ISRA’ MI’RAJ (BAGIAN 1)

ISRA’ MI’RAJ (BAGIAN 1)

Ustadz Firanda Andirja, MA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Al Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa besar, mu’jizat yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai bukti bahwa Beliau adalah seorang utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Al Isra’ wal Mi’raj adalah gabungan dari 2 kata:

Pertama Al Isra’, dalam bahasa arab artinya adalah perjalanan di malam hari.

Maksudnya adalah Allāh memperjalankan Nabi-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Allāh sebutkan dalam Al Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha suci Allāh yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Allāh berkahi di sekitarnya agar Kami menampakkkan baginya tanda-tanda kebesaran Kami.”

(QS Al Isrā’: 1)

Kedua, adapun Al Mi’raj dalam bahasa arab artinya adalah naik, yaitu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha di atas langit yang ke-7.

Inipun telah disinggung Allāh dalam Al Qur’an dalam surat An Najm:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤)

“Dan sungguh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya (yang memiliki 600 sayap dan kalau sayapnya dibuka akan menutup cakrawala) kedua kalinya tatkala di Sidratil Muntaha.”

(QS An Najm: 13-14)

Ini adalah dalil bahwa isra’ mi’jraj adalah perkara yang mendasar bagi kaum muslimin, karena tersebutkan dalam Al Quran. Apalagi dalam hadits Nabi banyak yang menyebutkan tentang kisah isra’ dan mi’raj ini.

Ada beberapa perkara yang ingin kita sampaikan.

▪Yang pertama yaitu kapan terjadinya Al Isra’ dan Mi’raj.

Tidak ada dalil yang tegas yang menyebutkan kapan terjadinya. Adapaun dalil yang datang tentang kapan terjadinya dan kapan bulannya semuanya adalah hadits dengan riwayat yang lemah, riwayatnya terputus.

Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

لم يقم دليل معلوم [[على ليلة الإسراء]] لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة ليس فيها ما يقطع به، ولا شرع للمسلمين تخصيص الليلة التي يظن أنها ليلة الإسراء بقيام ولا غيره

“Tidak ada dalil yang jelas yang menunjukkan kapan terjadinya [[malam lailatil Isra’ dan Mi’raj]], tidak disebutkan juga kapan bulannya dan kapan harinya.

Adapun nukilan-nukilan yang menyebutkan tentang kapannya tersebut adalah terputus (sanadnya), terjadi perselisihan dan tidak ada dalil yang bisa kita pastikan.

Dan demikian juga karenanya tidak disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan suatu malam yang disangka sebagai malam Isra’ Mi’raj untuk melaksanakan shalat malam atau amalan tertentu.”

(Za’adul Ma’ad/1/57-58).

Hal ini dinukilkan juga oleh Al Qasthalani ( Syaikhul Islam menukil juga dari Syaikh Abu Umamah), beliau berkata:

وأما ليلة الإسراء فلم يأت في أرجحية العمل فيها حديث صحيح ولا ضعيف

“Adapun malam Isra’, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk beramal khusus pada malam tersebut, baik hadits yang shahih maupun hadits yang dhaif.”

(Al Mawāhib Al Ladunniyah bil Minah Al Muhammadiyyah, juz 3 halaman 14)

Perhatikan di sini!

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menjelaskan kepada para shahabat kapan terjadinya.

Logikanya, kalau memang ada amalan khsusus, ada perayaan khsusus, ada ibadah khusus ada shalat malam khusus atau ada wirid khusus Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pasti akan menjelaskan kepada shahabat tentang keutamaan malam tersebut karena di balik penentuan malam tersebut ada ibadah.

Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menjelaskan kapan malam tersebut maka kita pahami bahwasanya di balik malam tersebut tidak ada ibadah khusus, sehingga Nabi tidak menjelaskan kepada para shahabat.

Bahkan tidak seorangpun dari shahabat yang menjelaskan kapan malam tersebut.

Tidak ada sanad yang shahih dari seorangpun shahabat, padahal jumlah shahabat begitu banyak, ribuan shahabat. Tidak seorangpun dari mereka menyebutkan kapan terjadinya malan Isra’ dan Mi’raj.

Dan sampai sekarang tidak ada dalil shahih, bahkan sampai hari kiamat tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan kapan terjadinya Isra’ dan Mi’raj.

Barang siapa yang mengatakan bahwasanya terjadinya pada hari ini. pada bulan ini maka itu hanya mengatakan dari kantong (pendapat) dia sendiri saja, bukan dari dalil.

Mungkin ada perkara yang menurut dia ada yang mengatakannya kemudian menganggap sebagai dalil, namun sebenarnya tidak ada dalilnya.

Oleh karenanya, pendapat tentang kapan terjadinya Isra’ saling bertabrakan (kontradiksi)’.”

Oleh karenanya ikhwān dan akhwāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Ini adalah dalil bahwasanya Isra’ dan Mi’raj tidak diketahui kapannya dan tidak amal khusus yang bisa dilaksanakan pada malam tersebut.

والله تعالى  أعلم بالصواب

_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: