Syarat Dan Adab Agar Do’a Kita Diijabah.

Syarat Dan Adab Agar Do’a Kita Diijabah.

1. Mencari Yang Halal.

Diriwayatkan oleh Hafizh bin Mardawaih dari Ibnu Abbas, katanya: “Saya membaca ayat ini di hadapan Nabi saw …..يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ حَلَـٰلاً۬ طَيِّبً۬ا ;Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik … (Q.S. Al-Baqarah:168), Tiba-tiba berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash, lalu katanya: “Ya Rasulullah! Tolong Anda doakan kepada Allah agar saya dijadikan orang yang selalu dikabulkan doanya!” Ujar Nabi: “Hai Sa’ad! Jagalah soal makananmu, tentu engkau akan menjadi orang yang makbul doanya! Demi Allah yang nyawa Muhammad berada dalam genggaman-Nya! Jika seorang laki-laki memasukkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima doanya selama empat puluh hari. Dan siapa juga hamba yang dagingnya tumbuh dari makanan haram atau riba, maka neraka lebiih layak untuk melayaninya!”

2. Menghadap Kiblat jika dapat. Nabi saw. pergi keluar buat shalat istisqa’ – minta hujan – Maka beliau berdoa dan memohonkan turunnya hujan sambil menghadap kiblat.

3. Memperhatikan saat-saat yang tepat dan suasana utama. Seperti pada hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga terakhir dari malam hari, waktu sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan iqamat, saat mulai pertempuran, ketika dalam ketakuatan atau sedang ber-iba hati. Dari Abu Umamah: “Seseorang bertanya:’Ya Rasulullah, doa manakah yang lebih didengar Allah? Ujar Nabi: ‘Doa di tengah-tengah akhir malam dan selesai shalat-shalat fardhu’.” (Riwayat turmudzi dengan sanad yang sah). Juga diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Jarak yang paling dekat di antara hamba dengan Tuhannya ialah ketiak ia sedang sujud, Maka perbanyaklah doa ketika itu, karena besar kemungkinan akan dikabulkan!” (H.R.Muslim). Dan mengenai iii sangat banyak hadits yang menerangkannya.

3. Mengangkat kedua tangan setentang bahu. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas, katanya: “Jika kamu meminta hendaklah dengan mengangkat kedua tanganmu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istighfar ialah dengan menunjuk dengan sebuah jari, dan jika berdoa dengan melepas semua jari-jemari tangan!”
(Untuk berdoa setelah shalat fardhu tidak disunnahkan )

3. Memulai dengan memuji Allah, memuliakan dan mengucapkan shalawat Nabi. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa’i, juga oleh Turmudzi yang menyatakan sahnya, dari Fudhalah bin ‘Ubeid: “Bahwa Rasulullah saw. mendenganr seorang laki-laki berdoa selesai shalatnya tanpa membesarkan Allah dan menucapkan shalawat Nabi, maka sabdanya: ‘Orang ini terlalu tergesa-gesa’!” Lalu dipanggilnya orang itu, lalu katanya kepadanya – atau juga kepada orang-orang lain – “Jika salah seorang diantaramu berdoa, hendaklah dimulai dengan membesarkan Tuhannya yang Maga Agung dan Maha Mulia itu serta menyanjung-Nya, lalu mengucapkan shalawat atas Nabi saw., serta setelah itu barulah berdoa; meminta apa yang diinginkannya.”

3. Khusu’, menyatakan kerendahan diri dan menyederhanakan suara (antara bisik-bisik dan jahar). Berdasarkan firman Allah swt. وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِہَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٲلِكَ سَبِيلاً۬ dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Q.S.Al-Isra’:110). dan ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ” Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas .” (Q.S.Al-A’raf:55). Dan telah diterima dari Abu Musa Asy-ari bahwa ketika orang-orang mendoa dengan suara keras, beliau bersabda; “Hai manusia! berdoalah dengan suara perlahan, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli ataupun berada di tempat yang jauh. yang kamu seru itu ialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan tempat kamu memohon itu lebih dekat lagi kepada salah seorangmu dari leher kendaraannya! Hai Abdullah bin Qeis! Maukah kamu kutunjuki sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? Yaitu: ‘Laa haula walaa Quwwata illaabillaah’.”

4. Do’anya tidak mengandung dosa atau memutus tali silaturahim. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id Khudri bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak seorang Muslim pun yang berdoa kepada Allah sedang doanya itu tidak mengandung dosa atau bermaksud hendak memutuskan silaturahim, kecuali akan diberi Allah salah satu diantar tiga perkara: Pertama akan dikabulkan-Nya doa itu dengan segera. Kedua adakalanya ditangguhkan-Nya untuk menjadi simpanannya di akherat kelak. Dan ketiga, mungkin dengan menghindarkan orang itu dari bahaya yang sebanding dengan apa yang dimintanya.” Tanya mereka: “Bagaimana kalau kami banyak berdoa?” Ujar Nabi saw. “Allah akan lebih memperbanyak lagi!”
Tidak menganggapnya lambat akan dikabulkan Allah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Tentu doa seseorang akan dikabulkan Allah, selama orang itu tidak gegabah mengatakan: ‘Saya telah berdoa, tetapi doa itu tidak juga dikabulkan Allah ‘!”

5. Berdoa dengan keinginan pasti akan dikabulkan (Optimis). Berdasarkan hadits yang diriwayakan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang diantaramu mengatakan: ‘Ya Allah ampunilah daku jika Engkau menginginkannya, ya Allah, beri rahmatlah daku jika Engkau mengingininya dengan tujuan untuk memperkuat permohonannya itu, karena Allah Ta’ala, tak seorangpun yang dapat memaksa-Nya!”
Memilih kalimat-kalimat yang mencakup makna yang luas. Umpamanya رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Nabi saw. memandang utama berdoa dengan kalimat-kalimat yang mengandung arti yang luas, dan tidak hendak menggunakan yang lain daripada itu. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tak ada sebuah doa pun yang diucapkan oleh hamba yang lebih utama dari: ‘Allahumma innii as’alukal mu’afata fid dunya wal akhirah'(Ya Allah, saya memohon pada-Mu keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat’!)”

6. Menghindari yang tak baik terhadap diri, keluarga dan harta benda sendiri. Dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu berdoa buruk terhadap dirimu, begitupun terhapelayan-pelayanmu terhadap pelayan-pelayanmu dan harta bendamu! jangan sampai nanti doamu itu bertepatan dengan suara saat dimana Allah bisa memenuhi permohonan, hingga doa burukmu itu akan benar-benar terkabul!”
Mengulangi doa sampai tiga kali. Diterima dari Abdullah bin Mas’ud: “Bahwa Rasulullah saw. senang sekali berdoa dan istighfar tiga kali.” (Riwayat Abu Daud).

7. Mulai berdo’a untuk diri pribadi, baru mendoakan orang lain. Firman Allah Ta’ala: رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٲنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ : “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.(Q.S.Al-Hasyr:10). Juga diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, katanya: “Bila Rasulullah saw. teringat akan seseorang lalu mendoakannya maka lebih dulu dimulainya dengan dirinya sendiri!” (Riwayat Turmudzi dengan sanad yang sah).

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: