H A S A D
Ustadz Firanda Andirja, MA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan berbicara tentang prahara iblis. Tentang kisah tragis yang dialami oleh iblis la’natullāh ‘alaih, yang merupakan penyebab terjerumusnya seluruh penghuni neraka ke dalam neraka Jahannam.

Dialah iblis, siapakah iblis?

Iblis, sebagaimana pendapat jumhur ulamā dari kalangan mufassirin, Ibnu Abbās dan lainnya, bahwasanya dia dahulu termasuk golongan para malaikat, bahkan disebutkan oleh Ibnu Abbās,

كان من أشد الملائكة اجتهادًا واكثرهم وعلمًا

“Ia termasuk malaikat yang paling semangat beribadah dan paling banyak ilmunya.”

~~> Namun dia diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Awal dari kisah tragis ini, tatkala Allāh mendatangkan pendatang baru, dialah nenek moyang kita, Ādam ‘alayhissalām.

⇒ Allāh datangkan pendatang baru ini langsung dengan memuliakannya.
⇒ Allāh ciptakan Adam ‘alaihissalam langsung dengan kedua tangan-Nya.
⇒ Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kemudian memuliakan Ādam dengan ilmu.

Sebagaimana Allāh berfirman (QS Al Baqarah: 31):

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Allāh ajarkan kepada Ādam ‘alayhissalām nama-nama (ilmu), lalu Allāh tanyakan kepada para malaikat tentang nama-nama tersebut, ternyata malaikat tidak tahu, maka nampaklah kemuliaan Ādam ‘alayhissalām.”

Tatkala para malaikat sudah mengetahui kemuliaan Ādam ‘alayhissalām, maka Allāh perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Ādam ‘alayhissalām.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

“Tatkala Kami perintahkan kepada malaikat untuk sujud kepada Ādam maka seluruh malaikat sujud kepada Ādam ‘alayhissalām kecuali iblis.”

(QS Al Baqarah : 34)

Siapa iblis?

Tadi kita katakan, dikatakan oleh Ibnu Abbās, termasuk malaikat yang paling rajin beribadah, termasuk malaikat yang paling banyak ilmunya. Dia tidak mau sujud kepada Ādam ‘alayhissalām, ada apa gerangan?

Inilah awal dari kisah tragis yang dialami oleh iblis.

Ternyata selama ini dia banyak beribadah, selama ini dia begitu banyak menuntut ilmu. Bahkan sebagian ulama mengatakan iblis dahulu adalah Penjaga surga. Iblis di muliakan oleh Allāh sehingga dia adalah penjaga surga.

Ternyata begitu datang pendatang baru yang ilmunya luar biasa (yaitu) Ādam ‘alayhissalām, maka muncullah hasad dalam dada iblis.

Hasadnya ini tidak kuat untuk ditahan dalam hatinya, maka mengantarkan dia untuk enggan sujud kepada Ādam ‘alayhissalām.

Sebagaimana disebutkan oleh para ulamā :

√ Iblis merasa lebih tua
√ Iblis merasa lebih berilmu
√ Iblis merasa lebih banyak ibadahnya.

Kenapa dia harus sujud kepada orang yang baru datang, baru diciptakan?

⇒ Ia enggan padahal ini perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla, padahal perintah Dzat yang telah menciptakan iblis la’natullāh ‘alaih.

Hasadnya tersebut menjerumuskan dia (Iblis) ke dalam kesombongan. Dia rela masuk neraka Jahannam.

⇒ Dia tidak mau direndahkan, dia merasa direndahkan jika sujud kepada Ādam ‘alayhissalām.
⇒ Dia rela masuk neraka Jahannam yang penting dia tidak sujud kepada Ādam ‘alayhissalām.
⇒ Dia sakit hati kalau harus sujud kepada Ādam ‘alayhissalām.

Oleh karenanya, jangan pernah kita meremehkan penyakit hasad.

Lihatlah, dosa yang pertama kali terjadi di alam semesta ini, dosa yang pertamakali terjadi di langit adalah karena hasad (yaitu) hasadnya iblis kepada nenek moyang kita, Ādam ‘alayhissalām.

Dan sebagaimana perkataan ulama, dosa yang pertama kali terjadi di atas muka bumi, juga karena hasad, yaitu “Tatkala Qabil membunuh saudara kandungnya sendiri Habil”.

Allāh mengatakan:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ

“Bacakanlah terhadap mereka kisah dua anak Ādam yang mereka berdua mempersembahkan korban kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Korban yang satu (Habil) diterima, korban yang lainnya (Qabil) tidak diterima.”

(QS Al Maidah : 27)

Maka Qabil pun hasad dan dia mengatakan:

لَأَقْتُلَنَّكَ

“Sungguh aku akan bunuh engkau, wahai saudaraku.”

Akhirnya diapun membunuh saudaranya, saudara kandungnya sendiri, seayah dan seibu, karena hasad.

Karenanya jangan pernah sepelekan hasad. Hasad bisa mengantarkan seorang terjerumus dalam bentuk berbagai macam dosa.

Betapa banyak orang terjerumus dalam ghībah gara-gara hasad, betapa banyak orang terjerumus dalam kedustaan, dia mengghībahi saudaranya yang dia tidak sukai.

Kenapa, dia hasad kepada saudaranya tersebut? Dia berusaha mencari-cari kesalahan saudaranya tersebut, kenapa?

Karena hasad, dia nekat berdusta untuk menjatuhkan saudaranya tersebut, kenapa?

Karena dia hasad.

Bahkan dia rela memukul saudaranya, bahkan dia rela membunuh saudaranya, semuanya karena hasad.

Dan diantara jahatnya hasad, kata para ulama:

“Orang yang hasad, dia bukan hanya ingin naik derajatnya sebagaimana orang yang dihasadi, tapi dia ingin orang yang dia hasadi untuk jatuh terjerumus sebagaimana dia.”

Inilah hasadnya iblis. Iblis bukan ingin naik, ingin belajar ilmu kemudian menyamai Ādam ‘alayhissalām, tidak!

Tetapi dia ingin Ādam yang turun, adam yang turun masuk neraka bersama dia kedalam neraka Jahannam. Ini adalah jahatnya iblis.

Oleh karenanya, Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pintu-pintu hasad terbuka, hati-hati.

Dan iblis tahu bahwasanya hasad merupakan penyakit, senjata yang manjur untuk menjerumuskan orang dalam berbagai kemaksiatan. Untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam berbagai permusuhan dan dalam berbagai perpecahan.

Oleh karenanya, apa kata hadīts Nabi?

Dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya syaithān sudah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalāt di Arab, tetapi dia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba diantara mereka.”

(HR Muslim dari shahābat Jabir Radhiyallāhu ‘anhu)

Dan diantara perkara yang menyalakan api perpecahan adalah hasad diantara kaum muslimin.

Karenanya hati-hati, jangan sampai Anda terkena penyakitnya iblis, yaitu Anda hasad terhadap pendatang baru.

Dan ingat, kita mungkin sudah lama berdakwah, kita mungkin sudah lama bekerja, mungkin diantara kita sudah lama buka toko, kemudian tiba-tiba ada orang lain buka toko disamping kita, mungkin akan timbul hasad. Tetapi kita sebagai kaum muslimin yang baik, kita lawan hasad tersebut.

Ingat bahwa hasad ini dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mungkin kita sudah lama menjadi panitia pengajian, tiba-tiba datang sekelompok orang untuk bikin pengajian yang mungkin lebih hebat daripada kita. Harusnya kita bersyukur, alhamdulillāh, tugas kita sudah terbagi. Jangan kita hasad.

Ingat, syaithān ingin mengadu domba antara kita dengan mereka.

Mungkin kita dahulu lebih lama berdakwah, tiba-tiba ada orang lain berdakwah, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla Alhamdulillāh tugas kita sudah terbagi (ada yang mengemban tugas kita/tugas kita semakin berkurang).

Dan saya ingatkan kepada para Ikhwān yang juga mungkin pendatang baru, tatkala mendatangi suatu tempat yang baru kita harus punya adab. Mengenal siapa orang-orang yang lebih dahulu daripada kita. Kita harus tahu bahwasanya mereka lebih berjasa kepada kita, bisa jadi kita datang adalah karena jasa mereka yang telah membuka kemudahan bagi kita.

· Apakah kita adalah panitia baru, maka hargailah panitia yang lama.
· Apakah kita pekerja baru, maka hargailah pekerja yang lama.
· Apakah kita ustadz yang baru, maka hargailah ustadz yang lama.

Dan sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا و يوقر كبيرنا

“Bukanlah termasuk dari golongan kami orang yang tidak sayang kepada yang lebih muda darinya dan tidak menghormati yang lebih tua.”

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dari berbagai macam penyakit hati, diantaranya penyakit hasad.

Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

√ Menyatukan hati-hati kaum muslimin.
√ Menyatukan hati-hati para ikhwān
√ Menyatukan hati-hati para akhwāt
√ Menyatukan hati-hati para ummahat
√ Menyatukan hati-hati para ustadz, para da’i dan seluruhnya.

Demikian,

والله تعال أعلمُ بالصواب
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________________

Saran Dan Kritik
Silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: