Hukum dan Keutamaan Ibadah Puasa Ramadhan

Definisi Puasa (Ash-Shiyaam)

Ash-Shiyam secara etimologi bermakna al-imsaak (menahan diri) dari suatu perbuatan. Sehingga kuda yang terikat tidak dapat berjalan di namakan ‘shaa`im’. Dengan demikian ash-shiyaam adalah menahan diri secara mutlak, yaitu menahan diri dari segala sesuatu apapun. Seseorang yang tidak berbicara yaitu seorang yang diam dinamakan ‘shaa`im’. Allah ta’ala berfirman
إِنِّي نَذَرْ لِلرَّحْمَنِ صَوْماً
“Dan sungguh saya telah bernadzar ‘berpuasa’ kepada ar-Rahman (Allah ta’ala).” Yaitu diam tidak berbicara. Tidakkah anda menyimak kelanjutan ayat ini,
فَلَنْ أُكَلِّمَ اليَوْمَ إِنْسِيًّا
“Maka tidaklah pada hari ini saya akan berbicara kepada seorang manusiapun.”

Abu Ubaidah al-Qasim bin Sallam menyebutkan bahwa makna ash-shiyaam secara bahasa adalah menahan diri dari makan, minum, berbicara atau berjalan. Demikian hal serupa di sebutkan oleh al-Jauhari dan ‘Iyadh bin Musa serta al-Khalili.
(Tartiib al-Qamus 2/871, al-Lisan 2/2529 ash-Shihah 5/1970, al-Mishbaah 2/482, ad-Dzakhirah 2/485 dan al-Mawaahib 3/275)

Adapun definisi ash-shiyaam menurut termis syara’ adalah suatu bentuk peribadatan kepada Allah subhanahu wata’ala dalam bentum al-imsaak yang khusus sejalan dengan ketetapan syariat. Yaitu al-imsaak (menahan diri) dari makan, minum, hubungan intim (jima’) dan semua jenis pembatal puasa dimulai sejak terbit matahari hingga terbenamnya matahari.
(Bada`I ash-Shana`I 2/209, al-Mughni 2/125, Kasysyaf al-qina` 2/368, ar-Raudh al-Murbi` 1/546, al-Kaafi 1/452, al-Inshaf 3/269, Subul as-Salam 2/305 dan Syarh al-Mumti’ 6/310)

Hukum Puasa Ramadan
Puasa Ramadan adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Kewajiban pengerjaan puasa Ramadan ini telah di tetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam al-Qur`an al-Karim, as-Sunnah dan juga telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,

ياَ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّياَمُ كَماَ كُتِبَ عَلَى الذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana telah di wajibkan atas umat sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (al-Baqarah: 183)

Dan firman Allah ta’ala lainnya,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى أُنزِلَ فِيهِ القُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Dan bulan Ramadan adalah bulan di turunkannya al-Qur`an al-Karim, sebagai petunjuk bagi segenap kaum manusia dan sebagai penjelas dari petunjuk serta sebagai pembeda antara kebaikan dan keburukan. Barang siapa di antara kalian yang menjumpai bulan tersebut, maka diharuskan baginya untuk berpuasa.” (al-Baqarah: 185)

An-Nawawi menyebutkan, “Salamah bin al-Akwa` radhiallahu ‘anhu- mengatakan, “Ketika ayat ini diturunkan,
وَعَلىَ الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةُ طَعاَمِ مِسْكِيْن
“Dan bagi mereka yang tidak mampu mengerjakan puasa, maka menggantikannya dengan memberi fidyah berupa memberi makan kaum miskin.” (al-Baqarah: 184)

Awal mulanya, siapa saja yang berkehendak untuk berbuka (tidak mengerjakan puasa) dan membayarkan fidyah, hingga turun ayat yang setelahnya, yang menghapuskan hokum ayat tersebut.
Dan pada suatu riwayat: Adalah kami pada bulan Ramadan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa yang berkeinginan dia dapat berpuasa dan siapa yang mau dia dapat pula berbuka lalu membayarkan fidyah dengan memberi makan kaum miskin hingga turunlah ayat,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barang siapa di antara kalian yang menjumpai bulan tersebut (Ramadan) makan di haruskan baginya untuk berpuasa.”

Adapun dari as-Sunnah, terdapat beberapa hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegaskan kewajiban puasa Ramadan serta puasa Ramadan sebagai salah satu dari rukun Islam. Di antaranya:
Hadits Umar bin al-Khaththab tentang kedatangan Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tentang Islam,
الإسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُول اللَّهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزكَّاَةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضاَنَ، وَتَحُجَّ البَيْتِ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلا
“Persaksian bahwa tiada semabahan yang benar selain Allah, mendirikan, shalat, menunaikan Zakat, mengerjakan puasa Ramadan dan mengerjakan ibadah Haji bagi yang sanggup.”

Hadits Thalhah bin Ubaidullah, beliau mengatakan
جاَءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثاَئِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيْ صَوْتِهِ وَلاَ يُفْقَهُ ماَ يَقُوْلُ حَتىَّ دَنىَ فَإِذاَ هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الإِسْلاَمِ فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :خَمْسُ صَلَواَتٍ فِيْ اليّوْمِ وَاللَّيْلَةِ.
فَقاَلَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهاَ ؟ قال: لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ ، قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَصِياَمُ رَمَضاَنَ ،
قاَلَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ ؟ قال: لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ.
قال: وَذَكَرَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَسَلَّمَ الزكَّاَةَ ، قال: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهاَ؟
قال: لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ.
قال: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُوْلُ: وَاللهِ لاَ أَزِيْدُ عَلىَ هَذاَ وَلاَ أَنْقُصُ.
قاَلَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
“Bahwa seseorang dari penduduk Najd datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan rambut yang telah beruban, terdengar gaung suaranya namun tidaklah dapat dipahami apa yang dia katakana, hingga dia mendekat dan ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat lima waktu pada siang dan malam.”
Lalu dia bertanya: “Apakah ada yang wajib bagiku selainnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak, selain shalat yang sunnah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Puasa Ramadan.” Dia bertanya, “Apakah ada puasa yang wajib bagiku selainnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak, selain puasa yang sunnah.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kewajiban zakat atasnya, maka diapun bertanya, “Apakah ada zakat yang wajib bagiku selainnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak, kecuali sedekah yang sunnah.”
Maka orang tersebut pergi sembari berkata, “Demi Allah saya tidak akan menambahnya dan juga tidak akan menguranginya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Beruntunglah dia, bila dia jujur.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/106 (dengan al-Fath) dan Muslim 1/40-41)

Hadits Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ : شَهاَدَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ، وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ ، وَإِقاَمُ الصَّلاَةِ ، وَإِيْتاَءُ الزكَّاَةِ ، وَصَوْمُ رَمَضاَنَ وَحَجُّ البَيْتِ
“Islam didirikan atas lima sendi utama : yaitu mentauhidkan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan dan ibadah Haji.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/49 dan Muslim 1/45)

Dan beberapa hadits lainnya yang sedemikian banyak menyebutkan tentang kewajiba puasa Ramadan.
Adapun kesepakatan ulama tentang kewajiban puasa Ramadan, telah dikutip dari beberapa imam kaum Muslimin dari berbagai mazhab fiqh akan kesepakatan para ulama tentang kewajiba puasa Ramadan ini, dan tidaklah diingkari kewajibannya kecuali seorang kafir yang telah jelas kekafirannya.
(Lihat di dalam al-Majmu’ 6/250-252, al-Hawi al-Kabir 3/394-395, Fathul Qadir 2/306, bada`I ash-Shana`I 2/113-114, al-Mughni 3/2-3, al-Isyraf 3/107, al-Ahkam al-Wustha 2/205-206, ar-Raudhah an-Nadiyah 1/531 dan selainnya)

Kapan Puasa Ramadan di Wajibkan?
Di dalamkitab al-Inshaf, disebutkan, “Puasa Ramadan di wajibkan pada tahun kedua setelah hijrah sesuai dengan kesepakatan ulama. Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan puasa Ramadhan sebanyak Sembilan kali juga berdasar pada kesepakatan ulama.
Penulis kitab al-Hawi al-Kabir, menambahkan bahwa kewajiban puasa Ramadan di turunkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua setelah hijrah.
(al-Inshaf 3/269, al-Hawi al-Kabir 3/6, al-Majmu’ 6/250, al-Furu` 3/6, al-Isyraf 3/109 dan Manaar as-Sabil 1/367)

Apakah Puasa Ramadan menasakh (menghapus) Puasa Wajib Sebelumnya?
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan di dalam al-Fath, “ … Para ulama as-Salaf telah berbeda pendapat apakah terdapat kewajiban puasa atas kaum muslimin sebelum di wajibkannya puasa Ramadan ataukah tidak? Mayoritas ulama, yang juga merupaka pendapat yang masyhur di kalangan ulama asy-Syafi’iyah bahwa tidaklah ada puasa yang diwajibkan sebelum kewajiban puasa Ramadan.
Dan terdapat pandangan lainnya yang merupaka pendapat ulama mazhab al-Hanafiyah, bahwa yang pertama kali di wajibkan adalah puasa Asyuraa`, dan ketika turun kewajiban puasa Ramadan, maka kewajiban puasa Asyuraa` terhapuskan.

Di antara dalil yang menjadi pegangan ulama asy-Syafi’iyah adalah hadits Mu’awiyah secara marfu’ : “Dan Allah tidaklah mewajibkan atas kalian puasa Asyura`.” Hadits ini akan disebutkan di bagian akhir pembahasan tentang ash-Shiyaam.

Sementara dalil yang dijadikan sandaran oleh Ulama al-Hanafiyah adalah konteks eksplisit dari hadits Ibnu Umar dan Aisyah –tentang puasa Asyuraa`- yang tertera pada bab bahasannya dengan lafazh perintah. Juga hadits ar-Rabie` binti Mu’awwidz, yang terdapat juga di dalam Shahih Muslim, “Dan barang siapa yang pagi harinya berpuasa maka diharuskan baginya untuk menyempurnakan puasanya.”
Beliau berkata, “Maka kami senantiasa berpuasa Asyuraa` dan demikian juga anak-anak kami, sementara mereka masih kecil. Al-Hadits.
Dan hadits Maslamah secara marfu’ : “Barang siapa yang telah makan makan diharuskan baginya berpuasa pada sisa harinya, dan barang siapa yang belum makan, maka hendaklah dia berpuasa.” Al-Hadits.”
(al-Fath 4/103, al-Isyraf 3/30 dan al-Hawi al-Kabir 3/396)

Pendapat yang lebih tepat dalam bahasan ini insya Allah adalah pendapat yang di kemukakan oleh Mazhab al-Hanafiyah. Bahwa kewajiban puasa Ramadan menghapuskan kewajiban puasa Asyuraa`. Selain dalil-dalil yang disebutkan di atas, juga terdapat beberapa dalil lainnya, diantaranya,

Hadits Abdullah bin Abbas –tentang hadits puasa Asyuraa`-, dan di sebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa Asyuraa` dan memerintahkan untuk puasa Asyuraa`.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari 4/314 dan Muslim no. 1130)

Dan hadits Jabir bin Samurah, beliau mengatakan,
كاَنَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِصِياَمِ يَوْمِ عاَشُوْراَء، وَيَحُثُّناَ عَلَيْهِ، وَيَتَعاَهَدْناَ عِنْدَه، فَلَمَّا فَرَضَ رَمَضاَن لَمْ يَأْمُرْناَ وَلَمْ يَنْهَناَ، وَلَمْ يَتَعاَهَدْناَ عِنْدَهُ
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kami untuk berpuasa Asyuraa`, menganjurkan kami untuk mengerjakannya dan mengambil perjanjian dari kami untuk mengerjakannya. Ketika telah diwajibkan puasa Ramadan, maka beliau tidak lagi memerintahkan kami dan tidak juga melarang kami serta tidak mengambil perjanjian dari kami untuk mengerjakannya.”
(Diriwayatkan oleh Muslim no. 1128)

Juga dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ عاَشُوْراَءُ يُصاَمُ قَبْلَ رَمَضانَ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضانُ كاَنَ مَنْ شاَءَ صَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan puasa Asyuraa` hingga puasa Ramadan di wajibkan.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari 4/212 dan Muslim no. 1125)

Dan dari hadits Qais bin Sa’ad bin Ubadah radhiallahu ‘amhu, beliau berkata,
أَمَرَناَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُوْمَ عاَشُوْراَء قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ رَمَضَان، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضانُ، لَمْ يَأْمُرْنا وَلَمْ يَنْهَنا، وَنَحْنُ نَفْعَلُهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk berpuasa Asyuuraa` sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadan. Setelah turun Ramadan, maka beliau tidaklah memerintahkan dan tidak melarang kami. Namun kami tetap melakukannya.”
(Diriwayatkan oleh an-Nasa`I di dalam al-Kubra 2/no. 2841, Ahmad 3/421 dan selainnya)

Keutamaan Puasa Ramadan
Terdapat beberapa hadits yang shahih diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terkait keutamaan puasa di bulan Ramadan. Di antara hadits-hadits tersebut,

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
قَالَ اللهُ : كُلُّ عَمَلِ ابنِ آدَمَ لَهُ إلا الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِه .
وَالصِّيَامُ جُنَّـةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفـُِثْ ، وَلا يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم . وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْك .لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا : إِذَا أَفْطَرَ فَـرِحَ ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِه
“Allah ta’ala berfirman, ‘Setiap amalan bani Adam baginya kecuali ibadah puasa. Karena sesungguhnya puasa tersebut bagiku dan Akulah yang akan memberinya ganjaran. Dan puasa adalah tameng, apabila pada hari dimana salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata yang sia-sia dan jangan pula berkata keji. Apabila seseorang mencacinya atau menyakitinya maka hendaklah dia mengatakan: Sungguh saya seorang yang berpuasa.

Demi Zat yang mana jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut seorang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kesturi. Dan seorang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, apabila dia berbuka maka dia berbahagian dengan buka puasanya dan apabila dia berjumpa dengan Rabbnya maka dia akan berbahagian dengan puasanya.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 807)

Dan pada hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
إِنَّ فِيْ الجَنَّةِ باَباً يُقاَلُ لَهُ الرَّياَّن يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ القِياَمَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقاَلُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذاَ دَخَلُواْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di Surga terdapat sebuah pintu yang dinamakan ‘pintu ar-Rayaan’. Mereka yang senantiasa berpuasa akan masuk dari pintu tersebut pada hari kiamat, dimana tidak seorangpun selain mereka akan masuk melaluinya.
Diserukan : dimanakah wahai mereka yang senantiasa berpuasa? Maka merekapun berdiri, tidak ada seorangpun selain mereka akan masuk melalui pintu tersebut, dan apabila mereka telah memasukinya, maka pintu tersebut akan akan tertutup sehingga tidak seorangpun akan masuk melaluinya.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 808)

Juga dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صاَمَ رَمَضاَنَ إِيْماَناً واَحْتِساَباً غُفِرَ لَهُ ماَ تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan dasar keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1901)

Dan terdapat beberapa hadits lainnya menerangkan keutamaan puasa Ramadan. Sehingga dengan demikian banyaknya hadits-hadits tentang keutamaan puasa Ramadan ini, para ulama bersilang pendapat apakah puasa lebih utama dari ibadah shalat ?
Sebagian ulama menyebutkan ibadah shalat lebih utama, berdasar pada urutan ibadah shalat di dalam rukun Islam pada hadits Jibril di atas serta kewajiban shalat yang terlebih dahulu diturunkan sebelum kewajiba puasa Ramadan.

Sebagian ulama lainnya berpandangan bahwa ibadah puasa lebih utama, berdasarkan pada hadits Abu Hurairah di atas, bahwa Allah sendiri yang akan memberi ganjaran atas pahala puasa.
(Lihat di dalam al-Hawi al-Kabir 3/369 dan al-Isyraaf 3/108)

Washallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam

Dari   http://www.ahlussunnah-jakarta.com/index.php/artikel/Fiqih/1372832796

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: