PERINTAH MEMINTA PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLĀH (BAGIAN 2)
Ustadz Firanda Andirja, MA

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Para ikhwan dan akhwat, kita masuk pada bagian 2 dari hadits yang ke-5, dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menasehati Ibnu ‘Abbās, dengan berkata:

وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.

“Jika engkau memohon maka memohonlah kepada Allāh, jika engkau minta pertolongan maka minta lah pertolongan kepada Allāh.”

Pada nasehat yang ke-2 ini, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin agar Ibnu ‘Abbās (dan juga kita semua), agar senantiasa menggantungkan hati kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Perhatikan !

Kaidah yang disebutkan olah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, bahwa:

◆ Semakin seorang hamba merasa butuh kepada Allāh, maka semakin tinggi (derajatnya) di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Karena Allāh suka untuk dimintai.

Allāh mengatakan:

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Dan Rabbmu berkata: ‘Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan’.”
(QS Ghāfir: 60)

⇒ Allāh suka untuk diminta, ini sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena semua makhluk butuh (faqir) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh mengatakan:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

“Wahai manusia, pada hakekatnya kalian semua butuh (faqir) kepada Allāh dan Allāh Maha Kaya dan Maha Terpuji.”
(QS Fāthir: 15)

Allāh tempat meminta, oleh karenanya kita harus melatih diri untuk senantiasa meminta kepada Allāh.

Dari sini kita lihat bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengajarkan kita untuk berdo’a dalam segala hal; dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

⇒ Do’a bangun tidur, mau makan, mau minum, setelah makan, masuk WC, keluar WC, keluar rumah, masuk masjid, keluar masjid, masuk pasar, menempati suatu tempat, ada hujan turun, ada awan datang.

Kejadian apa saja Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam selalu mengajarkan untuk berdo’a (meminta) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kenapa?
Karena hati seorang hamba, semakin dia meminta (bergantung) kepada Allāh, maka dia:
✓Semakin dekat dengan Allāh.
✓Semakin tinggi derajatnya di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah rahasianya kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan kepada Ibnu ‘Abbās:

“Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allāh.”

Biasakan kita meminta kepada Allāh dalam segala hal.
Jangankan urusan akhirat, urusan duniapun kita minta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena jika seseorang minta kepada manusia, walau bagaimanapun akan merasa rendah dihadapan manusia tersebut.

⇒ Ada kerendahan yang dia tunjukkan di hadapan orang tersebut.

Kalau semakin sering dia meminta kepada orang lain, maka semakin menghinakan dia. Apalagi kalau minta bantuan kepada orang lain padahal tidak dalam kondisi terdesak, ini tentunya tercela.

Adapun kalau lagi kondisi terdesak, maka sesekali tidak masalah.

Allāh mengatakan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى 

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan.”
(QS Al Māidah: 120)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla, jika tidak dimintai, maka Dia murka.
Berbeda dengan anak Ādam, jika diminta justru dia murka.

Yang namanya manusia, meskipun sahabat kita (yang terkadang mengaku seperti saudara kita), kalau kita minta bantuan kepadanya sekali, dua kali, tiga kali, dia masih berlapang dada dan senyum.

Empat kali, lima kali, sepuluh kali mungkin masih tersenyum.
Tapi setelah sebelas kali, dua belas kali, maka mulailah mukanya cemberut.

Kalau kita meminta bantuan yang ke dua puluh kali, maka dia semakin menjauh, kemudian tidak mau lagi berhubungan dengan kita, atau mungkin malah mencela kita.

Demikianlah sifat manusia. Oleh karenanya, seseorang hendaknya meminta hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Al Imām Nawawi rahimahullāh menjelaskan bahwasanya:

◆ Kebutuhan manusia ada 2:

⑴ Kebutuhan yang tidak bisa dia peroleh kecuali dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seperti:
• hidayah
• kesembuhan
• petunjuk
• keselamatan di akhirat
• keselamatan dari godaan syaithān, syahwat dan syubhat.

⇒ Ini semua yang kita minta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka tidak boleh kita minta kepada ustadz, kyai, habib atau yang lain, ini tidak dibenarkan.

⑵ Kebutuhan yang Allāh jadikan kebutuhan tersebut berada pada manusia yang lain.

Seperti:
Orang ingin membangun rumah, dia butuh tukang atau ahli tertentu.
Maka tidak mengapa dia minta bantuan kepada orang lain.

Tapi dia juga berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh memilihkan yang baik, misalnya tukang/pekerja yang baik.

⇒ Jadi, hatinya tetap bergantung kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Intinya, para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

✓Kita berusaha melakukan segala perkerjaan sendiri dan tidaklah kita minta bantuan kecuali hanya sesekali.
✓Kalaupun minta bantuan, mintalah kepada sahabat kita yang dekat yang dia tidak menghinakan/merendahkan kita.

⇒ Itupun dalam kondisi terpaksa, bukan merupakan kebiasaan sehingga menyusahkan orang lain, justru kita berusaha membantu orang lain.

والله تعالى أعلم بالصواب
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
______________________________

Saran Dan Kritik
Silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: