Di balik peristiwa pertengkaran senantiasa tersedia berbagai alasan yang dianggap benar untuk menyerang dan menghancurkan lawan. Masing-masing pihak selalu merasa diri berada di pihak yang paling benar dan menganggap pihak lain berada di posisi yang salah. Itu sebabnya setiap orang yang bertengkar senantiasa berupaya untuk saling menyerang dan melemahkan pihak lain yang dianggap musuh atau saingannya.
Apabila fenomena kehidupan sehari-hari sering diwarnai oleh pertengkaran, konflik atau perselisihan jelas menunjukkan bahwa manusia sering gagal untuk mencintai sesamanya.Tanpa sengaja  kita telah menciptakan suatu dunia yang miskin dengan cinta kasih, sehingga kita memberlakukan konsep kebenaran dan keadilan menurut kehendak diri sendiri.

Kegagalan dalam memberlakukan bukan karena kita berpijak kepada kebenaran dan keadilan, tetapi ketika kita memanipulasi makna kebenaran dan keadilan menurut kepentingan diri sendiri. Peristiwa pertengkaran tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang positif dan mendekatkan mereka kepada kebenaran. Sebaliknya peristiwa pertengkaran akan  semakin menjauhkan dan membuat kita berpaling dari kebenaran dan keadilan. Dengan perkataan lain kita sering bertengkar dengan orang lain yang dilandasi oleh motif untuk memperjuangkan kepentingan diri sendiri dengan mengatas-namakan kebenaran dan keadilan. Akibatnya peristiwa pertengkaran sering semakin luas dengan melibatkan sesama yang sebenarnya tidak pernah terlibat konflik sebelumnya. Mereka dimotivasi bahwa lawannya telah melanggar kebenaran dan keadilan sehingga mereka layak untuk dibenci. Karena itu pertengkaran kecil kadang-kadang menyulut menjadi besar dan berkepanjangan.

Sumber konflik atau pertengkaran yang paling mendasar disebabkan karena kita telah menjadikan diri sendiri sebagai pusat (self-centered). Yang mana pemusatan diri bukan sekedar suatu kecenderungan alamiah, tetapi suatu pola yang lahir dari mekanisme jiwa. Dengan pola tersebut, manusia memiliki agenda atau visi untuk menjadikan diri sendiri sebagai tolok-ukur dalam menilai dan menafsirkan setiap aspek dalam kehidupan ini. , maka penilaian dan pengukuran terhadap realitas kehidupan menghasilkan kepincangan dan kedangkalan persepsi. Sehingga manusia sering dibatasi oleh horison yang sempit seperti “katak dalam tempurung”. Dalam pengertian ini keleluasaan dan kekayaan misteri hidup hanya terbatas dalam lingkup “tempurung” yang tentunya serba terbatas. Padahal saat horison dan persepsi hidup kita serba sempit, maka kita juga dibatasi untuk menangkap segi-segi positif dan keunikan orang lain.

Itu sebabnya kita sering hanya mampu menangkap sebagian kecil dari realitas makna dan keberadaan orang lain. Kita sering gagal untuk menangkap realitas makna dan keberadaan orang lain secara utuh. Di titik inilah manusia sering mengalami kesalahpahaman dalam mengungkap diri dan memahami esensi keberadaan sesamanya. Yang mana pada sisi yang lain, kesalahpahaman dalam mengungkap diri dan memahami esensi keberadaan sesamanya disebabkan karena kita gagal untuk memperluas wilayah pemahaman diri dan pemaknaan terhadap realitas kehidupan ini. Dengan perkataan lain, kegagalan kita untuk memahami secara positif esensi keberadaan sesama disebabkan karena kita gagal untuk memahami secara positif pula esensi keberadaan diri sendiri.

Semakin banyak orang yang membela dan berkorban diri bagi kita, maka kita akan merasa diri sebagai orang yang paling benar. Tepatnya kita sering memperlakukan makna kebenaran bukan untuk kebenaran, tetapi kita memanfaatkan kebenaran untuk kepentingan diri sendiri. Kita bukan hanya memiliki potensi untuk menganiaya para musuh kita, tetapi juga berpotensi untuk menganiaya kebenaran. Potensi dan realitas tersebut lahir dari pemusatan diri sendiri.

Manusia bukan hanya memiliki kecenderungan untuk menjadikan dirinya sebagai pusat, tetapi juga dia ingin menjadi yang terbesar. Manusia ingin berkuasa melebihi orang-orang di sekitarnya. Alfred Adler  (7 Februari 1870 – 28 Mai 1937) seorang psikolog dari Austria menyebut kecenderungan tersebut sebagai libido untuk berkuasa sebagai bentuk dari superioritas diri manusia. Dengan dorongan libido berkuasa, manusia menggerakkan seluruh dinamika hidupnya kepada suatu tujuan tertentu. Padahal perasaan superioritas diri tersebut seringkali muncul dari inferioritas diri (perasaan rendah-diri). Karena itu seseorang yang ingin menjadi yang terbesar bisa disebabkan karena faktor kompensasi yang sifatnya psikologis untuk menutupi berbagai kekurangan diri sendiri. Dalam konteks ini batasan pengertian dari perasaan superioritas diri seringkali sangat tipis dengan inferioritas diri. Dengan kondisi demikian, manusia dengan sikap superioritas dirinya seringkali didasari oleh motif-motif yang tidak murni yang disebabkan oleh perasaan rendah diri (inferioritas). Sehingga kita sering mengalami kekaburan antara tujuan yang mulia dengan motif yang rendah, kebenaran dan pembenaran diri, keadilan dengan egoisme diri, dan tindakan kasih dengan sikap yang mengasihani diri sendiri.

Sikap kecenderungan seseorang yang tamak untuk menjadi besar akan mendorong dia untuk selalu defensif dan ofensif. Maksud sikap defensif adalah pola sikap yang selalu cenderung untuk berupaya membela dan mempertahankan diri dalam berelasi dengan sesamanya. Pada hakikatnya seorang yang defensif disebabkan karena mereka merasa diri terancam. Mereka merasa orang-orang di sekitarnya berupaya untuk menganiaya atau melukai dirinya. Itu sebabnya  mereka senantiasa mengembangkan perasaan yang sangat sensitif (over-sensitive) yang dalam kasus tertentu menjadi “paranoid”.

Dengan pola sikap yang demikian, seorang yang defensif akan berupaya mencari pembenaran diri untuk berbagai alasan yang sebenarnya sudah jelas dan tidak membutuhkan pembelaan. Pada pihak lain, karena mereka terlalu sensitif dan merasa diri terancam maka mereka juga akan berupaya untuk menyerang sesama yang dianggap melukai dirinya. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata yang pedas, sinis, dan menghina orang lain. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau cikal-bakal  dari setiap permusuhan atau pertengkaran disebabkan karena masing-masing pihak dilatar-belakangi oleh sikap yang defensif dan ofensif. Apabila kedua pihak memiliki latar-belakang hidup atau masa lalu yang pahit sehingga masing-masing mengembangkan sikap yang defensif dan ofensif, maka mereka akan bertengkar secara vulgar dan kasar di hadapan publik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s