormati Ahmad bin Hanbal, Auza’i, Sufyan ats-Tsuri dan selain mereka dari para ulama besar terdahulu.
Dengan demikian, sesungguhnya hal ini dapat menjadi ikatan antara diri kita dengan mereka di dalam kebenaran, ada tempat-tempat untuk bertemu yang kita dapat menembus mereka dengan jalan ini. Dan hal ini adalah termasuk hikmah -wahai saudaraku-. Oleh karena itu tidaklah sepatutnya anda mengatakan kepada mereka –pertama kali- : ‘Ibnu Taimiyah berkata’, sembari menyebutnya imam, dikarenakan mereka masih bodoh dan tidak mengenal beliau, dan sekiranya mereka mengetahuinya maka niscaya mereka akan membencinya disebabkan dari apa yang mereka dengar dari pembesar-pembesar mereka yang mana tidak menghendaki dan menginginkan beliau. Semoga Allah memberkahimu.
Katakan! : ‘Ibnu Taimiyah berkata’, di tengah-tengah salafiyin yang menghormati beliau. Namun janganlah anda katakan di tengah-tengah selain salafiyin : ‘Ibnu Taimiyah berkata’ atau ‘Ibnu Abdul Wahhab berkata’ –misalnya-, dikarenakan mereka masih jahil dan mereka dididik di tengah-tengah ahlul bid’ah yang lari dari hal ini, dan syaikh-syaikh mereka menyebabkan mereka lari pula dari mereka (para ulama tersebut, pent.). Katakan kepada mereka nama-nama para Imam yang mereka mengakuinya dan menghormatinya, dikarenakan pemimpin dan syaikh mereka menjelekkan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahhab serta para ulama dan para imam dakwah, sebagaimana baru kusebutkan.
Janganlah anda mendatangi mereka dari pintu ini, karena hal ini tidaklah termasuk hikmah. Tapi, masuklah dari pintu : ‘Malik berkata’, ‘Sufyan ats-Tsauri berkata’, ‘al-Auza’i berkata’, ‘Ibnu ‘Uyainah berkata’, ‘Bukhari berkata’, ‘Muslim berkata dalam juz sekian halaman sekian’, dan yang semisalnya, maka anda akan diterima. Kemudian, jika mereka telah menerima anda, mereka nantinya akan menghormati Ibnu Taimiyah dan mengetahui bahwasanya beliau berada di atas kebenaran, mereka akan menghormati Ibnu Abdul Wahhab dan mengetahui pula bahwasanya beliau juga di atas kebenaran. Semoga Allah memberkahimu… demikianlah…!!!
Aku katakan : hal ini merupakan peringatan kepada perangai hikmah di dalam mendakwahi manusia ke jalan Allah Tabaroka wa Ta’ala. Termasuk diantara juga yaitu : janganlah kalian memaki jama’ah mereka,
 ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم 
“Dan janganlah kalian memaki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
(al-An’am : 108).
Aku berkata : ketika aku berkunjung ke Sudan, aku beristirahat di Port Sudan, beberapa pemuda Ansharus Sunnah datang menyambutku dan mereka berkata : “Wahai Syaikh, kami menginginkan sesuatu dari anda”.
Aku menjawab : “silakan”
Mereka berkata : “Berbicaralah apa yang anda kehendaki. Ucapkanlah: Allah berfirman, Rasulullah bersabda. Dan celalah sekehendak anda segala kebid’ahan dan kesesatan, baik itu do’a kepada selain Allah, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan selainnya. Namun anda jangan menyebut kelompok ini dan itu!, dan jangan pula syaikh fulan! Janganlah anda menunjuk Tijaniyah bagian dari kelompok-kelompok (sesat, ed.)! Jangan pula Bathiniyah! Jangan pula pembesar-pembesar mereka. Akan tetapi, perbaikilah aqidah niscaya kebenaran yang anda bawa akan diterima.” Aku berkata kepadanya : “Baiklah” lantas aku mengikuti cara ini dan kudapatkan manusia menerima dengan penerimaan yang luar biasa.
Janganlah anda menduga wahai penuntut ilmu, bahwasanya termasuk kesempurnaan manhaj yang benar ini adalah harus memaki syaikh-syaikh mereka dan mencela mereka! Karena Allah Subhanahu berfirman :
،  ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم 
“Dan janganlah kalian memaki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
(al-An’am : 108).
Jika anda memaki seorang syaikh! Atau anda katakan : (syaikh ini) sesat! Atau begini! Atau thoriqoh fulan (begini)! Maka metode ini menurut kami menyebabkan mereka lari darimu, anda telah berbuat salah, dan anda telah menjadikan manusia lari, kalau begitu anda adalah munaffirun (sebagaimana dalam hadits yang telah berlalu, pent.).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman beliau berpesan :
يسرا ولا تعسرا وبشرا ولا تنفرا
“Permudahlah janganlah kalian persulit, dan berilah kabar gembira janganlah menyebabkan orang lari”
Hal ini termasuk cara yang Taysir (mempermudah) dan tabsyir (memberikan berita gembira), tidak ada di dalamnya tanfir. Dan demi Allah, tidaklah aku memasuki masjid melainkan aku melihat wajah mereka berbinar-binar, dan aku tidak mampu keluar karena banyaknya orang yang datang menemuiku dan menyalamiku serta menyapaku.
Kemudian ketika pembesar-pembesar sufiyah syaithaniyah melihat bahayanya dakwah yang benar ini, mereka berkumpul dan membuat makar serta merangkai kata sepakat untuk membantahku. Mereka mengumumkan tentang ceramahku di wilayah yang lebih luas. Kemudian kami berkumpul di wilayah tersebut, dan akupun berbicara, lantas berdiri seorang pembesar mereka dan mengomentari perkataanku, dan mulai membolehkan istighotsah, tawasul, dan berbicara tentang ta’thil (peniadaan) sifat Allah, dan dia berkata dan berkata… dan dia memperkuat kebatilannya dengan takwil-takwil yang rusak!
Setelah dia selesai –dan dia kehabisan dalil, dia hanya mendatangkan hadits-hadits dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu) dan mendatangkan ucapan-ucapan Asqorothiyyin (pengikut asyqrot, seorang filsuf, ed.)-. Aku berkata : Wahai jama’ah, kalian telah mendengar ucapanku, aku berkata : Allah berfirman, Rasulullah bersabda, Ulama’ umat yang terkenal berkata, dan orang ini datang dengan hadits palsu, dan aku tidak mendengar darinya al-Qur’an sedikitpun! Apakah kalian pernah mendengar : Allah berfirman begini tentang bolehnya istighotsah kepada selain Allah??! Tentang bolehnya tawasul??! Apakah kalian pernah mendengarkan ucapan ulama besar seperti Malik dan semisalnya tentangnya??! Kalian tidak pernah mendengarnya! Sesungguhnya yang kalian dengar (darinya) hanyalah hadits-hadits palsu dan lemah, dan perkataan-perkataan orang-orang yang kalian telah mengenalnya sebagai khurofiyun (penggemar khurofat, pent.)! Tiba-tiba berdiri seorang khurofiy sembari memaki-maki dan mencela! Lantas aku tersenyum, aku tidak membalas makiannya tidak pula celaannya, dan aku tidak mengucapkan sesuatupun ketika itu melainkan hanya : Semoga Allah memberkahimu! Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan! Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan! Semoga Allah memberkahimu!.
Kamipun berpisah, dan demi Allah yang tiada sesembahan yang haq kecuali Dia, ketika masuk waktu pagi –pada hari kedua- orang-orang sedang bercerita di masjid-masjid dan pasar-pasar bahwa kelompok sufi telah terkalahkan! Maka pelajarilah wahai saudara-saudara sekalian metode syar’iyah dan shahihah ini. Tujuan dakwah adalah menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus dan menanamkan kebenaran ke dalam hati manusia!
Wahai saudaraku, wajib atasmu untuk mempergunakan segala sarana yang kalian sanggupi dari sarana-sarana yang syar’i di dalam jalan dakwah kepada Allah. Bukanlah yang kita maksud adalah (ucapan) tujuan memperbolehkan segala cara! Hal ini termasuk metodenya Ahlul Bid’ah. Dengan sebab kaidah tadi (yaitu, tujuan memperbolehkan segala cara, pent.) mereka terjerumus kepada kedustaan, kerancuan, kelicikan dan kepicikan! Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam ‘Ali bin Harb al-Mushili : “Seluruh pengikut hawa nafsu itu selalu berdusta dan mereka tidak peduli” .
Hal ini semuanya bukanlah perangai kita, karena kita adalah ahlu shidqi (pemilik kejujuran) dan ahlu haqqi (pemilik kebenaran). Akan tetapi kita menghidangkan dakwah ini kepada manusia dalam bentuk yang bisa diterima setiap orang dan bisa menarik hati mereka. Semoga Allah memberkahi kalian.
Kemudian kami pergi ke Kasala –sebuah tempat di Sudan juga-, dan masya Allah, dakwah di sana sangat berkembang pesat dengan baik, segala puji hanya milik Allah. Kami sempat berceramah di sana dan semoga Allah menjadikan ceramah kami tersebut bermanfaat.
Kemudian kami pergi ke al-Ghizhorif, yaitu sebuah kota kecil di sana, kami berkeliling ke seluruh masjid di sana. Mereka berkata : tidak ada di kota ini kecuali satu masjid yang dikuasai Tijaniyah sedangkan kami tidak mampu menembusnya! Aku bertanya : kenapa? Mereka menjawab : Mereka sangat fanatik sekali. Aku berkata : kita pergi menemui dan meminta izin kepada mereka, jika mereka mengizinkan kita berbicara maka kita sampaikan, dan jika mereka melarang kita maka kita memiliki udzur di sisi Allah, serta tidak selayaknya kita menghadapi mereka dengan paksaan dan kekuatan. Semoga Allah memberkahimu.
Kamipun tiba dan kami sholat bersama imam, setelah selesai akupun datang dan mengucapkan salam kepadanya, dan aku berkata kepadanya : Apakah anda mengizinkan diri saya untuk menyampaikan beberapa patah kata bagi saudara-saudara kami di sini?, Ia berkata : Silakan. Maka akupun berbicara, aku menyeru mereka kepada Allah, kepada Tauhid, Sunnah dan kepada hal-hal lain dari perkara yang menyangkut ilmu. Dan aku mengkritik beberapa kesalahan yang ada, dan beberapa kesesatan, hingga aku sampai kepada hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang muttafaq ‘alaihi :
ثلاث من حدثك بهن فقد أعظم على الله الفرية ، من قال إن محمدا رأى ربه فقد أعظم على الله الفرية ، ومن قال إن محمدا يعلم ما في غد فقد أعظم على الله الفرية ، ـ وأسوق الآي في الأدلة على هذا ـ ومن زعم أن محمدا لم يبلغ ما أنزل عليه فقد أعظم على الله الفرية
“Tiga hal, barang siapa yang berbicara dengan salah satu dari ketiganya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, yaitu barangsiapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Rabnya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, dan barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad mengetahui apa yang akan terjadi besok maka ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, -dan akupun membawakan dalil-dalil tentang perkataan ini- serta barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad tidak menyampaikan apa yang diturunkan atasnya maka ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah” .
Sang imam pun berdiri dan ia tampak gelisah, kemudian ia berkata : Demi Allah, sesungguhnya Muhammad melihat Rabnya dengan kedua mata kepalanya! Aku menjawab : Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, adapun Aisyah, dia adalah manusia yang paling mengetahui tentang diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia berkata : “Barangsiapa yang menyangka bahwa Muhammad melihat Rabnya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah”. Jika sekiranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabnya ia pasti akan mengabarkannya kepada kita namun ia tidak mengabarkannya.
Maka dia mulai membuat gaduh dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, aku berkata kepadanya : Wahai saudaraku, tunggulah sebentar sampai aku menyelesaikan perkataanku, setelah itu anda boleh bertanya apa saja sesuka anda, jika aku mengetahui jawabannya maka aku akan menjawabnya dan jika aku tidak mengetahuinya maka aku akan berkata kepadamu, Allahu a’lam, akupun meninggalkannya dan kulanjutkan perkataanku. Aku tidak tahu apakah ia tetap tinggal ataukah pergi! Aku benar-benar tidak tahu karena aku tidak menoleh kepadanya. Kemudian aku mendengar seorang lelaki berkata : “Demi Allah, perkataan orang ini adalah benar” (dengan logat Sudan, pent.), kemudian aku mendengar untuk kesekian kalinya ungkapan yang serupa dari selainnya dengan tambahan : “orang ini berkata dengan firman Allah dan sabda Rasulullah”. -Semoga Allah memberkahi kalian-. Sampai tiba adzan isya’, ceramahku telah selesai dan sholat akan ditegakkan, kemudian mereka menghendaki aku mengimami mereka! Maka aku menjawab : jangan, aku tidak layak jadi imam, Imam (rawatib) kalian yang layak mengimami, mereka berkata : Demi Allah sholatlah (jadi imam), aku menjawab : Baik, dan akupun mengimami mereka. Setelah selesai shalat aku menunggu, kemudian aku dan beberapa pemuda Ansharus Sunnah keluar bersama-sama, aku bertanya kepada mereka : Kemana perginya imam? Mereka menjawab : Mereka mengusirnya! Aku bertanya kembali : Siapa yang mengusirnya? Mereka menjawab : Demi Allah, jama’ahnya sendiri.
Jika sekiranya seseorang datang dan membodohbodohkan Tijaniyah Mirghaniyah! Maka barangkali mereka akan membunuhnya, tidak hanya diusir saja. Namun jika anda datang dengan hikmah dan kelembutan, semoga Allah memberkahi kalian- maka niscaya Allah akan menjadikannya bermanfaat bagi mereka.
Persembahkanlah wahai saudaraku, ilmu yang bermanfaat, hujjah yang pasti dan hikmah yang berfaidah di dalam dakwahmu. Dan wajib atas kalian berakhlak dengan setiap akhlak yang indah dan mulia, yang mana hal ini dianjurkan oleh al-Kitab dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya hal ini merupakan upaya kemenangan dan keberhasilan.
Sesungguhnya para sahabat tidak menyebarkan Islam sehingga merasuk ke dalam hati manusia melainkan karena hikmah dan ilmu mereka, yang hal ini lebih banyak daripada dengan hunusan pedang. Akan tetapi, barangsiapa yang masuk ke dalam Islam karena di bawah naungan pedang mungkin tidak bisa tetap keimanannya. Namun orang-orang yang masuk ke dalam Islam dari jalan ilmu, hujjah dan burhan maka keimanannya tetap/istiqomah –dengan izin dan Taufiq Allah-.
Wajib bagi kalian berpegang dengan jalan-jalan kebaikan ini, dan wajib bagi kalian bersungguh-sungguh di dalam ilmu dan di dalam dakwah kepada Allah. Kemudian aku mengingatkan kalian –wahai saudaraku- dari dua perkara ini :
Pertama : Untuk saling bersaudara diantara sesama Ahlus Sunnah seluruhnya. Maka wahai sekalian salafiyun, bangkitkan ruh kecintaan dan persaudaraan diantara kalian, dan aplikasikan apa yang diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang orang-orang mukmin yang “Bagaikan satu tubuh, satu dengan lainnya saling menguatkan” dan mereka itu “Bagaikan tubuh yang satu, jika satu bagian mengeluh maka akan menyebabkan seluruh tubuh lainnya merasakan demam dan sakit” . Jadilah seperti ini wahai saudaraku, jauhilah oleh kalian perbuatan yang dapat menghantarkan kepada perpecahan, karena sesungguhnya hal ini adalah perbuatan yang jelek lagi berbahaya dan penyakit yang parah.
Kedua : Jauhilah oleh kalian sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada permusuhan dan kebencian, serta perpecahan dan saling menjauh. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara ini, karena perkara ini telah menyebar akhir-akhir ini melalui tangan orang-orang yang Allah lebih mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Sehingga perkara ini menyebar, dan berkembang serta mengoyak-ngoyak para pemuda di negeri ini –baik di Universitas maupun selainnya- atau di seluruh antero dunia.
Mengapa?! Dikarenakan telah turun ke medan dakwah orang-orang yang bukan ahlinya, yang tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman. Dan boleh jadi ada musuh yang menyusup ke tengah-tengah salafiyun dalam rangka mengoyak-ngoyak dan memecah belah mereka. Perkara ini bukan hal yang mustahil –selamanya-, bahkan benar-benar terjadi. Semoga Allah memberkahi kalian. Bersemangatlah kalian dalam sikap saling bersaudara, dan jika muncul di antara kalian sesuatu hal yang tidak disukai, maka berusahalah melupakan masa lalu dan keluarkan lembaran putih yang baru sekarang.
Dan aku berkata kepada saudara-saudaraku sekalian :
Orang-orang yang memiliki kekurangan maka tidak sepatutnya kita menyalahkannya dan mencercanya, dan orang-orang yang tersalah diantara kita, janganlah kita mencercanya, Semoga Allah memberkahi kalian, namun seyogyanya kita mengobatinya dengan kelembutan dan hikmah, kita obati dengan kecintaan dan kasih sayang serta dengan seluruh akhlak yang shalih, dengan dakwah yang benar hingga ia mau kembali, jika masih tertinggal dalam dirinya kelemahan, maka janganlah kita tergesa-gesa mengambil sikap terhadapnya, jika tidak maka demi Allah tidak akan tersisa seorangpun, tidak akan tersisa seorangpun (kecuali akan dicela semuanya, ed.)!
Sebagian manusia sekarang ini, mengusik salafiyin sampai-sampai ulama pun mereka sebut sebagai mumayyi’in! Saat ini, tidaklah tersisa di daerah manapun seorang alim –atau yang dekat dengannya- melainkan dirinya dicela dan dijelekkan! Hal ini –tentu saja- merupakan metodenya Ikhwanul Muslimin dan Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlul Bid’ah itu, diantara senjata mereka adalah memprakarsai dalam menjatuhkan ulama, bahkan metode ini merupakan metode Yahudi Masoniyah yang mana jika mereka menghendaki untuk menjatuhkan suatu pemikiran maka mereka jatuhkan ulama atau pribadi individu-individunya!! Karena itu jauhilah perangai yang jelek ini dan hormatilah para ulama.
Demi Allah, tidaklah ucapanku dicela dan tidaklah apa yang kita pegangi dimaki, melainkan untuk menghancurkan manhaj ini. Maka orang yang membenci manhaj ini, ia akan berbicara (jelek) tentang ulamanya, dan barangsiapa yang membenci manhaj ini dan menginginkan kehancurannya, ia akan meniti jalan ini (yaitu celaan dan makian terhadap ulama, pent.), dan jalan ini terbuka bagi mereka –jalannya yahudi dan jalannya kelompok-kelompok sesat dari rofidhah dan selainnya.
Rafidhah itu sebenarnya membenci Islam, mereka tidak mampu berbicara langsung (mencela) tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, oleh karena itu mereka berbicara (mencela) tentang Abu Bakr dan Umar serta ulama ummat ini, mereka pada hakikatnya menginginkan hancurnya Islam. Demikian pula para pelaku bid’ah, jika mereka berbicara, mereka tidak langsung berbicara tentang Ahmad dan Syafi’i, namun mereka berbicara tentang Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah –dan yang semisal dengan keduanya- untuk menghancurkan manhaj ini. Dan sekarang, ada manusia yang tumbuh di dalam barisan salafiyin, tidaklah kurasakan melainkan mereka memecahkan kepala para ulama! apa yang mereka inginkan?! Apa yang mereka kehendaki?! Seandainya mereka menghendaki Allah dan kampung akhirat, dan menghendaki menolong manhaj ini –dan mereka mencintai manhaj ini- maka demi Allah, seharusnya mereka membela ulama-ulamanya. Jangan kalian ambil ilmu agama dari mereka dan jangan pula kalian percayai mereka, semoga Allah memberkahi kalian-, maka waspadailah mereka dengan kewaspadaan penuh dan hendaklah kalian saling merapatkan (barisan) dan saling bersaudara diantara kalian.
Aku tahu bahwa kalian bukan orang yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) dan tidaklah para ulama itu juga ma’shum –karena terkadang kami juga salah- Ya Allah, kecuali jika ada yang masuk ke dalam rafidhah mu’tazilah, jahmiyah ataupun kedalam hizbiyah (kepartaian) dari hizbi-hizbi lainnya, maka yang demikian ini harus disingkirkan.
Adapun seorang salafiy yang berwala’ (memberikan loyalitas) kepada salafiyin dan mencintai manhaj salafi -semoga Allah memberkahi kalian- dan membenci ahzab (kelompok-kelompok), bid’ah dan para pelakunya –serta tanda-tanda manhaj salafi ada pada dirinya-, kemudian ada kekurangan padanya dalam beberapa hal, maka kita berlemah lembut kepadanya, dan kita tidak meninggalkannya, namun menasehatinya, menggaulinya dan bersabar atasnya serta mengobatinya –semoga Allah memberkahi kalian-. Adapun orang yang mengatakan : Barang siapa yang salah maka ia binasa! Atas hal ini maka tidak pernah ada seorangpun (yang tidak binasa, pent.)!!!
Oleh karena itu, anda lihat mereka, ketika mereka telah selesai dari para pemuda, mereka mulai menyerang para ulama. Ini adalah manhajnya Ikhwanul Muslimin yang telah masuk ke negeri ini, dan yang pertama kali mereka serang adalah menjatuhkan para ulama. Tapi justru mereka mulai membela Sayyid Quthb, al-Banna, al-Maududi dan selain mereka dari ahlul bid’ah, di sisi lain mereka menjatuhkan para ulama yang bermanhaj salafi dan mensifati mereka sebagai agen, mata-mata atau ulama pemerintah… dan tuduhan-tuduhan lainnya !
Apakah tujuan mereka?! Tujuan mereka adalah menghancurkan manhaj salafi dan membangun kebatilan dan kesesatan di atas reruntuhannya. Dan orang-orang yang mencela sekarang ini, sesungguhnya mereka berkata tentang diri mereka : sesungguhnya mereka adalah salafiyun, kemudian mereka mencela para ulama salafiyah! Apakah yang mereka inginkan? Apakah mereka menginginkan meninggikan bendera/panji Islam? Dan meninggikan bendera sunnah dan manhaj salafi?! Selamanya (tidak)! Selamanya (tidak)! Ini adalah indikasi dan petunjuk bahwasanya mereka adalah pendusta lagi penuduh –apapun yang mereka dakwakan terhadap diri mereka-.
Maka aku mewasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku, dan aku tekankan kepada kalian untuk meninggalkan perpecahan. Wajib atas kalian saling bersaudara dan saling menolong dalam kebenaran. Wajib atas kalian menyebarkan dakwah ini –diantara pada thullab (penuntut ilmu) di Universitas dan selainnya- dengan cara yang shahih dan bentuk yang indah, tidak dengan bentuk yang buruk sebagaimana yang dijalani oleh mereka (mutasyaddidin, pent.)!
Kedepankan dakwah salafiyyah –sebagaimana telah kukatakan pada kalian- dengan rupa yang elok : Allah berfirman, Rasulullah bersabda, sahabat berkata, berkata Syafi’i, Ahmad, Muslim dan selainnya dari para imam-imam islam yang mereka hormati dan agungkan serta mereka fahami ucapannya, semoga Allah memberkahi kalian, hal ini akan menolongmu sampai kepada batas yang jauh.
Sungguh, kalian akan mendapatkan beberapa orang yang menentang, namun tidaklah setiap manusia akan menentang kalian. Bahkan kalian akan mendapatkan mayoritas manusia mau menerima dakwah kalian, baik di sini, di Universitas ini maupun ketika kalian telah pulang ke negeri kalian. Gunakanlah cara-cara yang memikat manusia kepada Kitabullah, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada manhaj salaf sholih, aqidah yang shahihah dan manhaj yang shahih.
Aku meminta kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala supaya Ia menuntun kami dan kalian kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya, dan supaya Ia menjadikan kita da’i-da’i yang yang mukhlish dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipu daya Syaithan baik dari golongan jin dan manusia.
Aku memohon kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala agar Ia menyatukan hati kalian dan mempersatukan kalimat kalian dimanapun kalian berada dan kemanapun kalian pergi. Aku mohon kepada Allah semoga Ia mewujudkannya.
Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Muhammad, keluarganya dan para Sahabatnya.

TANYA JAWAB :

Pertanyaan 1 : Aku menjalankan usaha/pekerjaan pengiriman barang dagangan, apakah boleh bagiku mengirimkan barang dagangan salah seorang pedagang yang menjual semacam mushaf, parfum dan majalah-majalah ilmiah syar’iyah karya para ulama yang terkenal berpegang teguh dengan sunnah –baik yang telah lalu maupun kontemporer- tapi ada beberapa yang menyusup ke dalam barang dagangan ini dari sebagian buku-buku Ahli Bid’ah yang majhul (tidak dikenal)?
Jawaban : Aku memandang bahwa pengirimanmu terhadap kitab-kitab Ahli Bid’ah yang tidak dikenal termasuk tolong menolong dalam kejelekan dan dosa. Aku berpendapat janganlah kau mengirimkannya. Tinggalkan orang itu dan cari lainnya karena pintu-pintu rezeki masih terbuka. Kirimlah barang dagangan sayur-mayur atau kirimlah kebutuhan-kebutuhan lainnya dari perkara yang tidak mengandung syubuhat dan keharaman di dalamnya.

Pertanyaan 2 : Wahai Fadhilatus Syaikh, jika ada seseorang yang melakukan kesalahan yang wajib untuk ditahdzir, maka apakah mengharuskan menasehatinya dulu sebelum mentahdzir (memperingatkan) manusia darinya ataukah tidak harus?
Jawaban : Jika keburukannya telah menyebar, maka bersegeralah menasehatinya dan hal ini lebih bermanfaat namun jika dia mau menerima (maka alhamdulillah, ed.) dan jika tidak maka peringatkanlah ummat darinya. Mungkin dengan nasihat yang baik, mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menjadikan nasihat ini bermanfaat bagi orang itu, sehingga ia ruju’ (kembali) dari kebatilannya dan mengumumkan kesalahannya, Semoga Allah memberkahi kalian. Namun jika anda datang dengan menyodorkannya bantahan-bantahan saja, maka dia sulit untuk menerima! Maka gunakanlah wasilah (cara) yang akan meninggalkan bekas yang baik, karena dirimu ketika menasehati dirinya secara empat mata, dan anda tunjukkan sikap-sikap yang halus kepadanya, maka ia akan ruju’ (kembali) –insya Allah- dan mengumumkan kesalahannya (di depan publik, ed.). Hal ini terdapat kebaikan yang besar dan lebih bermanfaat daripada membantahnya. Oleh karena itu, sesungguhnya aku akan memberikan nasehat pertama kali kepadanya, kemudian sebagian orang yang dinasehati menerimanya dan sebagiannya lagi tidak. Maka, kita –saat itu- dengan terpaksa membantah dirinya.
إذا لم يكن إلا الاسنة مركب فما حيلة المضطر إلا ركوبها
Jika tidak ada kecuali tombak sebagai kendaraan
Maka tidak ada jalan lain bagi yang terpaksa kecuali menaikinya

Pertanyaan 3 : Wahai Fadhilatus Syaikh, kapankah kita menggunakan al-liin (kelemahlembutan)? Dan kapan pula kita menggunakan syiddah (kekerasan) di dalam dakwah kepada Allah, dan di saat bermuamalah terhadap sesama manusia?
Jawaban : Hukum asal di dalam berdakwah adalah al-Liin (lemah lembut), ar-Rifq (ramah) dan al-Hikmah. Inilah hukum asal di dalam berdakwah. Jika anda mendapatkan orang yang menentang, tidak mau menerima kebenaran dan anda tegakkan atasnya hujjah namun dia menolaknya, maka saat itulah anda gunakan ar-Radd (bantahan). Jika anda adalah seorang penguasa –dan pelaku bi’dah ini adalah seorang da’i- maka luruskanlah ia dengan pedang, dan terkadang ia dihukum mati jika ia tetap bersikukuh dengan menyebarkan kesesatannya. Banyak para ulama dari berbagai macam madzhab memandang bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh Ahlul Bid’ah lebih berbahaya dari para perampok. Oleh karena itu ia harus dinasehati kemudian ditegakkan atasnya hujjah. Jika ia enggan maka diserahkan urusannya kepada hakim syar’i untuk dihukum, bisa jadi hukumannya ia dipenjara, atau diasingkan atau bahkan dibunuh.
Para ulama telah memutuskan hukuman terhadap Jahm bin Shofwan, Bisyr al-Marisi dan selainnya dengan hukuman mati, termasuk juga Ja’d bin Dirham. Ini adalah hukum para ulama bagi orang yang menentang dan tetap keras kepala menyebarkan kebid’ahannya, namun jika Allah memberikannya hidayah dan ia mau rujuk/taubat, maka inilah yang diharapkan.

Pertanyaan 4 : Sebagian pemuda berkata : “Sebagaimana kami bertaqlid kepada Syaikh Albani rahimahullahu dalam masalah hadits, maka demikian pula boleh bertaqlid terhadap para imam Jarh wa Ta’dil di zaman kita ini secara mutlak”, apakah perkataan ini benar?
Jawaban : Syaikh Albani –dan para ulama yang lebih besar dari beliau seperti Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa`i- maka orang yang meneliti perkataan dan pendapat mereka terhadap hadits ada dua golongan, yaitu : Adapun orang yang masih jahil dan tidak mungkin baginya menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits, maka dibolehkan bagi mereka bertaqlid. Adapun orang-orang yang mutamakkin (mampu dan kokoh ilmunya), penuntut ilmu yang qowiy (kuat), ‘alim mutamakkin (orang yang ilmunya mantap) yang mampu memilah antara yang shahih dan dha’if, dan dirinya memiliki kemampuan serta ahli dalam memilah-milah antara yang shahih dan dha’if, yang mempelajari biografi rijal (para perawi hadits), mempelajari ilal (cacat hadits), dan lain lain, yang kadang bisa jadi bersesuaian dengan imam tersebut atau menyelisihinya, sesuai dengan pembahasan ilmiah yang tegak di atas manhaj yang shahih dan metodenya Ahli Jarh wa Ta’dil.
Taqlid di dalam masalah Jarh wa ta’dil, semoga Allah memberkahi kalian, adalah : Jika seandainya seorang manusia tidak memiliki kapabilitas ilmu, dia mengambil ucapan Bukhari, Muslim, Abu Dawud (yang berkata) : Fulan kadzdzab (pendusta), Fulan Sayyi`ul Hifzhi (memiliki hafalan yang buruk), Fulan wahin (lemah), Fulan matruk (ditinggalkan), Fulan begini, dan dia tidak mendapatkan seorangpun yang menolaknya, maka diambil perkataannya dikarenakan perkataannya merupakan khobar (berita) bukanlah fatwa. Hendaklah dia menerima perkataannya karena ucapan tersebut merupakan khobar, sedangkan menerima khobar (berita) tsiqot (orang yang kredibel) merupakan perkara yang urgen yang tidak boleh tidak!
Namun, jika ada seorang penuntut ilmu dan dia mendapatkan orang yang menyelisihi seorang ulama yang menjarhnya, kemudian dia temukan imam lainnya telah menyelisihinya dan memujinya, maka pada saat itu ia harus menjelaskan jarhnya. Tidak serta merta langsung diterima ucapan sang Jarih jika ada ulama lain yang menentang tajrih ini.
Jika tidak ada seorangpun yang menentang maka diterima (tajrihnya), dan jika ada yang menentang (jarh tersebut) maka haruslah menerangkan sebab-sebab jarh-nya, semoga Allah memberkahi kalian, dan perkara ini ada di dalam kitab-kitab mustholah dan kitab ulumul hadits.
Perkara ini adalah sesuatu yang sudah ma’ruf (diketahui) oleh para penuntut ilmu, maka rujuklah Muqoddimah Ibnu ash-Sholah, Fathul Mughits dan Tadribur Rawi. Dan rujuklah kitab-kitab yang membahas perkara ini –yaitu Ulumul Hadits dan Ilmu Jarh wa Ta’dil-.

Pertanyaan 5 : Sebagaimana telah anda sebutkan, semoga Allah menjaga anda, apakah mereka (al-Mutasyaddun atau orang-orang yang ekstrim, pent.) memiliki jalan yang benar di dalam berdakwah kepada Allah, apakah mereka, yaitu para da’i yang melempar tuduhan kepada setiap orang dengan tuduhan tamyi’ tanpa ada kesalahan, berada di dalam barisan salafiyin? Kami mengharapkan anda memberikan contoh kepada kami?
Jawaban : Tidak ada yang perlu dicontohkan, namun hal ini memang ada dan kalian telah mengetahuinya! Perkara ini dapat kalian rasakan dan kalian pun mengetahuinya secara pasti. Tidak ragu lagi bahwa hal ini ada. Kita mohon kepada Allah agar Ia menghilangkan fitnah ini, karena sesungguhnya hal ini –demi Allah- telah membahayakan dakwah salafiyah dimana-mana, bukan hanya di sini, namun di seluruh penjuru dunia! Ini adalah madzhab baru yang tidak dikenal Ahlus Sunnah, yaitu menuduh Ahlus Sunnah dengan mumayyi’un –yaitu : mubtadi’ah- dan mematikan Ahlu Sunah itu sendiri.
Aku tidak menganggap mustahil bahwasanya ada diantara orang-orang asing yang menyusup ke dalam manhaj salafi dan salafiyin, karena hal ini suatu hal yang telah diketahui secara pasti termasuk cara-caranya Ahlul Hawa’ (pengikut hawa nafsu) yang mana mereka menyusup ke dalam barisan salafiyin. Yahudi pun juga menyusupkan ke dalam barisan kaum muslimin para penyusup yang menyesatkan. Dan pasti mereka juga berpakaian dengan pakaian salafi jika memang perkaranya berkaitan dengan salafiyin.
Anda lihat banyak Ahlul Bid’ah mendakwakan diri mereka sebagai salafiyin, bahkan mereka mendakwakannya dengan semangat yang meluap-luap dan kekuatan. Mereka mempertahankannya dari anda, mereka adalah orang-orang yang tak dapat anda percayai, -semoga Allah memberkahi anda-. Bahkan anda temui di dalam kaum muslimin –di seluruh dunia- adanya orang-orang yang meyelinap masuk dengan nama Islam, hal ini adalah perkara yang sudah dikenal, tetapi hanya orang-orang yang cerdik sajalah yang mengetahui mereka, yang mengetahui perihal mereka, sikap mereka dan tindakan mereka, dengan qarinah (indikasi/petunjuk) dalil. Semoga Allah memberkahi kalian memberi taufiq kepada kalian.

Pertanyaan 6 : Sebagian pemuda membagi para ulama salafiyin menjadi ulama syari’at dan ulama manhaj, apakah pembagian ini benar?
Jawaban : Ini salah! -Semoga Allah memberkahi kalian-, namun dengan spesialisasi hukumnya seseorang dapat mengetahui syari’at yang terkadang melebihi lainnya disebabkan perhatiannya terhadap manhaj serta apa yang menyelisihi manhaj tersebut beserta orang-orangnya.
Dan ulama lainnya, ia memiliki perhatian dan pengetahuan, namun ia tidak memiliki spesialisasi dalam segala hal, terutama jika yang lainnya menyelisihinya –semoga Allah memberkahi kalian-.
Tinggalkan pemilahan seperti ini, karena asal pemilahan bersumber dari Ahlul Bid’ah, (yang membagi ulama menjadi) fuqoha’ (Ahli Fikih) yang faham waqi’ (realita) dan fuqoha’ yang tidak faham waqi’! ini adalah pemisahan baru yang sekarang ada di dalam barisan salafiyin, padahal tidak sepatutnya ada.
Mereka menghendaki mencela Ibnu Baz dan ulama-ulama yang ada. Mereka berkata : ‘Para ulama itu tidak tahu waqi’!’ Jika mereka (Ahlul Bid’ah, pent.) berbicara tentang perkara kontemporer dan problematika yang dihadapi dan menimpa kaum muslimin yang terjadi saat ini, mereka berkata : ‘Para ulama itu tidak faham waqi’!!!’. Celaan ini adalah celaan yang sangat berbahaya, untuk mengaburkan manusia bahwa masalah ini adalah khusus bagi mereka (yang sanggup menanganinya, ed.).
Pertanyaan 7 : Apakah boleh kita menghajr (mengisolasi/memboikot) orang-orang yang menyalami Ahlul Bid’ah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, harokiyin dan takfiriyin, mereka bermajlis dengan mereka dengan tetap mengakui bahwa mereka adalah mubtadi’, namun mereka menjauhkan manusia dari ilmu Jarh wa Ta’dil?
Jawaban : Bagaimana mereka bermajlis dengannya?? Apakah Salafiyun bermajlis dengan Ahlul Bid’ah?? Jika ditemukan ada seorang salafi yang kuat, dan ia mampu untuk menyampaikan dakwah kepada Ahlul Bid’ah dan kelompok-kelompok (lainnya) dengan hujjah dan burhan, mampu mempengaruhi mereka dan bukan mereka yang mempengaruhinya, maka ini merupakan kewajibannya supaya dia bercampur dengan mereka dalam rangka mendakwahi mereka, bukan dalam rangka makan dan minum bersama mereka, bukan pula untuk bermudahanah (menjilat/berpura-pura), bukan pula untuk sesuatu dari urusan agama, bukan pula untuk menyetujui kebatilan mereka. Sesungguhnya dia berkumpul dengan mereka di masjid untuk mendakwahinya, berkumpul dengan mereka di pasar untuk mendakwahinya, dan pergi naik mobil, pesawat atau kereta api besertanya untuk mendakwahinya.
Dia berdakwah dan mau tidak mau dia harus bercampur dengan mereka, yang dia tak dapat terbebas dari mereka, karena Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’ adalah jauh lebih banyak, sedangkan salafiyun bagaikan rambut putih pada kerbau hitam, semoga Allah memberkahi kalian, maka mau tidak mau salafiyun berbaur dengan mereka, namun apakah kewajibannya? Kewajibannya adalah, menyampaikan dakwah kepada Allah dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik. Jika orang ini berdiam diri di rumahnya dengan dalih menghajr Ahlul Bid’ah! Maka hal ini dapat mematikan dakwah!!
Contohnya, ada seorang manusia yang jahil dan pribadinya lemah, jika dia mendengar syubhat yang kecil saja dengan serta merta dia mengambilnya, maka sepatutnya orang ini menyelamatkan diri dari Ahlu Syubhat dan Ahlu Bid’ah, menjauhi mereka dan tidak bermajlis dengan mereka. Namun jika ada seseorang yang mengujimu dengan mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salamnya : wa ‘alayka as-Salam. Tapi, jika anda bermajlis dengan mereka, makan-makan dengan mereka, bercanda dengan mereka dan bercengkerama dengan mereka, maka anda dalam hal ini telah melakukan kesalahan! Karena apa yang anda kerjakan menyelisihi manhaj salafi dan sunnah.
Sekarang… saya –Rabi’ misalnya-, tidaklah diriku melihat seorang mubtadi’ kecuali aku akan lari darinya! Dan aku tidak tau kenapa!! Fulan, fulan atau fulan dari para penuntut ilmu –misalnya-, tidaklah dia melihat seorang mubtadi’ melainkan ia lari darinya! Dia tidak mau melihatnya atau memandang wajahnya dari depan rumahnya melainkan ia menyembunyikan dirinya, jika ia melihatnya di suatu jalan, maka ia akan menghindar ke jalan yang lain. Yang demikian ini bukanlah jalannya salafi. Para sahabat dulu mereka menyebar diantara kaum kuffar di seluruh penjuru bumi, dan mereka menyebarkan agama Allah kepada mereka, semoga Allah memberkah kalian.
Salafiyun sebelum kita, mereka juga menyebar -seperti para sahabat- di tengah-tengah Ahlul Bid’ah, mereka mempengaruhi Ahlul Bid’ah, dan masuklah beibu-ribu manusia ke dalam haribaan manhaj salafi. Maka barangsiapa yang memiliki pemahaman dan kepribadian yang kuat serta ilmu yang mantap, hendaknya dia menegakkan hujjah dan mendakwahi mereka dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik. Maka anda akan lihat pengaruh hal ini.
Adapun orang yang lemah, Demi Allah! janganlah dia bercampur sedikitpun dengan mereka, namun jika ia diuji dengan salam maka wajib atasnya menjawab salam, tidaklah mengapa ia melakukannya, jika tidak apa yang ia lakukan? Namun, janganlah ia becampur dan jangan pula bermajlis dengan mereka.

Pertanyaan 8 : Bagaimana cara bermua’amalah terhadap seseorang yang berpendapat : ‘Sesungguhnya fulan telah dikatakan mubtadi’ oleh ulama, namun dia hanya menyalahkannya saja dan tidak mengeluarkannya dari lingkaran Ahlus Sunnah’? Dan manhaj baru ini mulai tampak setelah wafatnya para ulama senior seperti Albani, Ibnu Baz dan al-Utsaimin –semoga Allah merahmati mereka semua-.
Jawaban : Iya, manhaj ini memang baru-baru ini berkembang. Kalian memiliki ilmu dari Jarh wa Ta’dil –perkataan yang tadi telah kami utarakan-: ada manusia menjarh seseorang dan ada manusia tidak menjarhnya, ada manusia yang memujinya dan membela orang yang dijarh ini, dan kita meminta kepada orang yang menjarh tafsir (penjelasan sebab jarhnya, pent.). Jika ia menjelaskan sebab-sebab jarhnya secara benar maka wajib mengikutinya, karena hal ini termasuk mengikuti yang benar dan membantah orang-orang yang tidak memiliki kebenaran dan orang itu menolak kebenaran.
Hakikat Jarh wa Ta’dil itu sendiri didapatkan di sini, mereka menjarh seseorang namun jarhnya tanpa disertai hujjah maka sungguh ucapannya tidak bernilai. Jika mereka menjarh dengan hujjah maka wajib bagi orang yang menyelisihi mereka (orang yang menjarh, pent.) ini untuk mengakui kebenaran dan kembali kepada al-Haq, dan dia mengambilnya dengan hujjah, semoga Allah memberkahi kalian. Betapa banyak orang-orang yang mendustakan kebenaran dan menolaknya. Dan hal ini sungguh merupakan perkara yang besar dan sangat berbahaya.
Dan demikianlah –sebagaimana telah kukatakan pada kalian-, inilah dia kaidah di dalam Jarh wa Ta’dil, yaitu dituntut orang yang menjarh penjelasan (tafsir) jarhnya dan bayyinah (keterangan) atasnya jika mereka tidak memiliki bayyinah, namun jika mereka memiliki bayyinah dan dalil, maka ia menjadi hujjah dan mengikuti kebenaran, dan selesailah segala perkara.

Pertanyaan 9 : Semoga Allah memberi anda pahala, jika ada seorang ulama menghukumi seseorang bahwa ia adalah seorang mubtadi’, apakah dimutlakkan pula hukum ini terhadap pengikutnya yang mengikuti syaikhnya, mereka berdalih bahwa syaikh mereka hanya melakukan kesalahan biasa dan tidak perlu membid’ahkannya?
Jawaban : Dikembalikan pada pertanyaan pertama tadi, jika ulama tadi yang membid’ahkan orang ini memiliki hujjah atas tabdi’nya, maka wajib atas murid-muridnya dan setiap orang yang meneliti perkara ini mau mengambil kebenaran ini. Tidak boleh bagi mereka membelanya.

أسأل الله أن يؤلف بين قلوبكم ، أسأل الله أن يجمع كلمتكم على الحق ، أسأل الله أن يُذهب عنكم كيد الشيطان ، واجتهدوا ـ ماذا ستنتظرون من الدعاء – أبذلوا الأسباب أنتم ـ إي والله ـ أبذلوا الأسباب في استئصال شأفت الفرقة واسبابها ، وفقكم الله ، وسدد خطاكم ـ حياكم الله ـ شوف والله الأعداء فرحانين ، والله الدعوة السلفية توقفت ، والله ضُربت يا أخوان فاتقوا الله في أنفسكم واتقوا الله في هذه الدعوة ، وابذلوا الأسباب التي تمحو هذه الأباطيل وهذه الفتن ـ بارك الله فيكم ـ حياكم الله ـ
Aku memohon kepada Allah untuk mempererat hati kalian.
Aku memohon kepada Allah untuk mempersatukan kalimat kalian di atas kebenaran.
Aku memohon kepada Allah untuk menghilangkan tipu daya syaithan dari kalian.
Dan bersungguh-sungguhlah kalian untuk mewujudkan sebab-sebab (persatuan) ini, dan cabutlah sampai ke akar-akarnya sebab-sebab duri/luka perpecahan yang telah mendarah daging ini.
Semoga Allah menuntun kalian dan meluruskan langkah-langkah kalian –hayyakumullahu-
Lihatlah musuh-musuh kalian bergembira! Sesungguhnya dakwah salafiyah dihentikan dan diganggu –wahai saudaraku sekalian-, maka bertakwalah kalian kepada Allah terhadap (perihal) diri-diri kalian, dan bertakwalah kepada Allah terhadap dakwah ini. Dan wujudkalah semua sebab-sebab yang dapat menumpas segala kebatilan dan fitnah ini.
Barokallahu fiikum wa Hayyaakumullahu.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: