Durhaka Pada Orang Tua Tanpa Sadar
————————————

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kemudian ada juga sebagian orang yang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu merawatnya sedari kecil dengan penuh kasih sayang kecuali dengan pandangan yang tajam dan menghinakan. Dia memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi menjahui ayahnya.

Apabila sedang duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api, tiada ketenangan baginya pada saat itu. Dia merasa berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Saat bersama orang tua, walaupun dalam waktu yang singkat, ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji.

Selain itu, terkadang perbuatan durhaka kepada orang tua banyak yang tidak disadari oleh pelakunya. Sehingga perbuatan ini terus dilakukan karena dianggap bukan suatu dosa. Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”. (HSR. Bukhari & Muslim)

Perbuatan inilah sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang. Seseorang dengan mudahnya menghina orang tua lain yang bisa jadi karena ia terlibat perselisihan dengan orang tersebut dan menyulut emosinya. Maka seseorang yang orang tuanya telah dihina secara naluriah ditambah dengan tipu daya setan akan langsung membalas dengan menghina orang tua dari seseorang yang telah menghina orang tuanya. Akhirnya terjadilah saling hina orang tua, dan perbuatan ini sesungguhnya termasuk diantara bentuk durhaka pada orang tua yang merupakan dosa besar.

Bentuk perbuatan durhaka kepada orang tua lainnya adalah membuat orang tua sedih bahkan hingga menangis. Kemudian menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya juga tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang anak. Apabila orang tua memerintahkan anaknya dalam suatu perkara (dan bukan suatu maksiat kepada Allah), dan tidak ditaati oleh anaknya maka ini juga tergolong kedurhakaan terhadap kedua orang tua.

Demikianlah, diantara bentuk-bentuk durhaka kepada orang tua dengan segala tingkatannya agar kita waspada dan dapat menjauhinya dan meninggalkannya bagi yang pernah melakukannya. Sebagai tambahan motivasi agar kita benar-benar meninggalkan segala bentuk kedurhakaan kepada orang tua, ingatlah hadits berikut:

Abu Bakroh berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ ”

Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).
(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kenyataannya kita dapatkan bahwa orang-orang yang durhaka kepada orang tua akan mendapatkan kesempitan dan kesengsaraan dalam hidupnya di dunia dan kelak nanti di akhirat. Bahkan ada legenda rakyat daerah tertentu di negeri kita tercinta ini yang mengisahkan akhir kelam kehidupan seorang anak yang durhaka kepada ibunya, walaupun cerita itu hanya sekedar dongeng dan dipertanyakan kebenarannya

Semoga kita dapat mengamalkannya.

Allahu A’lam

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: