Asiknya Nonton Bola…..?

Bolehkah Nonton Pertandingan Sepak Bola…

Menonton pertandingan sepak bola hukum asal­nya adalah mubah (boleh), tetapi jika tidak lepas dari madhorot menonton bola maka hukumnya menjadi haram, di antara madhorot tersebut ;

–          Menyia-nyiakan waktu, karena satu setengah jam lebih akan berlalu sia- sia, tidak ada manfaat dunia lebih-lebih akhirat, padahal waktu lebih berharga dari harta, setiap waktu berlalu bukan untuk keta’atan kepada Alloh, maka dia telah merugi, firman Alloh ;

“Sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103] : 2-3)

–          Menyia-nyiakan harta, dengan membeli tiket me­nonton sepak bola padahal harganya sangat mahal hanya untuk menonton yang tidak bermanfaat. Atau jika mereka tidak menonton langsung ke la­pangan, maka dengan televisi yang memerlukan listrik, tempatnya juga memerlukan listrik, pada­hal Nabi telah melarang kita menyia-nyiakan harta (lihat HR. Bukhori 2408, dan Muslim 593)

–          Menyia-nyiakan kekuatan atau tenaga yang dimi­liki, bahkan melemahkan kekuatan badan. Karena jika menonton sepak bola dari awal hingga akhir bahkan sampai dini hari, maka begadang akan melemahkan badan, dan membahayakan kesehat­annya. Jika tidak terlihat efek buruknya sekarang, maka di waktu mendatang akan terbukti.

–          Kebanyakan para bintang sepak bola adalah orang kafir, maka seorang yang mengagumi pe­main kafir bisa saja terpaut hatinya dan akhirnya mencintai orang kafir. Hal ini terbukti sebagian pemuda muslim lebih senang memakai pakaian yang bertuliskan pemain terkenal padahal kafir dari pada mengenakan baju-baju yang identik de­ngan keislaman. Ada juga diantara mereka terfit­nah dengan penyakit panjang angan-angan,[14] dan sebagian mereka lebih tahu tentang seluk beluk pemain favoritnya sekalipun kafir, dan dia tidak tahu seluk-beluk teladan terbaiknya yaitu Rosu­lulloh.

–          Kebanyakan pemain membuka aurot ketika berla­ga. Dalam Islam, melihat aurot hukumnya haram (lihat kembali dalil tentang paha itu adalah aurat di atas).

–      Kebanyakan sepak bola tidak lepas dari perjudian yang dilakukan oleh para penonton dan simpati­san. Di Inggris, 40% kaum laki-laki berjudi secara rutin dengan media pertandingan sepak bola se­dangkan di Amerika pada tahun 1968 M sebanyak 63.000.000 (enam puluh tiga juta) warganya ber­judi dengan pertandingan sepak bola[15].

–      Kebanyakan para penonton bola di malam hari la­lai dari sholat Subuh padahal wajib bagi mereka. Betapa banyak kita mendengar pecandu bola mereka bangun tengah atau akhir malam, lalu sholat Subuhnya tertinggal, yang lebih parah dari itu terkadang mereka menonton langsung ke lapangan berpindah dari satu kota ke kota lain, walaupun pada hari jum’at, sehingga mereka tidak ikut sholat jum’at.[16]

Hadiah dalam Pertandingan Sepak Bola [17]

Hadiah dalam perlombaan, ada yang di bolehkan dan ada yang di haramkan, berikut perinciannya ;

  1. Hadiah yang dibolehkan dengan kesepakatan ulama,[18] bahkan hadiah itu disyariatkan dalam suatu lomba/pertandingan. Yakni jika lomba ter­sebut termasuk lomba yang disebutkan Nabi, lomba tersebut adalah pacuan kuda, pacuan unta dan memanah. Sebagaimana sabdanya ;

“Tidak ada hadiah perlombaan kecuali dalam pacuan unta, memanah atau pacuan kuda.”[19]

  1. Hadiah yang tidak dibolehkan, bahkan diharam­kan dalam suatu perlombaan/pertandingan. Yak­ni jika perlombaan tersebut termasuk yang lebih besar madhorotnya dan melalaikan manusia dari jalan Alloh, seperti catur[20], permainan dadu[21] dan semisalnya,
  2. Hadiah yang diperselisihkan para ulama tentang boleh dan tidaknya (hadiah) di dalamnya, yaitu perlombaan yang bermanfaat tetapi lomba tersebut tidak disebutkan dalam hadits Nabi se­perti gulat, lari, renang, bela diri, balap perahu, dan lomba- lomba yang banyak digelar saat ini.

Para ulama membagi perlombaan menjadi dua ;

  1. Perlombaan yang bermanfaat dan mempunyai kesamaan makna dengan lomba yang di sebut­kan Nabi. Seperti lomba lari, renang, gulat dan semisalnya. Maka pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkan adanya hadiah dalam perlom­baan ini.[22]
  2. Perlombaan yang bermanfaat tetapi tidak mempu­nyai kesamaan makna dengan lomba yang dise­butkan Nabi. Seperti kebanyakan perlombaan zaman sekarang, termasuk sepak bola, bola voli, basket dan semisalnya, maka sebagian ulama berpendapat tidak dibolehkan adanya hadiahdalam pertandingan tersebut.[23] karena perlombaan semacam ini tidak disebutkan Nabi dalam pengecualian perlombaan yang dibolehkan adanya hadiah di dalamnya, dan tidak pula semakna dengan yang disebutkan Nabi  sehingga tidak dapat dikias­kan.

Akan tetapi sebagian ulama memberi rukhshoh (keringanan) dibolehkan adanya hadiah dalam lomba seperti ini untuk memberi semangat de­ngan syarat hadiah tersebut bukan dari para peserta lomba. Supaya tidak jatuh kepada per­judian (mengundi nasib dengan mengeluarkan harta lalu tidak lepas dari untung atau rugi).[24]

Apakah Sepak Bola Tasyabuh dengan Orang Kafir?

Sebagian ulama[25] menghukumi sepak bola ada­lah bertasyabbuh/mengikuti orang-orang kafir dan hukumnya haram. Dengan alasan karena aturan dan hukum-hukum pertandingan sepak bola adalah aturan orang-orang kafir, seperti jumlah pemain ha­rus 11 melawan 11 dengan durasi permainan 90 menit dalam dua babak. Dan penggunaan istilah-istilah mereka yang tidak dapat diganti dengan bahasa lain seperti ; pinalti, goal, korner, out dan semisalnya[26].

Akan tetapi perkataan ini telah dijawab oleh ba­nyak para ulama, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam perincian fatwa mereka.[27] Kesimpulannya, jika sepak bola itu dihindarkan perkara-perkara yang haram maka hukum sepak bola menjadi boleh. Adapun tentang tasyabbuh, maka Syaikh Ibnu Baz men­jawab : “(Olahraga) ini termasuk olahraga yang musy­tarok (bukan ciri khusus orang-orang kafir). Kaum muslimin dan kaum kafir melakukannya, seperti halnya memanah, lomba lari, semuanya dilakukan oleh kaum muslimin dan kaum kafir (sehingga bu­kan termasuk tasyabbuh).”[28]

SEPAK BOLA DAN MENONTON BOLA YANG DIBOLEHKAN

Jika bermain sepak bola diniatkan untuk melatih badan supaya lebih kuat, dan sehat, tidak membuka aurot, tidak membahayakan diri dan orang lain, ti­dak disertai tindakan-tindakan yang menyelisihi aturan agama Islam, tidak menghalangi kewajiban, tidak menjadikannya sebagai rutinitas sehingga mengalahkan yang lebih penting, maka hukumnya boleh.[29]

Demikian juga menonton sepak bola, jika meli­hat sepak bola secara kebetulan (tidak diagendakan), para pemainnya adalah kaum laki-laki yang menutup aurot, dengan tidak menghabiskan waktunya, dan ti­dak menjadi kegiatan rutinitasnya, tidak melalaikan perkara yang wajib, tidak kecanduan, serta terlepas dari perkara-perkara yang dilarang berupa ucapan kotor, pujian berlebihan, atau mengagungkan pemain kafir, maka menonton seperti ini di bolehkan.[30]

SEPAK BOLA BAGI ANAK- ANAK

Selayaknya para orang tua atau para pendidik memberi kelonggaran bermain buat anak-anak didik mereka selama permainan mereka (baik sepak bola atau yang lainnya) tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar. Ibnul Haj al-Abdari berkata: “Selayaknya anak-anak diizinkan untuk bermain dengan permainan yang bagus setelah menyele­saikan kegiatan belajar, supaya mereka bisa melepas lelahnya belajar, dengan syarat permainan tersebut tidak menambah mereka lebih lelah. Karena mela­rang anak-anak (untuk bermain) dan memaksa me­reka harus terus belajar membuat hati mereka mati, serta akan membekukan otak dan menghilangkan kecerdasannya, menjadikan mereka benci belajar, menyempitkan hidupnya, dan pada akhirnya me­reka mencari jalan untuk meninggalkan belajarnya secara keseluruhan.”[31]

SYUBHAT DAN JAWABNYA

  1. 1. Sepak Bola Dianjurkan Untuk Jihad ?

Jawab : Kalau kita mau adil, kita mendapati sepak bola dan pemainnya pada saat ini kebanyakan tidak berguna untuk kepentingan jihad. Kebanyakan me­reka menjadikan sepak bola adalah tujuan, padahal itu hanya wasilah (sarana), menjadikan ketenaran, kaya raya, banyaknya orang berdecak kagum, tepuk tangan, dan bersiul adalah tujuan, mereka menjadi kuat, bersemangat, berlari kencang, dan bersabar menahan lelah, hanya ketika di lapangan dan di lihat banyak penonton. Lihatlah ketika tidak bertanding, jangankan berjihad melawan musuh, menjalankan kewajiban agama saja mereka malas dan tidak dapat menahan lelah, seperti ketika sholat dan semisalnya.

  1. 2. Sepak Bola/Piala Dunia Mendatangkan Berkah ?

Ada yang mengatakan : “Karena banyaknya ma­nusia yang tidak tidur malam hari menyaksikan si­aran langsung piala dunia, sehingga kampung me­reka aman dari gangguan pencuri, ini merupakan barokah piala dunia.”

Jawab : Memang banyak manusia terjaga dari tidur ketika piala dunia digelar malam hari, dan kampung mereka menjadi aman dari pencuri tetapi apalah artinya kampung itu aman dari gangguan para pen­curi harta, sedangkan mereka tidak aman dari pen­curian agama mereka. Banyak para pecandu bola tidak selamat dari pencurian agamanya, sehingga tidak sholat subuh di masjid, mereka banyak yang meninggalkan sholat apalagi sholat malam, hanya mengejar kenikmatan mata yang sesaat dan mening­galkan kenikmatan yang kekal abadi.

Demikianlah tinjauan fiqih Islam atas sepak bola. Semoga Alloh menjadikan kita hamba-hamba yang selamat dari godaan setan. Wallohu A’lam.

Catatan Kaki:


[1] Pembahasan ini kami angkat berkaitan dengan maraknya sepak bola di negara kita yang cenderung tanpa kendali, dan akan digelarnya piala dunia 2010. Sebagian kaum mus­limin telah terbawa arus buruknya sepak bola. Jika tidak bisa menjadi pemain bola, maka mereka menjadi suporter setia (mania) yang tidak lagi menggunakan akal sehatnya. Mencintai klubnya mati-matian, sekalipun para pemainnya adalah orang-orang kafir.

 

Kami berharap kaum muslimin terbangun dari pengaruh bius menonton bola yang menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan harta mereka. Pembahasan ini kami sarikan dari kitab “Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid min Wijhati Nadhorin Syar’iyah” karya Syaikhuna Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman, Cet. ke-tiga, ad-Darul Atsariyah 1430 H.

[2] Lihat Muqoddimah kitab Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 5-6

[3] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, h1m.19

[4] Imam Ibnul Qoyyim telah menjelaskan panjang lebar tentang macam-macam pertandingan olah raga baik yang di bolehkan atau yang dilarang dalam kitabnya al-Furusiyah Lihat pula al-Majmu’ fil Furusiyah al-Muhammadiyah wa ar­Riyadhoh al-Badaniyah, dan al-Arba’una ar-Riyadhiyah karya Muhammad Khoir Romadhan Yusuf

[5] Mukhtashor al-Fatawa al-Mishriyah hlm.251, Dinukil oleh Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalamal-Idhoh wa at-Tabyiin hlm. 197

[6] As’ilah Muhimmah hlm. 27, Fatawa Wa Taujihat fil Ijazah war Rohalat hlm. 96-97, dan as-Syarh al-Mumthi’ 10/94

[7] Seperti pada musim piala dunia tahun 1994 M, pemerintah Iran menunda waktu ujian nasional untuk semua pelajar se­kolah, karena bertepatan dengan musim piala dunia (Kuro­tul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 49)

[8] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 23-24

[9] Sebagai contoh, pemain asal Brazil “Ronaldo”, yang bermain di klub Barcelona-Spanyol dibayar $6.000.000 (enam juta dolar) pertahun, “Cristian Ronaldo” asal Portugal yang ditawar oleh klub Real Madrid dengan bayaran $156.000.000 (seratus lima puluh enam juta dolar pertahun), “Kaka” ber­pindah dari Brazil menuju klub AC Milan tahun 2003 M dengan bayaran 8.000.000,- (delapan juta euro) pertahun, lalu pin­dah ke klub Real Madrid dengan bayaran 70.000.000 (tujuh puluh juta euro) pada tahun 2007 M, dan masih banyak contoh lain yang mengejutkan kita semua (lihat as-Syarqul Ausath, Edisi 10816).

[10] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 22

[11] Para suporter yang nekad juga tidak memperdulikan ke­selamatan jiwanya., mereka menghentikan truk, dan mo­bil – mobil terbuka untuk mereka tumpangi secara paksa secara rombongan menuju tempat pertandingan. Bahkan mereka memukuli kendaraan-kendaraan yang tidak berse­dia mereka tumpangi, mereka pun ada yang memaksakan diri menumpang kereta api tanpa bayar secara rombongan sehingga memaksa para penumpang yang resmi membatal­kan acara mereka karena ketakutan, belum lagi sering ter­jadi diantara para suporter yang nekad akhirnya tewas men­genaskan karena terjatuh dari truk, dan kereta api.”

[12] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 22 dan 35 dan Para pelaku sejarah telah mencatat begitu banyak peristiwa bentrokan antara suporter sepakbola yang mengakibatkan kematian hingga ratusan orang dalam satu kali pertandingan (Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 36-38)

[13] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 58-59.

[14] Tidak jarang kita saksikan sebagian pemuda, berkhayal seolah-­olah dirinya pemain bola terkenal. Ketika dia menendang apa saja yang ada di hadapannya (walaupun botol bekas air mineral), dia mengatakan dengan suara keras, “Awas Mara­dona”, dan semisalnya,

[15] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 60-62

[16] Lihat Kurotul Qodam.bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 45-46

[17] Kami ringkas bab ini dari makalah kami dalam majalah AL FURQON edisi 11 tahun V Jumada ats-Tsaniyah 1427 H dengan topik ‘Undian Berhadiah dalam Fiqih Islam Bab Undian ber­hadiah

[18] Imam Nawawi menukil ijma ulama tentang bolehnya hadiah 3 lomba yang disebut oleh Nabi di atas. (Lihat Syarhul Muslim 13/14, dan at-Tamhid oleh Ibnu Abdil Bar 14/88)

[19] HR. Ahmad dalam al-Musnad 2/474, Tirmidzi 4/205, Abu Dawud 3/63-64, Nasa’i 6/226, Ibnu Majah 2/960, dihasankan oleh Tirmidzi, dishohihkan oleh Ibnul Qothon dan Ibnu Da­qiq al-’Ied (lihat Irwa al-Gholil oleh al-Albani 5/333)

[20] Catur disepakati keharamannya oleh mayoritas sahabat Nabi seperti Ali Bin Abi Tholib, Abu Musa, Abu Sa’id dan lainnya, Ibnu Umar mengatakan, “Catur le­bih jahat daripada dadu.” (lihatal-Mubdi’ fi Syarhil Mumthi’ 10/233)

[21] Adapun dadu, maka Nabi pernah bersabda, “Barang sia­pa bermain dadu, maka sama dengan mencelupkan tangan­nya ke daging babi dan darahnya.” (HR. Muslim 226), juga Nabi bersabda : “Barang siapa bermain dadu maka dia telah durhaka kepada Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muwatho’ dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil 2670).

Catatan ; Catur dan dadu ditegaskan keharamannya oleh tiga ulama kontemporer, yaitu Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh al-Albani. (lihat Hukmus Syara’ fi La’bil Waroq  hlm. 43)

[22] Sebagaimana madzhab Syafi’i, madzhab Hanafi, Ibnu Taimi­yah dan Ibnul Qoyyim. (lihatRoudhoh Tholibin 10/351, Ma­jmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/227, dan al-Furusiyah hlm.171)

[23] Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i, madzhab Hambali dan Ibnu Hazm. (Lihat Bada’i ash-Shona’i 6/206, Aqdul-Jawahir as-Saminah 1/511-512, Roudhoh Tholibin 10/351, al-Mughni 13/407, dan al-Muhalla 7/354.

[24] Lihat catatan kaki sebelumnya, dan Fatawa Lajnah Da’imah 15/194, no.3323,

[25] Seperti yang difatwakan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Ibro­him w~ (lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 80

[26] Lihat Haqiqot Kurotal Qodam hlm. 276

[27] Lihat As’ilah Muhimmah hlm. 27, Fatawa Wa Taujihat fil Ijazah war-Rohalat hlm. 96-97, dan as-Syarh al-Mumthi’ 10/94

[28] Lihat Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 82-83

[29] Lihat perincian masalah ini secara mendetail oleh Syaikh Ibnu Utsaimin 11,Ig dalam Fatawa wa Taujihat fil Ijazah war Ro­halat hlm. 98-99 yang dikumpulkan oleh Kholid Abu Sholih. Demikian juga perincian fatwa oleh Syaikh Abdulloh bin Humaid 0,1 hlm. 276. (dinukil dariKurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 27-28, dan hlm. 91-92)

[30] Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman mengatakan, “Saya mengetahui dengan yakin, Syaikh kami al-Albani 0 pernah berkunjung ke rumah anak perempuan dan keluar­ganya pada suatu hari. Beliau menjumpai mereka duduk­duduk menonton sepak bola, dan Syaikh (al-Albani ’4+5..g) duduk (bersama mereka) dan beliau tidak menganggap hal ini terlarang, lalu tatkala beliau ditanya tentang aurot (paha laki-laki), beliau menjawab: “Perbedaan ulama dalam ma­salah paha (laki-laki) adalah perbedaan yang muktabar.(di­anggap), dan seorang tidak bermaksud melihat aurot terse-but.” (dinukil dari Kurotul Qodam bainal Masholih wal Mafasid, hlm. 29, footnote no 1)

[31] al-Madkhol4/298

[Disalin dari majalah AL FURQON edisi 9 th. Ke 9 1431/2010. Diterbitkan oleh Ma’had al-Furqon al-Islami, SrowoSidayu Gresik JATIM(61153)]

Sumber: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: