Cara Beragama yang Shahih…?

Bekal Menuju Jalan yang Lurus -Shirathal Mustaqim-….bag 1 (Tiga Pondasi Dasar dalam Mengikuti Shirathal Mustaqim)

Pondasi Pertama : ”Mengikuti al-Quran dan mengamalkan nya”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu) Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba’du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku… semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus yaitu jalan orang – orang yang Allah berkenikmatan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya didalam al-Quran surat Al-Fatihah.

”Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Q.S Al-Fatihah ayat 6 -7)

Jika engkau bertanya, Siapakah orang – orang yang telah diberi rahmat oleh Allah…? mereka adalah para Nabi, para Shiddiiqiin, orang yang mati syahid dan orang shaleh. Sebagaimana firman-Nya.

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S 4. An Nisaa’ ayat 69 – 70)

Wahai saudara ku… -semoga Allah merahmati kita semua- Perhatikanlah pembahasan ini dan pembahasan sebelum nya (Islam Agama yang Haq…), karena pembahasan ini adalah pokok agama. Pondasi dasar dari agama mu, jika engkau tidak mengindahkan apa yang kami bawakan ini. Niscaya engkau tidak akan selamat dan jalan yang luruspun tertutup bagi dirimu.

Ketahuilah, jalan yang Lurus itu hanya satu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Q.S 6 Al-An’aam ayat 153)

”Lafaz Sirat atau Jalan-Nya didalam ayat ini. Ini dalam bentuk tunggal karena perkara yang haq itu hanya satu. Lafazh Subul bentuk jamak dari Sabil, Sabil adalah bentuk tunggal. Sedangkan Subul adalah bentuk jamaknya. Subul adalah jalan – jalan yang bercabang – cabang dan bercerai berai.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Jalan inilah yang selalu kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala minimal 17 kali dalam sehari semalam didalam Shalat lima waktu, yaitu didalam surat Al-Fatihah ayat 6.

”Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (Q.S 1 Al-Fatihah ayat 6)

Apakah jalan lurus itu….?
”(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Q.S 1 Al-Fatihah ayat 7)

Siapa mereka…?
Orang yang diberi nikmat itu adalah para Nabi, para Shiddiiqiin, orang yang mati Syahid dimedan perang dan orang Shaleh.

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 69 – 70)

Dengan demikian maka jelaslah bagi kita bahwa, jalan yang lurus itu (Islam yang Shahih) adalah jalan nya para Nabi, para Shidiiqiin, para Syuhada, para Shalihin. Mereka itulah orang yang Allah bernikmat.

Lalu timbul pertanyaan…? Bagaimana meniti Jalan mereka itu (jalan yang lurus itu). Karena pada zaman sekarang betapa banyak nya orang yang mengajak kepada Islam tetapi hanya kedok saja.
Semoga Allah menyelamatkan kita semua dan menjaga kita semua dari mereka.

Ketahuilah… wahai saudaraku…
Barangsiapa yang ingin meniti jalan yang lurus yaitu Islam yang Shahih (yang benar) maka hendaklah ia mengikuti tiga pondasi dasar ini. Yaitu Pertama : Mengikuti Al-Quran, Kedua : Mengikuti As-Sunnah (Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam), dan yang Ketiga : Mengikuti Manhaj Sahabat dan Orang – Orang yang mengikuti mereka dengan baik yaitu Tabi’in, Tabi’ Tabi’in, Baik mengikuti mereka dalam Ilmu, Amal dan Dakwah mapun yang lain nya.

Kita Masuki Pembahasan yang pertama yaitu Mengikuti Al-Quran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup manusia, firman-Nya

”Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (Q.S 2.Al-Baqarah ayat 1 – 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita dan mewajibkan kepada kita untuk mengikuti Al-Quran, sebagaimana firman-Nya.

”Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (yaitu Al-Quran) sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (Q.S 39 Az-Zumar ayat 55)

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Q.S 10 Yunus ayat 108 – 109)

”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Q.S 7 Al-A’raaf ayat 3) ”Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Q.S 6 Al-An’aam ayat 155)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam terhadap orang yang berpaling dari al-Quran ”Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Q.S 43 Az-Zukhruf ayat 36 – 37)

”Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” (Q.S 72 Jin ayat 17)

”Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.” (Q.S 20 Thaahaa ayat 100 – 101)

Kesimpulan
Suatu kesimpulan yang dapat kita tarik dari ayat – ayat yang mulia ini, yang telah kami sebutkan diatas adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kepada orang – orang beriman untuk mengikuti Al-Quran yang telah diturunkan kepada mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam dengan ancaman yang sangat keras bagi orang – orang yang berpaling dari al-Quran. Maka dari itu Wajib Hukum nya Mengikuti Al-Quran, karena al-Quran adalah petunjuk dan menjadi sebab kemulian bagi orang yang mengikuti nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab (Al-Quran) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S 21. Al Anbiyaa’ ayat 10)

Dengan demikian pondasi pertama didalam meniti jalan yang lurus adalah mengikuti al-Quran dan selalu merujuk kepada al-Quran dan ini adalah permasalahan yang sangat jelas.

Pondasi Kedua : ”Mengikuti as-Sunnah (Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam) yang Shahih”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu) Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba’du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku… semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus. Alhamdulillah, kita sudah mengetahui pondasi yang pertama, yaitu mengikuti al-Quran. Sekarang kita masuk kepada pondasi yang kedua, yaitu Mengikuti As-Sunnah (Hadit) yang Shahih.

Wahai Saudara ku -semoga Allah menjaga kita semua- Al-Quran tidak bisa berdiri sendiri, al-Quran tidak bisa dipahami sendiri, al-Quran tidak bisa diamalkan dengan sendirinya kecuali harus ada yang menafsirkan al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, sebagai penafsir al-Quran.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Q.S 16 An-Nahl ayat 44)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sebagai timbangan ketaatan kepada-Nya. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka hendaknya dia mengikuti Rasulullah, dan barangsiapa yang Taat kepada Rasulullah, maka dia telah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Katakanlah (Muhammad kepada Mereka) : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S 3 Ali Imran ayat 31 – 32)

”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 80)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikkan (menghilangkan) keimanan bagi orang – orang yang tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sebagaimana firman-Nya.

”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 65)

Kesimpulan nya : Salah satu bentuk mengikuti al-Quran adalah mengikuti as-Sunnah. Mengikuti al-Quran saja tidak cukup, karena al-Quran tidak bisa kita amalkan kecuali dengan as-Sunnah (Hadit Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam). Dengan demikian maka wajib hukum nya mengikuti As-Sunnah yang Shahih. Selalu merujuk kepada kedua nya, ini adalah sumber yang bersih dan ma’sum (terbebas kekeliruan). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita mengembalikan semua perkara kepada kedua nya, yaitu al-Quran dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S 4 An-Nisaa’ ayat 59)

Peringatan.
Seorang muslim yang masih lurus dan masih bersih di atas fitrahnya, maka tidak ada yang mengingkari hal ini. Namun sangat kita sayangkan… ada diantara kelompok yang mengatakan mereka dari Islam tetaoi mereka mengingkari Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Kami bawakan ini supaya kita bisa berhati – hati terhadapa mereka. Dan membentengi diri dari mereka. Mereka ini Inkaras Sunnah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sudah memberitahukan kepada kita, 14 abad yang lalu, sebelum orang – orang ini (Inkar Sunnah) ini muncul. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

” Telah dekat datangnya masa, seorang laki – laki yang bersandar pada difan yang penuh hiasan, sambil berbicara mengenai hadits dari hadits – hadits ku, tetapi dia mengatakan kepada orang – orang di sekeliling nya : ”Diantara kami dan kamu sekalian hanya ada Kitabullah (Al-Quran). Apa yang kita temui dari sesuatu yang dihalalkan dalam kitab itu, maka kitapun menghalalkan nya dan apa yang kita temui dari sesuatu yang diharamkan, maka kitapun mengharamkan nya.” (Selanjtnya Rasulullah bersabda) ”Ketahuilah, bahwa apa yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama seperti apa yang diharamkan Allah.” (Hadits Shahih, Di Shahihkan oleh Imam Al-Albani, dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan yang lain nya)

Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.
Perlu kami beritahukan as-Sunnah (atau Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam) adalah merupakan wahyu yang Allah turunkan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S 2. Al Baqarah ayat 231)

”Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S 53 An-Najm ayat 3 – 4)

Imam Ibnu Katsir berkata : ”Apa yang diucapkan nya itu bukanlah keluar dari hawa nafsunya dan bukan pula karena dilatarbelakangi tujuan. Sesungguhnya ucapan yang diucapkan nya itu hanyalah semat-mata berdasarkan wahyu yang diperintahkan kepadanya untuk ia sampaikan kepada manusia dengan sempurna dan apa adanya tanpa penambahan dan pengurangan.” selanjutnya Imam Ibnu Katsir membawakan beberapa hadits. Insa’ Allah akan kami sebutkan diantar nya

Maka perhatikan hadits ini baik – baik, semoga Allah memperjelas permasalahan ini bagi kita.

Abdullah bin Amr Radhiyallahu’anhu yang mengatakan (atau menceritakan) bahwa ia mencatat semua yang pernah ia dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan maksud untuk menghafalkan nya. Kemudian orang Quraisy melarangku berbuat demikian. Mereka (orang Yahudi) mengatakan, ”Sesungguhnya kamu mencatat semua yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah seorang manusia yang juga berbicara di saat emosinya.” (Kata Abdullah bin Amr) Maka aku menahan diri dari memulis, kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Dan Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda.
”(Tulislah) Teruskan tulisan mu, Demi Tuhan yang jiwa ku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak ada yang keluar dari mulutku (lisanku) melainkan hanya kebenaran semata.” (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Imam Ahmad)

Dan Hadits yang lain nya, Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda. “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (As-Sunnah).” (Hadits Shahih, Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 6 / 8, Imam Abu Daud, 4604 dan Imam Tirmidzi, 2660)

Maka dari itu, jika ada orang yang menolak hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam yang telah sah datang nya dari beliau menurut para ulama ahli Hadits. Maka ketahuilah mereka telah sesat dan menyesatkan dan yang mereka ikuti bukanlah Islam. Karena Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Barbahari didalam kitabnya.

Kenapa Islam adalah as-Sunnah dan as-Sunnah adalah Islam….? Karena seorang muslim yang tidak berpegang kepada Sunnah, maka ia tidak akan bisa mengamalkan Islam. Saya berikan contoh.
Shalat adalah ibadah yang paling agung didalam Islam dan bahkan menjadi rukun Islam. Pernahkan kita mendapatkan tata cara shalat yang lengkap didalam al-Quran…? pernahkan kita mendapatkan ayat tetang berapa jumlah rakaat nya, bagaimana cara duduk nya dan seterusnya…? Jawab nya ”Tidak Akan Pernah Kita Dapatkan didalam Al-Quran penjelasan secara lengkap tetang Tata cara Shalat, maka dari Itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda.

”Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
(Hadits Shahih, riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad)

Maka dari itu benarlah apa yang dikata oleh Imam al-Barbahari, dan terakhir lihatlah perkataan ulama ini.
Imam Besar, Imam Ayyub Sikhtiyani, ia berkata : “Jika kamu membicarakan As-Sunnah (Hadits) kepada seseorang, lalu ia berkata : “Buanglah ini (hadits) dari kami, cukup bagi kami al-Quran,” (maka) ketahuilah bahwa dia adalah orang sesat.” (Lihat Dzammul Kalam wa Ahluuhu, 2/56)

Kesimpulan, Maka Jelas sekali kesesatan dan kekufuran orang – orang yang menolak hadits Rasulullah.

Siapa yang mau membahas permasalahan ini lebih dalam lagi, silahkan merujuk kepada kitab “Adillatu wa asy-Syawahidu ‘ala wujuubil akhdi bikhabaril waahidi fie al-Ahkam wal A’qaaid,” karya seorang Ahli Hadit yaitu al-Allamah al-Muhaddits Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilaly. Alhamdulillah sudah diterjamahkan dengan judul “Hadits Ahad Hujjah Dalam Hukum dan Aqidah” penerbit Pustaka As-Sunnah. Atau kitab guru beliau yaitu al-Imam al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani.

——————–

Cara Beragama yang Shahih…? (bag ketiga)

Bekal Menuju Jalan yang Lurus -Shirathal Mustaqim-….bag 3 (Tiga Pondasi Dasar dalam Mengikuti Shirathal Mustaqim)

Pondasi ketiga : ”Mengikuti Manhaj (Jalan) Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu) Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba’du, (adapun selanjutnya)
Wahai saudara ku… semoga Allah menjaga kita semua dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus yaitu jalan orang – orang yang Allah berkenikmatan kepada mereka. Ketahuilah ini adalah pembahasan yang terakhir dari pembahasan kita ini. Perlu kami sampaikan, al-Quran dan as-Sunnah adalah Sumber Islam yang Shahih yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jaga kedua nya sampai hari Kiamat. Karena al-Quran adalah kalamullah (perkataan Allah) sedangkan as-Sunnah adalah Pentafsir al-Quran. Sebagaimana yang telah kami bahas sebelum nya. Orang – orang zindiq ingin merubah al-Quran tetapi mereka tidak mampu merubahnya meskinpun satu huruf. Karena al-Quran mendapat penjagaan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya.

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S 15 Al-Hijr ayat 9)

Lalu mereka (orang – orang zindiq) ingin memalsukan hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, tetapi mereka tidak juga mampu. Berapa banyak hadits – hadits yang telah dijelaskan oleh para ulama yang tidak ada asal usul nya dan berapa banyak ulama yang menghabiskan umur mereka untuk menjaga hadits yang mulia ini. Para ulama berkata : ”Tidaklah seseorang berdusta atas Nama Rasulullah dibarat bumi, melainkan akan diketahui oleh Ulama ditimur bumi.” -semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada para ulama yang telah menjaga as-Sunnah-karena mereka kita bisa mengikuti as-Sunnah ini.

Al-Quran dan As-Sunnah adalah dua sumber Islam yang Shahih dan yang Mutlak. Yang keduanya masuk kedalam penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya mereka (kaum Zindiq) mencoba memasuki kaum muslimin dengan merasuki pemahaman mereka. Merubah tafsir dan makna – makna al-Quran dan as-Sunnah, sedikit demi sedikit. Maka dari itu para Ulama pun membersihkan pemikiran – pemikiran (orang zindiq) dengan membuat sebuah penyaringan dan filterisasi yaitu dengan mendakwahkan Manhaj Sahabat dan mengikuti Manhaj Sahabat, yang semua nya ini adalah diambil dari al-Quran dan as-Sunnah.

Apa itu Manhaj…?
Manhaj adalah ????? , ??????? , ???????? “Jalan yang nyata dan terang.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam al-Quran surat al-Maidah ayat 48.
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Q.S Al-Maidah ayat 48) Yaitu syariat dan jalan terang dan jelas.

Kesimpulan nya adalah yang dimaksud dengan “Manhaj adalah Jalan yang nyata”. (Al-Wajiz fi Manhajis Salaf)

Apa itu Manhaj Sahabat…?
Manhaj Sahabat adalah Jalan yang nyata dan terang yang telah dilalui oleh para Sahabat, yang mana mereka adalah generasi Umat Islam yang terbaik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S Ali Imran ayat 110)

Apa Hukum Mengikuti Mereka (Para Sahabat)…?
Hukum mengikuti Manhaj mereka adalah wajib berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama.

1. Dalil dari al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : ”Segi pengambilan dalil dari ayat ini, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang – orang yang mengikuti mereka (para sahabat) dan meridhai mereka.”

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Q.S Al-Baqarah ayat 143)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : “Segi pengambilan dalil dari ayat ini, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia menjadikan sahabat sebagai umat terbaik lagi adil, inilah hakekat pertangahan. Mereka adalah sebaik – baik umat, paling adil dalam ucapan, perbuatan, kemauan dan niat mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi bagi para rasul atas umatnya ketika hari kiamat.”

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S Luqman ayat 15)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata : “Setiap orang dari generasi sahabat adalah orang yang kembali (tobat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka wajib mengikuti jalannya, sedangkan ucapan – ucapan, serta keyakinan (aqidah) mereka adalah jalan mereka yang terbesar.”

2. Dalil dari as-Sunnah
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda didalam hadits yang derajat nya Mutawwatir ??? ????? ???? ?? ????? ?????? ?? ????? ??? ???
“Sebaik – baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Qayyim berkata : “Nabi Shallallahu’alahi wa Sallam memberikan bahwa sebaik – baik masa adalah masa beliau secara mutlak, ini berarti keharusan untuk (mengikuti) mengutamakan mereka dalam setiap pintu kebaikkan, sebab jikalau tidak demikian andaikan mereka baik dalam beberapa segi saja, niscaya mereka bukan sebaik – baik masa secara mutlak.”

Dan Sabda beliau Shallallahu’alahi wa Sallam. “Janganlah kalian mencaci maki sahabatku, karena andaikan salah seorang dari kalian menginfakkan emas seberat gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan menyamai satu mud atau setengahnya dari infak mereka.”(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, di Shahihkan oleh Syaikh Salim)

Imam Ibnu Qayyim berkata : “Nabi Shallallahu’alahi wa Sallam memberitakan bahwa sebaik – baik masa adalah masa beliau secara mutlak, ini berarti keharusan untuk mengutamakan mereka dalam setiap pintu kebaikkan, sebab jikalau tidak demikian andaikata mereka baik dalam beberapa sisi saja, niscaya mereka bukan sebaik – baik masa secara mutlak.”

Manhaj inilah yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk kita ikuti, Sabdanya,

”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendengar dan taat sekalipun yang memerintahkan kamu adalah seorang hamba. Karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kelian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidun yang mendapat pentujuk, gigitlah ia dengan gerhammu.” (Hadits Shahih, Dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih)

3. Dali dari Ijma’ (Kesepakatan Ulama)
Cukuplah apa yang dikatakan oleh Sahabat yang Mulia, yaitu Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu : “Barangsiapa yang ingin mengambil teladan, maka ambilah (dari) sahabat Muhammad, mereka (para Sahabat Nabi) adalah kelompok umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit tindakkan anehnya, paling lurus petunjuknya, dan paling bagus keadaan nya. Mereka adalah kaum pilihan Allah berkat kebersamaan nya dengan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi wa Sallam, maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah ajaran dan tuntunan mereka, karena sesungguhnya mereka senantiasa berada diatas petunjuk yang lurus.” (Jami’ bayani Ilmi Wafadlihi, 2 / 947, No, 1810)

Kesimpulan nya, Wajib mengikuti Manhaj (Jalan nya) Para Sahabat, baik dari mengikuti didalam hal ilmu, amal, dakwah dan yang lain nya. Dan inilah madzhab para Ulama dan mereka (para Ulama) selalu menyeru kepada Manhaj yang Haq ini. Tidak ada ulama yang menyelisihi nya.

Imam Al-Khatib al-Bagdadi Rahimahullah berkata : ”Ini adalah Madzhab seluruh Ulama dan orang yang patut di ikuti pendapatnya dari kalangan Fuqaha’ (ahli fiqih).” (Al-Kifayah fi ’Ilmi al-Riwayah, hal 48 – 49)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancaman bagi orang menyelisihi Jalan nya Para Sahabat.
”Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (Sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S An-Nisa’ ayat 115)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai orang yang mengikuti Manhaj Sahabat.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Mengikuti mereka (para Sahabat) adalah mengikuti didalam pemahaman, mengikuti didalam amal, mengikuti didalam dakwah dan lain – lain nya, terlebih lagi didalam aqidah. Karena manhaj sahabat adalah al-haq, kebenaran itu sendiri. Tanpa mereka (para sahabat) kita tidak mengetahui tetang Islam. Maka wajib kita berpegang dengan tiga pondasi ini, dan inilah jalan yang lurus dan tidak ada jalan selainnya.

Bersambung, kesimpulan nya.
——————–
Subjek: Cara Beragama yang Shahih…? (Kesimpulan dan Intinya)

Kesimpulan dari penjelasan tiga pondasi ini (Mengikuti al-Quran, Mengikuti As-Sunnah dan Mengikuti Manhaj Sahabat), Faidah yang dapat kita ambil dari pembahasan ini.

1. Inilah Pegangan dan Bekal bagi seorang Muslim untuk menuju Islam yang Sempurna dan yang benar, yaitu mengikuti al-Quran, as-Sunnah dan mengikuti Pemahaman Sahabat, baik dalam hal pemahaman (Ilmu), dalam hal Ibadah (Amal), dakwah dan lain nya. Tiga pondasi ini adalah Jalan Yang Lurus, Barangsiapa yang mengikuti nya maka mereka tidak akan tersesat dan barangsiapa yang menyelisihi salah satu nya, maka dia akan tersesat dengan kesesatan yang nyata dan jauh sadar atau tidak sadar.

2. Didalam Ilmu Aqidah, Tiga pondasi ini menjadi Rujukkan bagi para ulama didalam menyusun kitab – kitab mereka didalam masalah aqidah.

3. Didalam Ilmu Fikih, Tiga pondasi ini (al-Quran, as-Sunnah dan Manhaj Sahabat) adalah pengambilan dalil (landasan hukum) didalam Islam. Dan ini adalah urutan pengambilan dalil didalam ilmu fiqih, yaitu Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) Sahabat, dan Qiyas Sahabat dan ulama yang mengikuti sahabat.

4. Didalam Ilmu Tafsir al-Quran, Tiga pondasi ini adalah tingkatan cara menafsirkan al-Quran. Kaidah para ulama menafsirkan al-Quran adalah menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, menafsirkan al-Quran dengan as-Sunnah dan menafsirkan al-Quran dengan perkataan para Sahabat. (Ushul Tafsir)

5. Didalam Ibadah, Tiga pondasi ini menjadi dasar standar kebenaran nya. (Kami Jelaskan didalam buletin yang berjudul ”Sahabat dan Tabi’in berhujjah dengan Manhaj Sahabat”

Barangsiapa yang membaca kitab Ushul Fiqih, kitab Ushul Tafsir dan kitab Ushul Aqidah. Semua para ulama kembali kepada tiga landasan pokok ini dan mereka tidaklah terlepas dari Tiga Pondasi Dasar ini. Karena mereka mengetahui kebenaran didalam Islam itu adalah mengikuti para Sahabat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S At-Taubah ayat 100)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita kedalam ayat yang mulia ini dan memasukkan kita kedalam golongan para sahabat dengan syarat kita harus mengikuti mereka.

Untuk menyempurnakan pembahasan ini baca buletin

”Sahabat dan Tabi’in berhujjah dengan Manhaj Sahabat”
——————–
——————–
Subjek: ”Sahabat dan Tabi’in Berhujjah dengan Manhaj Salaf (Sahabat)” (bag pertama)

”Sahabat dan Tabi’in Berhujjah dengan Manhaj Salaf (Sahabat)”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh, Barakallahu fiika (semoga Allah merahmati mu) Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Shalawat dan Salam atas nabi terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.

Amma Ba’du, (adapun selanjutnya)
Ini adalah penerapan dari Tiga Pondasi Dasar yang telah kita pelajari. Dan ini adalah penerapan kaidah yang kami sebutkan yaitu ”Mengikuti Al-Quran, As-Sunnah dan Mengikuti Sahabat.” dan ini adalah penjelasan atau penyempurna dan inilah bukti yang kuat, bahwa para Ulama tidaklah membuat hal ini tanpa dasar dari para Sahabat tetapi hal ini sudah dipraktekkan sendiri oleh Para Sahabat Radhiyallahu’anhu ajmain. Diantara Sahabat yang berhujjah dengan Manhaj Sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhu dan ini diikuti oleh orang – orang setelah generasi para sahabat. Dan sampai kepada kita sekarang ini. Kami cukuplah membawakan tetang Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu.

Mari kita lihat atsar yang dinukil oleh al-Muhaddits (Ahli Hadits) al-Allamah asy-Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali hafizhullah, atsar ini tercantum didalam kitab Syaikh yang berjudul ”Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, hal 160 – 162” dan Kitab Syaikh yang berjudul ”Al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayi’ fi Al-Ummah hal 29 -33, cet-III”

Riwayat Atsar nya sebagai berikut
Dari ‘Amr bin Salamah, beliau berkata : “Kami duduk – duduk didepan rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu sebelum Zuhur. Jika dia (Abdullah bin Mas’ud) keluar, kami akan berjalan bersamanya ke Masjid. Lalu datanglah Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu’anhu seraya berkata : “Apakah Abu Abdurrahman (nama kunyah Abdullah bin Mas’ud yaitu Abu Abdurrahman) telah keluar menemui kalian?”

Kami menjawab : “Belum”, Lalu beliau (Abu Musa) duduk bersama kami sampai Abdullah bin Mas’ud keluar. Ketika keluar, kami semua menemuinya. Kemudian Abu Musa al-Asy’ari berkata kepadanya : “Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), saya telah melihat di masjid tadi satu hal yang saya anggap mungkar dan saya tidak memandangnya –Alhamdulillah- kecuali kebaikkan.”
Beliau (Abdullah bin Mas’ud) bertanya : “Apa itu?”
Abu Musa menjawab : “Jika engkau hidup niscaya akan melihatnya, aku telah melihat di masjid suatu kaum terbagi beberapa halaqah (kelompok yg melingkaran), mereka duduk menanti shalat. Pada setiap halaqah (kelompok) ada seorang yang memimpin, dan ditangan – tangan mereka ada batu kerikil. Setiap pemimpin halaqah berkata : “Bertakbirlah seratus kali” Maka mereka bertakbir seratus kali. Pemimpin halaqah berkata lagi : “Bertahlillah seratus kali” Merekapun bertahlil seratus kali. Kemudian sang pemimpin berkata lagi : “Bertasbihlah seratus kali” Maka mereka bertasbih seratus kali”
Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”
Abu Musa berkata : “Saya tidak mengatakan apapun kepada mereka, karena mengunggu perintah mu.”
Abdullah bin Mas’ud berkata (dengan keras) : “Mengapa tidak kamu perintahkan supaya mereka menghitung kejelekan mereka? Aku jamin tidak akan ada kebaikkan mereka yang hilang.”
Kemudian beliau (Abdullah bin Mas’ud) berjalan. Kamipun berjalan mengikutinya sampai beliau mendatangi satu halaqah (dzikir) diantara halaqah – halaqah itu. Beliau berdiri dihadapan mereka seraya berkata : “Apa ini yang kalian lakukan?”
Mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud) batu kerikil yang kami pakai untuk menghitung tahlil dan tasbih”
Abdullah bin Mas’ud berkata : “Harusnya, hitunglah kejelekan – kejelekan kalian! Aku jamin tidak ada satupun kebaikkan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. (perhatikan perkataan ini) para Sahabat Nabi masih banyak yang hidup!! Dan ini pakaian Nabi belum rusak, bejananya belum hancur! Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, apakah sesungguhnya kalian berada dalam suatu agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan?”
Mereka berkata : “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), kami tidak menginginkan apa – apa kecuali kebaikkan.”
Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sungguh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam telah bersabda : “Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca al-Quran namun tidak melebihi tenggorokannya.” Demi Allah, saya tidak tahu, jangan – jangan kebanyakan kaum yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam ini adalah kalian” Kemudian beliau meninggalkan mereka.
‘Amr bin Salamah selanjutnya berkata : “Ternyata aku lihat mayoritas anggota (yang mengikuti) halaqah – halaqah tersebut (kelak) bersama kaum Khawarij memerangi kami pada perang Nahrawan.”

Faidah – Faidah (Pelajaran) yang dapat diambil.
1. Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly berkata : “Sesungguhnya mereka (orang yang berkelompok itu) tidak berbuat sebagaimana perbuatan para sahabat. Seandainya perbuatan mereka baik, seperti yang mereka sangka, tentu para Sahabat Nabi telah lebih dahulu melakukan nya. Oleh sebab itu, ketika para Sahabat tidak melakukan nya, berarti apa yang mereka lakukan adalah kesesatan.”

2. Ini menunjukkan bahwa Sahabat Abdullah bin Mas’ud, berhujjah dengan manhaj Sahabat. Karena tidak ada pembesar seorang sahabat pun yang duduk bersama mereka. Darimana kita dapat melihat, dari pertanyaan Abdullah bin Mas’ud kepada Sahabat Abu Musa,
Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?” Abu Musa berkata : “Saya tidak mengatakan apapun kepada mereka, karena mengunggu perintah mu.”

Maka dari itu dengan tegas Abdullah bin Mas’ud berkata kepada mereka (orang berdzikir itu)

“Harusnya, hitunglah kejelekan – kejelekan kalian! Aku jamin tidak ada satupun kebaikkan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. (perhatikan perkataan ini) para Sahabat Nabi masih banyak yang hidup!! Dan ini pakaian Nabi belum rusak, bejananya belum hancur! Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, apakah sesungguhnya kalian berada dalam suatu agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan?”

3. Tidak semua apa yang kita katakan itu baik menurut kita, baik pula menurut Allah dan Rasul-Nya. Ada didalam al-Quran, ada didalam Hadits tetapi mereka memahami nya tidak dengan pemahaman Sahabat maka itupun kesesatan, Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud dan orang berdzikir itu.

Mereka berkata : “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), kami tidak menginginkan apa – apa kecuali kebaikkan.”

Maka perhatikanlah apa yang dijawab oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sungguh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam telah bersabda : “Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca al-Quran namun tidak melebihi tenggorokannya.” Demi Allah, saya tidak tahu, jangan – jangan kebanyakan kaum yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam ini adalah kalian” Kemudian beliau (pergi) meninggalkan mereka.

Maka dari itu, ini adalah senjata seorang muslim, jika seseorang diajak untuk mengamalkan sesuatu maka tanyakanlah,

”Apakah ini ada didalam al-Quran…?
Apakah ini ada didalam as-Sunnah yang Shahih…?
Apakah ini pernah diamalkan para Sahabat…?”

Jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Maka berpalinglah karena Amal itu harus dengan Ilmu.

Katakanlah kepada mereka

”Lau Kaana Khairan Lasabakuunaa Ilaihi”
(Kalau sekiranya perbuat itu baik tentulah para Sahabat telah mendahului kita mengamalkan nya)

bersambung,
——————–
Subjek: ”Sahabat dan Tabi’in Berhujjah dengan Manhaj Salaf (Sahabat)” (bag kedua dan tamat)

4. Orang yang keluar dari tiga pondasi ini (tidak mengikuti al-Quran, as-Sunnah dan Jalan nya Para Sahabat) maka tidak akan selamat. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Amr bin Salamah.

‘Amr bin Salamah selanjutnya berkata : “Ternyata aku lihat mayoritas anggota (yang mengikuti) halaqah – halaqah tersebut (kelak) bersama kaum Khawarij memerangi kami pada perang Nahrawan.”

Subhanallah, ini adalah kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (Sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S An-Nisa’ ayat 115)

Lihatlah, orang yang mengikuti halaqah tadi akhirnya mereka tersesat dan mengikuti kesesatan dan mereka memerangi Para Sahabat Nabi. Allah tutup pintu hati mereka, Allah kunci pintu hati mereka karena mereka jauh dari tiga pondasi dasar ini, yaitu al-Quran, as-Sunnah dan mengikuti Manhaj Sahabat, baik didalam pemahaman, ilmu, amal dan dakwah. Sehingga mereka tertipu dengan diri mereka sendiri.

5. Berilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat (beramal). Hal sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari didalam kitab shahihnya dan kita telah mempelajarinya pada buletin yang lalu

Sungguh amat besar apa yang kita pelajari ini, maka perhatikanlah. Wahai Saudara ku….!!! Bacalah tulisan ini berkali – kali supaya kalian bisa memahaminya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita semua diatas jalan yang haq ini. Wallahu’allam ???? ?? ??????? ????? ? , ???? ?? ?? ??? ??? ??? ??????? ?????
Selesai ditulis, Di Padang. Pada Malam Minggu, 26 Rajab 1430 H / 18 Juli 2009 H.
Penulis : ????? ????? (Hamba Allah yang selalu mengharapkan ampunan dari Rabb-Nya) Apabila ada penjelasan yang belum dapat dipahami mohon ditanyakan karena hal ini sangatlah pentingdan ini adalah masalah pokok agama, apabila ini salah maka salahlah cara beragama kita. Maka harap di tanyakan kepada kami. Supaya kami bisa menjawabnya. Apabila ada kesalahan maka kami mohon maaf dan harap disampaikan kesalahan dan letaknya, serta koreksian nya.

”Semoga Allah merahmati kita semua dan memasukkan kita semuanya kesurga nya” Amien, Segala puji hanya bagi Allah semata. Inilah akhir dari pembahasankan kita. dan Insa’Allah kita akan masuk keadalam pembahasan kitab fikih dan tauhid yang telah kami paparkan didepan

Daftar Pustaka,
1. Tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Imam Ibnu Katsir
2. Manhaj Talaqqi Baina Ahlus Sunnah wal Jama’ah wal ahli Bid’ah karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuyani.
3. Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, karya Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilaly
4. Bashairu Dzawi asy-Asyarafi bi Syarhi Marwiyati Manhaj as-Salaf, karya Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilaly
5. Al-Wajiz fi Manhajis Salaf, karya Syaikh Abdul Qadir al-Arnaut

Buletin bebas tidak di sebarkan yang akan terbit hari minggu, Insa’Allah
1. ”Tanya jawab seputar Madzhab didalam islam” (Membahas tetang Madzhab dan hukum nya)
2. ”Pengantar Ilmu Hadits” (Membahas tetang Hadits dan Pembagian nya)

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: