Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk

HASAD (BAGIAN 1)
Ustadz Firanda Andirja, MA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masuk pada hadits yang pertama dari Bab Tarhīb min Masāwil Akhlāq (Bab Tentang Peringatan Bahaya Dari Akhlak-Akhlak Yang Buruk.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ، كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.” أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ ولإبن ماجه من حديث أنس نحوه.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan-kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.”

(HR Abu Daud dan Ibnu Majah dari riwayat Anas bin Malik).

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’ālā,

Ini adalah hadits yang dha’if karena ada perawi dalam hadits ini yang majhul dan di-dha’if-kan oleh Imam Bukhari rahimahullāhu Ta’ālā.

Namun hadits ini bisa dikatakan hampir disepakati kebenaran maknanya oleh para ulama.

Oleh karenanya, hadits ini dibawakan oleh para ulama dalam buku-buku mereka, seperti dibawakan oleh Al Mundziriy dalam kitabnya Targhib wa Tarhib.

Demikian juga oleh Imam Nawawi rahimahullāhu dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.

Kenapa?

Karena maknanya benar.

Hadits ini menyatakan agar berhati-hati terhadap hasad.

Diantara hal yang menjadikan seseorang harus hati-hati terhadap hasad adalah karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikkan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Kita bisa lihat ini gambaran yang sangat indah dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam memberi peringatan terhadap bahaya hasad.

Api, tatkala membakar kayu dengan mudahnya terbakar, cepat kayu tersebut terbakar.

Demikian juga dengan hasad.

Kalau seseorang memiliki kebaikan-kebaikan namun karena ada hasad dalam dadanya maka akan mudah memakan kebaikan-kebaikannya.

Maka sirnahlah kebaikan-kebaikannya dengan begitu cepat sebagaimana kayu yang cepat sirnah dimakan oleh api.

Kenapa bisa demikian?

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’ālā,

Karena hasad biasanya akan mengantarkan al hasid (orang yang hasad) ke perbuatan-perbuatan zhalim kepada orang yang dia hasad-i (al mahsud).

Kata para ulama, hasad adalah dosa yang pertama kali terjadi di langit dan dosa yang terjadi pertama kali di bumi.

Di langit, iblis hasad kepada Adam.

Tadinya iblis adalah dari golongan shalihin bahkan berada dalam barisan para malaikat.
Oleh karena tatkala Allāh mengatakan:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

“Tatkala Kami berkata kepada malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam.’ maka mereka semua sujud kecuali iblis’.”

(QS Al Baqarah: 34)

Seakan-akan iblis dari golongan malaikat, namun dia bukan golongan malaikat karena dari golongan jin (kaana minal jinni), tetapi dia dalam barisan malaikat karena keshalihannya.

Kemudian datangah Adam.

Allāh ciptakan Adam, Allāh berikan kemuliaan kepada Adam, Allāh ajarkan kepada Adam ilmu, Allāh ciptakan Adam dengan kedua tagan-Nya.

Karena ilmu yang dimiliki Adam maka Allāh menyuruh malaikat sujud kepada Adam.

Ini yang menjadikan iblis hasad kepada Adam.

Maka dia ketika disuruh sujud kepada Adam, dia tidak mau dan mengatakan:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan Adam dari tanah.”

(QS Al A’rāf: 12)

Karena hasadnya iblis kepada adam sampai iblis berusaha menggoda adam meskipun resikonya adalah dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.

Dia tidak peduli, tidak masalah dimasukkan ke dalam neraka Jahannam, yang penting dia tidak sujud kepada Adam.

Dia tidak ingin Adam mengunggulinya dan dia ingin Adam menyertainya ke dalam neraka Jahannam.

Jadi, hasad mengantarkan seseorang berbuat zhālim kepada yang di hasad-i.

Demikian juga tatkala dosa yang pertama kali terjadi dibumi yaitu antara dua anak Adam yang Allāh sebutkan di dalam Al Qur’an.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ

Diceritakanlah kepada malaikat tentang kisah dua anak Adam dengan cerita yang benar. Tatkala kedunya menyediakan qurban kepada Allāh, maka Dia terima dari salah satunya dan yang lainnya tidak diterima.

((Dia terima yang dari Habil dan tidak diterima yang dari Qabil.
Maka, Qabil pun hasad kepada Habil))

Dia mengatakan, “Sungguh aku akan membunuhmu.”

(QS Al Maidah: 27)

Lihat, karena dia hasad kandungnya pun mau dia bunuh dan akhirnya dia bunuh.

Oleh karenanya, diantara hal yang berbahaya bagi orang yang memiliki hasad adalah hasad akan mengantarkan dia menzhalimi orang lain dengan meng-ghibah dan menjatuhkan orang tersebut, dia senang kalau orang tersebut celaka.

Oleh karenanya, sedikit orang yang bisa menahan hasad agar hasadnya tidak menjadikan dia berbuat zhalim.

Kata Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu Ta’ālā:

“Hampir-hampir tidak ada jasad yag selamat dari hasad, akan tetapi orang yang buruk akan menampakkan hasad tersebut dan orang yang baik akan menahan hasad tersebut.”

Pasti diantara kita ada yang pernah terkena hasad.

Akan tetapi kalau kita seorang yang mulia maka akan kita tahan hasad tersebut, tidak kita cerminkan (wujudkan) dalam bentuk kezhaliman kepada saudara kita.

Kalau kita wujudkan hasad kita dengan menzhalimi saudara kita yang kita hasad-i berupa menjatuhkannya, menjelekkannya dan mencari-cari aibnya berarti kita termasuk orang-orang yang tercela (al lā im).

Dan ingat, hasad yang sudah kita munculkan dalam bentuk perbuatan dan perkataan dengan menzhalimi saudara kita yang kita hasad-i, maka akan menghancurkan kebaikan- kebaikan kita.

Di akhirat, karena kita berbuat zhalim maka banyak atau bahkan semua kebaikan-kebaikan kita akan kita transfer kepada orang yang kita hasad-i tersebut.

Inilah kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mangatakan:

“Hati-hati kalian terhadap hasad, karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar dengan begitu cepatnya.”

Demikian,

Wallāhu ‘Alam bishshawwab.
___________
📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

Perihal Abu Afifah
Zaenal Arifin sang Penuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: