HIDUP SUKSES DENGAN BERPRASANGKA BAIK KEPADA ALLAH

Ustadz Firanda Andirja, MA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله على إحسانه والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشانه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sesungguhnya di antara ibadah yang sangat agung yang merupakan ibadah hati adalah berhusnuzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Berbaik sangka kepada Pencipta kita yang telah memberi rizki kepada kita, yang telah memudahkan segala urusan kepada kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

(QS Al Baqarah: 195)

Ibnu Jarir Ath Thabarī rahimahullāh dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ikrimah menafsirkan ayat ini:

وَأَحْسِنُوا أي أحسنوا الظن بااله

“Berbuat baiklah, yaitu berprasangkalah baik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ

“Janganlah sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

(HR Muslim dari Jabir radhiyallāhu ‘anhu)

Dalam hadits qudsi, Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Sesungguhnya Aku tergantung persangkaan hamba-Ku. Oleh karenanya, hamba-Ku. silahkan dia berprasangka dengan apa yang dia mau terhadap diri-Ku,

إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ ‍

Jika dia berbaik sangka berupa kebaikan maka kebaikan baginya, jika dia berprasangka buruk maka keburukan baginya.”

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’ālā,

Sungguh, tatkala seorang hamba senantiasa berprasangka baik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, maka dia telah mendapatkan kebaikan yang sangat besar.

Ibnu Mas’ud radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu pernah berkata:

“Tidaklah seorang hamba diberikan kebaikan yang lebih baik daripada berbaik sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

Oleh karenanya, kita seorang muslim hendaknya berbaik sangka kepada Rabb kita, terutama pada kondisi-kondisi berikut ini:

√ KONDISI PERTAMA | Tatkala seorang bertaubat setelah melakukan perbuatan dosa.

Maka hendaknya dia segera bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan berbaik sangka kepada Allāh bahwasanya Allāh akan menerima taubatnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menerima shadaqah dan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dialah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

(QS At Taubah: 104)

Ingatlah hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِيْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ، اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ.

“Seorang hamba melakukan dosa kemudian dia berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.”

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa dan ia mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.’

Kemudian hamba ini melakukan dosa lagi dan ia berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.’

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa dan ia mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.’

Kemudian hamba ini melakukan dosa lagi dan ia berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.’

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa dan ia mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.

“Berbuatlah sekehendakmu, karena aku pasti mengampunimu (jika kamu bertaubat).”

(HR Bukhâri: 7507 dan Muslim: 2758)

• Kata para ulama:

“Selama seorang berdosa, kemudian bertaubat, kemudian berdosa, kemudian bertaubat dan memenuhi persyaratan taubat, maka selama itu pula Allāh akan senantiasa mengampuni dosa-dosanya.”

Oleh karenanya, seorang tatkala terjerumus dalam kemaksiatan, jangan dia menunda-nunda taubatnya.

Yakinlah bahwasanya Allāh maha menerima taubatnya.

Seketika dia bertaubat, seketika itu pula Allāh akan mengampuni dosa-dosanya.

Ingatlah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لله أرحم بعباده من هذه بولدها

“Sesungguhnya Allah Subhānahu wa Ta’āla lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sendiri.”

(HR Bukhari dan Muslim)

√ KONDISI KEDUA | Tatkala kita berdoa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Hendaknya kita berdoa dengan kondisi meyakini bahwasanya:

↝ Allāh akan mengabulkan doa-doa kita

Bagaimana tidak?

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā telah berfirman dalam Al Qur’an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu telah berkata, ‘Berdoalah kepadaKu (mintalah kepada-Ku), niscaya Aku akan kabulkan permintaan kalian’.”

(QS Al Mu’min: 60)

Dalam ayat yang lain kata Allāh Subhānahu wa Ta’ālā:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau wahai Muhammad tentang Aku, katakanlah Aku sangat dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.”

(QS Al Baqarah: 186)

Rasululllāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لاهٍ

“Berdoalah kalian kepada Allāh dalam kondisi yakin bahwasanya Allāh akan mengabulkan doa kalian. Dan ketahuilah bahwasanya Allāh tidak akan mengabulkan doa seorang yang hatinya lalai.”

(HR Tirmidzi: 3479)

↝ Allāh tidak akan mengabulkan doa yang tidak berhusnuzhan kepada Allāh, yang tidak yakin dikabulkan, akan tetapi jika seorang berhusnuzhan (berbaik sangka) kepada Allāh dan meyakini bahwasanya Allāh akan mengabulkan doanya, maka Allāh akan mengabulkan doanya.

Bagaimana Allāh tidak mengabulkan permintaan seorang mukmin yang bertaqwa kepada Allāh? Sedangkan iblis Allāh kabulkan doanya.

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (٣٦) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (٣٧)

“Iblis berkata, ‘Ya Allāh, tangguhkanlah kematianku sampai hari kiamat.’
Kata Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, ‘Kau akan ditangguhkan kematianmu’.”

(QS Al Hijr: 36-37)

Bagaimana kita bersu’uzhan (berburuk sangka) kepada Allāh, sementara Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengabulkan doa-doanya orang-orang kafir?

Dalam Al Qur’an Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Tatkala mereka (kaum musyrikin) berlabuh di lautan dan mereka diterpa dengan ombak yang begitu besar,merekapun berdoa kepada Allāh dengan penuh keikhlasan, Allāh kabulkan, Allāh selamatkan mereka menuju daratan, tatkala Allāh selamatkan mereka menuju daratan, tiba-tiba mereka berbuat kesyirikan kembali.”

(QS Al ‘Ankabut: 65)

Bagaimana dengan seorang,

√ Yang beriman.
√ Yang bertaqwa.
√ Yang sujud.
√ Yang merendahkan dirinya karena Allāh Subhānahu wa Ta’ālā?
√ Yang mengalirkan air mata dengan penuh pengharapan, minta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā?
√ Yang berdoa di sepertiga malam yang terakhir, tatkala semua orang dalam keadaan tidur.

Bagaimana orang seperti ini tidak akan dikabulkan doanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā?

Sementara Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mencari hamba-hamba-Nya yang berdoa di sepertiga malam yang terakhir.

Allāh berkata:

هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ

“Apakah ada di antara hamba-Ku yang beristighfar, Aku akan ampuni dosa-dosanya. Apakah ada diantara hamba-hamba-Ku yang minta, maka Aku akan kabulkan permintaanya.”

(HR Ahmad: 9220)
______________________________

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: