”Sahabat dan Tabi’in Berhujjah dengan Manhaj Salaf (Sahabat)”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu) Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba’du, (adapun selanjutnya)
Ini adalah penerapan dari Tiga Pondasi Dasar yang telah kita pelajari. Dan ini adalah penerapan kaidah yang kami sebutkan yaitu ”Mengikuti Al-Quran, As-Sunnah dan Mengikuti Sahabat.” dan ini adalah penjelasan atau penyempurna dan inilah bukti yang kuat, bahwa para Ulama tidaklah membuat hal ini tanpa dasar dari para Sahabat tetapi hal ini sudah dipraktekkan sendiri oleh Para Sahabat Radhiyallahu’anhu ajmain. Diantara Sahabat yang berhujjah dengan Manhaj Sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhu dan ini diikuti oleh orang – orang setelah generasi para sahabat. Dan sampai kepada kita sekarang ini. Kami cukuplah membawakan tetang Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu.

Mari kita lihat atsar yang dinukil oleh al-Muhaddits (Ahli Hadits) al-Allamah asy-Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali hafizhullah, atsar ini tercantum didalam kitab Syaikh yang berjudul ”Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, hal 160 – 162” dan Kitab Syaikh yang berjudul ”Al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayi’ fi Al-Ummah hal 29 -33, cet-III”

Riwayat Atsar nya sebagai berikut
Dari ‘Amr bin Salamah, beliau berkata : “Kami duduk – duduk didepan rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu sebelum Zuhur. Jika dia (Abdullah bin Mas’ud) keluar, kami akan berjalan bersamanya ke Masjid. Lalu datanglah Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu’anhu seraya berkata : “Apakah Abu Abdurrahman (nama kunyah Abdullah bin Mas’ud yaitu Abu Abdurrahman) telah keluar menemui kalian?”

Kami menjawab : “Belum”, Lalu beliau (Abu Musa) duduk bersama kami sampai Abdullah bin Mas’ud keluar. Ketika keluar, kami semua menemuinya. Kemudian Abu Musa al-Asy’ari berkata kepadanya : “Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), saya telah melihat di masjid tadi satu hal yang saya anggap mungkar dan saya tidak memandangnya –Alhamdulillah- kecuali kebaikkan.”
Beliau (Abdullah bin Mas’ud) bertanya : “Apa itu?”
Abu Musa menjawab : “Jika engkau hidup niscaya akan melihatnya, aku telah melihat di masjid suatu kaum terbagi beberapa halaqah (kelompok yg melingkaran), mereka duduk menanti shalat. Pada setiap halaqah (kelompok) ada seorang yang memimpin, dan ditangan – tangan mereka ada batu kerikil. Setiap pemimpin halaqah berkata : “Bertakbirlah seratus kali” Maka mereka bertakbir seratus kali. Pemimpin halaqah berkata lagi : “Bertahlillah seratus kali” Merekapun bertahlil seratus kali. Kemudian sang pemimpin berkata lagi : “Bertasbihlah seratus kali” Maka mereka bertasbih seratus kali”
Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”
Abu Musa berkata : “Saya tidak mengatakan apapun kepada mereka, karena mengunggu perintah mu.”
Abdullah bin Mas’ud berkata (dengan keras) : “Mengapa tidak kamu perintahkan supaya mereka menghitung kejelekan mereka? Aku jamin tidak akan ada kebaikkan mereka yang hilang.”
Kemudian beliau (Abdullah bin Mas’ud) berjalan. Kamipun berjalan mengikutinya sampai beliau mendatangi satu halaqah (dzikir) diantara halaqah – halaqah itu. Beliau berdiri dihadapan mereka seraya berkata : “Apa ini yang kalian lakukan?”
Mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud) batu kerikil yang kami pakai untuk menghitung tahlil dan tasbih”
Abdullah bin Mas’ud berkata : “Harusnya, hitunglah kejelekan – kejelekan kalian! Aku jamin tidak ada satupun kebaikkan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. (perhatikan perkataan ini) para Sahabat Nabi masih banyak yang hidup!! Dan ini pakaian Nabi belum rusak, bejananya belum hancur! Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, apakah sesungguhnya kalian berada dalam suatu agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan?”
Mereka berkata : “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), kami tidak menginginkan apa – apa kecuali kebaikkan.”
Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sungguh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam telah bersabda : “Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca al-Quran namun tidak melebihi tenggorokannya.” Demi Allah, saya tidak tahu, jangan – jangan kebanyakan kaum yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam ini adalah kalian” Kemudian beliau meninggalkan mereka.
‘Amr bin Salamah selanjutnya berkata : “Ternyata aku lihat mayoritas anggota (yang mengikuti) halaqah – halaqah tersebut (kelak) bersama kaum Khawarij memerangi kami pada perang Nahrawan.”

Faidah – Faidah (Pelajaran) yang dapat diambil.
1. Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly berkata : “Sesungguhnya mereka (orang yang berkelompok itu) tidak berbuat sebagaimana perbuatan para sahabat. Seandainya perbuatan mereka baik, seperti yang mereka sangka, tentu para Sahabat Nabi telah lebih dahulu melakukan nya. Oleh sebab itu, ketika para Sahabat tidak melakukan nya, berarti apa yang mereka lakukan adalah kesesatan.”

2. Ini menunjukkan bahwa Sahabat Abdullah bin Mas’ud, berhujjah dengan manhaj Sahabat. Karena tidak ada pembesar seorang sahabat pun yang duduk bersama mereka. Darimana kita dapat melihat, dari pertanyaan Abdullah bin Mas’ud kepada Sahabat Abu Musa,
Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?” Abu Musa berkata : “Saya tidak mengatakan apapun kepada mereka, karena mengunggu perintah mu.”

Maka dari itu dengan tegas Abdullah bin Mas’ud berkata kepada mereka (orang berdzikir itu)

“Harusnya, hitunglah kejelekan – kejelekan kalian! Aku jamin tidak ada satupun kebaikkan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. (perhatikan perkataan ini) para Sahabat Nabi masih banyak yang hidup!! Dan ini pakaian Nabi belum rusak, bejananya belum hancur! Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, apakah sesungguhnya kalian berada dalam suatu agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan?”

3. Tidak semua apa yang kita katakan itu baik menurut kita, baik pula menurut Allah dan Rasul-Nya. Ada didalam al-Quran, ada didalam Hadits tetapi mereka memahami nya tidak dengan pemahaman Sahabat maka itupun kesesatan, Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud dan orang berdzikir itu.

Mereka berkata : “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), kami tidak menginginkan apa – apa kecuali kebaikkan.”

Maka perhatikanlah apa yang dijawab oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sungguh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam telah bersabda : “Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca al-Quran namun tidak melebihi tenggorokannya.” Demi Allah, saya tidak tahu, jangan – jangan kebanyakan kaum yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam ini adalah kalian” Kemudian beliau (pergi) meninggalkan mereka.

Maka dari itu, ini adalah senjata seorang muslim, jika seseorang diajak untuk mengamalkan sesuatu maka tanyakanlah,

”Apakah ini ada didalam al-Quran…?
Apakah ini ada didalam as-Sunnah yang Shahih…?
Apakah ini pernah diamalkan para Sahabat…?”

Jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Maka berpalinglah karena Amal itu harus dengan Ilmu.

Katakanlah kepada mereka

”Lau Kaana Khairan Lasabakuunaa Ilaihi”
(Kalau sekiranya perbuat itu baik tentulah para Sahabat telah mendahului kita mengamalkan nya)

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: