Idul Fitri, Hari Kemenangan….?

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarakaatu

Sebagaimana kita ketahui, bulan Ramadhan merupakan bulan berkah, bulan rahmat, bulan keampunan dan bulan dengan penuh kelebihan, bulan dimana dibukanya pintu-pintu syurga dan ditutupnya semua pintu neraka dan diikat semua syaitan, bulan dimana orang-orang yang malaksanakan ibadah berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan nescaya akan diampuninya segala dosanya yang telah lalu, bualn dimana segala kelebihan ada padanya.

Dan kini, tak terasa  hari-hari dengan beribu kelebihan tersebut telah berlalu. dan umat muslimpun dengan suka citanya mereka merayakan hari (kemenangan?) hari raya “Iedul Fitr”, segala daya dan upaya, harta, tenaga pikiran diupayakan untuk merayakan (kemenangan?) tersebut, berbagai cara pun dilakukan dari mulai SMS, BBM, WA hingga kunjungan kesanak famili ,saudara, kerabat, hingga teman, bahkan kepada orang yang tidak pernah kenal sekaipun mereka sapa, dari mulai medoakan akan harapan diterima nya amal ibadah puasa mereka sampai permintaan maaf terhadap kesalahan kesalahan yang mereka sadari dan tertahan selama setahun( (nunggu lebaran), ataupun perkara-perkara yang tak pernah mereka lakukan pokoknya semua “Mohon maaf lahir dan batin”.

Bulan Ramadhan bagi sebagian umat islam merupakan bulan yang mereka nanti-nantikan, serta dijadikannya sebagai bulan pendekatan diri kepada sang Khalik, bulan pembelajaran, bulan pengakukan dosa dan pertaubatan nasuha, dimana mereka bersungguh-sunggu beribadah dibulan tersebut,

Akan tetapi sering selepas dari bulan yang mereka nantikan tersebut disusul dengan datangnya 1 syawal (lebaran) kebanyakan dari mereka terbawa kepada  epifora yang berlebihan dalam merayakan (kemengan?) tersebut dan lupa bahwa segala pembelajaran yang mereka tekuni selama satu bulan tidak berbekas pada bulan-bulan berikutnya.

Maka jangan heran kenapa Rasulullah dan para sahabatnya justru menangis di hari-hari terakhir Ramadhan. Bukan karena menangis haru, tapi menangis karena Ramadhan akan pergi dan tak ada satupun kepastian mereka akan berjumpa lagi dengan bulan penuh ampunan itu. dan menganggap  1 syawal adalah hari penuh kesedihan dan kekalahan. Ibadah akan dihitung normal lagi, dan semua ibadah akan terasa berat lagi. Hari itu syetan lepas dari belenggunya dan sesungguhnya syetanlah yang justru merayakan kemengan, dan umat Islam sekarang ini bersuka cita merayakan atasnya,

Kemudian sebagai parameter seberapa besar (kemenangan?) yang umat Islam rayakan pada hari lebaran ini bisa kita perhatikan bagaimana sholat orang-orang ketika setelah 1 syawal nanti. Berapa shaf sholatnya? Atau jangan-jangan masjid di tempat kita malah libur hari itu karena pengurusnya sibuk menerima tamu di rumah. dan pada sepanjang hari berikutnya kembali sperti semula.

Jika demikian yang terjadi maka lengkaplah sudah kemenangan ini. Dan mungkin syetan akan bersorak sorai menyambut hari kemenangan ini.

Di Indonesia idul fitri dipahami sebagai “hari kemenangan”. karenakan kita menyebutnya sebagai “idul fitrah”, dan diartikan sebagai “kembali ke fitrah”. Fitrah atau suci, yaitu ketika manusia bersih dari segala dosanya karena telah melaksanakan puasa Ramadan sebulan sebelumnya.

Makna sebenarnya idul fitri. secara bahasa “iedul fithr” memiliki arti “hari raya makan” atau “hari raya berbuka”. Disebut demikian karena pada hari tersebut umat Islam tidak lagi berpuasa karena Ramadan telah selesai, malah diharamkan untuk berpuasa.

Tidak ditemukan dalam suatu riwayat yang mengatakan bahwa Iedul Fithr adalah hari kemengan,  Bagi para sahabat dan ulama salafus shalih, akhir Ramadan merupakan momen yang sangat menyedihkan dan penuh air mata. Satu bulan yang sangat mulia, yang di dalamnya penuh dengan keberkahan, tak terasa telah usai dan pergi setidaknya selama satu tahun. Itu pun jika umur masih mencapainya.

Namun demikian perayaan “Iedul Fithr” adalah merupakan ibadah yang wajib kita lak sanakan, oleh karenanya marilah kita laksanakan hal-hal yang disunnahkan ketika hari raya ini dengan sewajarnya. serta menghindari segala perkara yang mendekatkan diri dari kelalaian mengingat Allah aza wa jalla, kemaksiatan atau perbuatan dosa yang mengotori kemeriahan hari raya umat Islam ini.

Dan kita jadikan bulan ramadhon ini sebagai sebenar-benarnya pembelajaran dalam ketaatan dan istiqomah untuk bulan -bulan berikutnya.

sebagaimana  firman Allah, Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “

wassalam.

Bekasi, 1 syawal 1436 H,

Abu Afifah

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: