JANGAN MERASA BENAR SENDIRI

JANGAN MERASA BENAR SENDIRI
Ditulis Oleh
Abu Yahya Badrussalam Lc

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan : “sudahlah, jangan merasa benar sendiri !” sehingga menjadi pertanyaan pada benak banyak orang, apakah perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas kilah
yang tak beralaskan pada dalil ? Tentunya hal ini harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadits atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut.

Cobalah kita buka surat An-Nisaa : 59
“Artinya : Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rosul (assunnah) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian..”
Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib dikembalikan kepada Allah dan RosulNya, Allah tidak mengatakan :

“Jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengembalikannya kepada Al Qur’an dan sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan Al Qur’an dan sunnah”

Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah diantara mereka yang mengatakan, ” jangan merasa benar sendiri !”
Seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam kitab Syarah I’tiqod Ahlissunnah dengan sanad yang shohih dan Addarimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas’ud mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjama’ah dengan memakai kerikil dan berkata

:”Celaka kamu Umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian….apakah kamu merasa diatas millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan ? kemudian mereka berkata : “sesungguhnya kami menginginkan kebaikan” . Beliau berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya (karena caranya salah, pen)”. dalam kisah tersebut tidak dikatakan : jangan kamu merasa benar sendiri.

Demikian pula para Tabi’in, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam sunannya,Abdurrozaq, Ad Darimi dan Ibnu Nashr bahwa Sa’id bin Musayyib melihat seorang laki-laki sholat setelah terbit fajar lebih dari dua roka’at lalu Sa’id melarangnya, kemudian orang itu berkata : ” wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzab saya gara-gara sholat ? beliau menjawab “Tidak, tapi Allah akan mengadzabmu karena menyalahi sunnah”. Tidak pula dikatakan padanya : jangan merasa benar sendiri.

Demikian pula Tabi’ut Tabi’in dan para ulama setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mreka yang mengatakan ” jangan merasa benar sendiri”. Disebutkan dalam kisah yang shohih bahwa Imam Asy Syafi’i mendebat Imam Ahmad dalam masalah hukum orang yang meninggalkan
sholat, dimana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat kafir murtad dari agama Islam sedangkan Imam Asy Syafi’i tidak mengkafirkannya, tapi Imam Asy Syafi’i tidak pernah mengatakan : ” jangan merasa benar sendiri” tapi yang dikatakan oleh
Imam Asy Syafi’i adalah : “Tidaklah aku berdialog dengan seorangpun kecuali aku berkata : Ya Allah alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku,ia mau mengikutiku dan jika kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya”.

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan, Imam Ahmad menulis kitab Arrodd alal Jahmiyyah (bantahan terhadap Jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd ‘alal qodariyyah (bantahan terhadap Al Qodariyyah), Ad Darimi menulis kitab Roddu
Utsman Ad Darimi ‘ala Bisyir Al Marisi Adl Dlooll (bantahan Utsman Ad Darimi terhadap Bisyir Al Marisi yang sesat) dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun diantara mereka yang berkata : “jangan merasa benar sendiri”. Coba anda renungkan
perkataan Abu Isma’il Abdullah bin Muhammad Al Anshori “Pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : “Diamlah dari orang yang menyelisihmu !! aku tetap menjawab “Aku tidak akan pernah diam ..”

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan ” Jangan merasa benar sendiri” : “Apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut ? tentu ia berkata : “Ya”, Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri, jelas ini kontradiktif yang fatal.
Meluruskan Pemahaman

Sebagian orang ada yang berdalil dengan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu sholat kecuali di Bani Quroidzoh, kemudian ditengah jalan masuk waktu ashar, maka sebagian mereka berkata “Kita sholat disana”. Sebagian lagi berkata : “Kita sholat dijalan, beliau tidak bermaksud demikian”. Lalu disebutkan hal itu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tapi beliau tidak mencela seorangpun dari mereka.

Al Hafidz ibnu Hajar dalam fathul Bari (7/409-410)
berkata, “Berdalil dengan kisah ini untuk mengatakan bahwa setiap mujtahid itu benar adalah pendalilan yang tidak jelas, hadist ini hanya menunjukkan bahwa beliau tidak mencela orang yang memberikan kesungguhan untuk berijtihad”. Hal ini menunjukkan kepada dua perkara:

Pertama : Pendapat yang mengatakan bahwa setiap mujtahid itu benar adalah pendapat yang bathil, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist ijtihad (yaitu hadits: “Apabila Hakim berijtihad kemudian benar maka ia mendapat dua pahala dan apabila salah maka ia mendapatkan satu pahala”). Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya
menyebutkan benar atau salah tidak mengatakan bahwa dua-duanya benar.

Kedua : Bahwa perkara ini khusus para mujtahid, adapun bila telah nyata bahwa mujtahid itu salah dalam ijtihadnya maka haram kita mengikuti kesalahannya tersebut.
Sebagian lagi ada yang berhujjah dengan hadits : “Perselisihan umatku adalah rahmat”.
Padahal hadist ini dinyatakan oleh para ahli hadits sebagai hadits yang tidak ada asal usulnya. lihat silsilah dlo’ifah I/76-85) Ibni Hazm berkata : ” ini adalah perkataan yang sangat rusak, sebab jika perselisihan itu rahmat berarti persatuannya adalah adzab, jelas ini
tidak akan di katakan oleh seorang muslimpun, karena tidak ada kecuali berselisih atau bersatu ” (Al Ihkamul fi ushulil fiqih 4/64).

Bahkan secara akalpun pernyataan bahwa ikhtilaf (perselisihan) adalah rahmat adalah bathil, sebab kita semua tahu bahwa tujuan musyawarah adalahlah untuk mencari mufakat, bila perselisihan itu rahmat, maka seharusnya musyawarah tujuannya adalah supaya
berselisih karena ia adalah rahmat. Dan ini jelas batil bagi orang yang berakal.

Sebagian lagi ada yang berkata :”Sudahlah selama itu masih di perselisihkan oleh para ulama tidak perlu kita merasa benar sendiri, sehingga perselisihan ulama dijadikan hujjah untuk membolehkan pendapatnya, padahal Allah subhanahu wata’ala menyuruh kita untuk
mencari pendapat yang lebih dekata kepada Al Qur’an dan As sunnah. Pendapat ini telah disanggah oleh para ulama di antaranya adalah Imam Ibnu Abdil Barr, beliau berkata “Perselisihan ulama bukan hujjah menurut seluruh para ulama yang kami ketahui” (Jami ul bayan 2/229)

Al Khaththabi berkata : “Ikhtilaf ulama bukan hujjah tapi menjelaskan sunnah adalah hujjah dari zaman dahulu sampai sekarang”. (A’lamul Hadits 3/2092).
Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak boleh seorang pun berhujjah dengan pendapat seseorang dalam perkara yang masih di perselisihkan, karena hujjah itu hanyalah nash,ijma dan dalil yang diambil dari keduanya, bukan diambil dari pendapat ulama karena pendapat ulama dijadikan hujjah bila sesuai dengan dalil syari’at dan tidak boleh dijadikan hujjah untuk menolak dalil syari’at “. (Majmu fatawa 26/202-203).

Demikian pula para ulama ushul fiqih telah membahas suatu bab ilmu ushul fiqih yang bernama bab Tarjih yaitu tata cara memilih pendapat yang paling kuat,bila sebatas perselisihan ulama dapat dijadikan alasan tentulah pembahasan maslah tarjih tidak akan ada manfaatnya.

Bahkan berhujjah dengan perselisihan para ulama pada zaman sekarang di gunakan oleh aliran sesat yang bernama JIL (Jaringan Islam Liberal) dimana mereka selalu membawakan pendapat ulama yang sesuai dengan seleranya. Hal ini menunjukkan bahwa berhujjah dengan perselisihan ulama adalah membuka pintu bagi orang-orang sesat untuk berkilah dan membenarkan pendapatnya. Sungguh benar perkataan seorang ulama salaf : ” Barang siapa yang mencari-cari rukhsoh para ulama ia akan menjadi zindiq”.

Jadi merasa benar dengan pendapatnya yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung oleh ijma ulama adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan fatal. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya.
Wallahu alam.

Rujukan
Zajrul Matahawin

Ilmu Ushul Bida’,
Majmu Fatawa dll.

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: