ANJURAN MEMPERHATIKAN TETANGGA

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه و من واله.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masih dalam Bāb Al-Birr wa Ash-shilah dan kita masuk pada hadits berikutnya.

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abū Dzarr radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (HR Muslim)

Maraqah (مَرَقَةً) artinya adalah air yang dimasak yang di dalamnya terdapat daging atau sayuran sehingga banyak kuahnya. Jadi intinya/pokoknya adalah kuah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh kita, kalau memasak sayur atau daging kita banyakkan kuahnya sehingga airnya tersebut bisa kita bagi-bagikan kepada tetangga.

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ

“Dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.”

⇒ Artinya, berikanlah kepada mereka hadiah dari apa yang kita masak.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Hadits ini memberi anjuran kepada kita untuk memperhatikan tetangga.

Dan telah berlalu hadits-hadits yang menjelaskan akan pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Bahwasanya tetangga adalah termasuk orang yang paling utama bagi kita untuk berbuat baik kepadanya.

Dan hal ini akan menambahkan kasih sayang antara seseorang dengan tetangganya.

Apalagi jika terkadang timbul perselisihan antara seseorang dengan tetangganya gara-gara anak-anak misalnya, atau suara-suara tertentu atau namanya tetangga, terkadang terjadi keributan, cekcok dan ketidakcocokan.

Maka hal ini bisa dihilangkan dengan saling memberi hadiah.

Karena tatkala seseorang memberi hadiah kepada tetangganya maka akan hilang sū-uzhan, kebencian dan prasangka-prasangka yang buruk.

Dengan adanya hadiah-hadiah tersebut berarti dia husnuzhan, dia tahu bahwasanya tetangganya telah perhatian terhadap dia.

Hadits ini adalah contoh minimal, artinya minimal seorang berbuat baik meskipun hanya memberikan kuah.

Dan ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk pelit.

Ada orang yang mungkin pelit ketika masak sesuatu dan ada orang yang miskin. Baik yang pelit maupun yang miskin, mungkin dia tidak bisa memberikan daging kepada tetangganya (karena pelit atau memang karena miskin).

Akan tetapi, kata Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam, tidak mesti daging atau sayur yang diberikan, berikan kuahnya, perbanyak kuahnya.

Seseorang yang tadinya memasak kuah, misalnya dengan air 1 liter, maka tambahlah lagi 1 liter kemudian dia tambahi bumbunya sehingga tatkala memasak aroma kuahnya akan masuk ke rumah-rumah tetangga.

Tetangga akan mencium bau tersebut dan membuat hati mereka tertarik dengan masakan/makanan tersebut, maka kita berikan hadiah kepada mereka dari kuah tersebut.

Apalagi kalau kita memberikan juga sebagian dagingnya kepada mereka, ini lebih utama lagi. Kalau kuah saja dianjurkan oleh Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam, apalagi daging.

Dan kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tadi, “Perhatikanlah tetangga-tetanggamu”. Artinya, kalau kita bisa berikan ke beberapa rumah, terutama rumah yang dekat dengan rumah kita, mereka lebih utama untuk kita berbuat baik kepada mereka.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Bagi tetangga yang menerima hadiah tersebut jangan remehkan hadiah tersebut, sebagaimana bagi si pemberi hadiah jangan mengatakan:

“Apa sih? Ngapain kita kasih kuah? Nanti apa kata mereka terhadap kita?”
Jangan begitu, berikan saja, tidak masalah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk memberikan meskipun hanya kuah.

Kalau kita punya kelebihan harta berikan juga dagingnya dan sayurnya.

Kemudian yang menerima hadiahpun juga jangan meremehkan dengan mengatakan:
“Apa sih orang tersebut? Masa memberi cuma kuah saja, pelit banget.”

Jangan.

Ingat sabda Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam, jangan meremehkan kebaikan apapun.

Orang tersebut berbuat baik kepada kita berarti dia sudah perhatian kepada kita.

Kita hargai perhatian tersebut, sebagaimana Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam tidak menolak hadiah, hadiah apapun yang diberikan kepada Nabi, Nabi terima (tidak menolak).

Kalau seseorang misalnya tidak suka dengan hadiah tersebut maka bisa dia berikan kepada orang lain, artinya seseorang menyenangkan hati orang lain.

Tatkala orang lain memberikan hadiah kita terima dan kita husnuzhan kepada dia, minimal dia memberi perhatian kepada kita, minimal dia tidak melupakan kita.

Dan ini akan memberi pengaruh dalam hati meskipun pemberiannya tidak banyak.

Dan kita berusaha membalas kebaikan tersebut, minimal dengan mengucapkan “Jazākallāhu khairan” (semoga Allāh membalas kebaikanmu), kita mendo’akan dia atau kita berikan balik kepada dia.

Kalau memungkinkan, dia kasih kita kuah, maka suatu saat kita kasih dia daging.

Kemudian, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Sebagian ulama mengatakan bahwasanya hadits ini datang dalam bentuk masalah kuah.

Artinya tatkala seseorang memasak sayur atau daging maka kuahnya akan sampai ke tetangganya dan dicium oleh tetangganya, maka kita dianjurkan untuk memberikan sebagian dari apa yang kita masak.

Demikian juga dengan apa yang dilihat, sebagaimana apa yang dicium dapat memberi pengaruh, demikian juga dengan apa yang dilihat.

Artinya misalnya kita beli makanan dari pasar kemudian kita bawa pulang ke rumah, misalnya kita bawa buah-buahan. Tatkala kita mau masuk rumah ternyata tetangga kita melihat kita baru dari pasar dan melihat buah-buahan yang kita bawa, sebagaimana di hatinya tertarik dengan mencium kuah, demikian juga di hatinya akan tertarik tatkala melihat makanan yang kita bawa.

Maka jangan lupa kita berikan sedikit kepada tetangga kita karena dia sudah terlanjur melihat makanan atau buah-buahan yang kita bawa.

Demikian, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Jangan pernah meremehkan kebaikan apapun dan juga berusaha untuk berbuat baik kepada tetangga.

Dan ini akan menambah kasih sayang diantara tetangga dan menghilangkan berbagai macam cekcok & perselisihan di antara tetangga karena akan menghilangkan berbagai macam sū-uzhan dan menambah husnuzhan diantara para tetangga.

والله تعالى أعلم بالصواب
__________________________
Ustadz: Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: