Islam Rahmatan Lil Alamin Hadirkan Pemimpin Idaman

Pilu berkali-kali terjadi, janji kosong terulang kembali. Ketika harapan dihembuskan maka seringkali hati rakyat yang jadi korban atas kepercayaan mereka yang disalah-gunakan.

Pada (26/10/15) Presiden negeri ini menegaskan
,”Hingga hari ini – ujar presiden – sudah ada 9 menteri, 19 gubernur, 300 lebih bupati dan walikota hingga 2 gubernur Bank Indonesia yang dipenjara karena kasus korupsi.” Belum lagi tentang kasus Bupati suatu kabupaten yang dinyatakan positif sebagai pengguna narkoba. Jelas ini menciderai kepercayaan rakyat kepada pemimpin.

Ketidak percayaan rakyat itu bisa dilihat pula dari rendahnya partisipan dalam Pilkada di suatu daerah bahwa pada tahun 2015. Golputnya mencapai 75,8 persen.
Artinya, warga kota tersebut yang datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) menggunakan hak pilihnya hanya 24,02 persen. Di Kota lainnya, nyaris mencapai 50 persen. Di berbagai daerah di Pulau Jawa, ternyata juga tidak jauh berbeda. Kemenangan Golput berkisar antara 40 sampai 50 persen. (sumber: beritalima)

Padahal Rasulullah saw bersabda,
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu lemah, sementara kekuasaan itu amanah. Kekuasaan itu kelak pada Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang mengambilnya dengan benar (berhak) dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim).

Kekuasaan itu adalah amanah, dan kelak banyak mereka yang menjadi penguasa menyesali, sebab mereka berada dalam kehinaan. Namun, pengecualian bagi mereka yang menunaikan atas kewajiban menjadi pelindung, pengayom dan melakukan ketaatan kepada Allah SWT.

Hadits riwayat al-Bukhari dari jalur Abu Hurairah ra. bahwa Rasululah saw. bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah saat-saat kehancuran.” Beliau ditanya, “Bagaimana (bentuk) penyia-nyiaan amanah itu?” Beliau bersabda:
Jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak layak) maka tunggulah saat-saat kehancuran (HR al-Bukhari).

Hadis ini melarang suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak layak), yakni orang yang tidak mampu menjalankan amanah dan kewajibannya. Dengan demikian, penguasa harus orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan amanah kekuasaan.

Maka untuk menghadirkan pemimpin idaman tersebut, skema yang dijalankan adalah skema ketaatan dan rasa takut kepada Allah SWT. Bagaimana menemukannya, maka mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin adalah upaya mewujudkannya. Yaitu di mana sistem dan pemimpinnya mau tunduk dan taqwa kepada Allah SWT. Tidak lain dengan diterapkannya Syariah Islam secara sempurna.

Rizqi Awal
Telegram channel: @rizqiawal
(Pengurus Yayasan Majelis Dakwah Islam Nusantara)

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: