Haramnya Mengucapkan “Selamat Natal”

Standar

haram_mengucapkan_natalSudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca : cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan. Lanjutkan membaca

MENGIKUTI KEBANYAKAN ORANG !

Standar

avatar“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

[QS. al-An’am/6 : 116]

★★★★★★★★★★

Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka. Barangsiapa ingin selamat dari makar mereka, simaklah pembahasan berikut:

Makna Ayat Secara Umum  Lanjutkan membaca

ISRA’ MI’RAJ (BAGIAN 2)

Standar

ISRA’ MI’RAJ (BAGIAN 2)

Ust. Firanda Andidja. MA

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Al isra’ wal Mi’raj kejadiannya dijelaskan oleh para ulama ahli sejarah adalah setelah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengalami berbagai macam kesedihan, yaitu:

– Setelah wafat istrinya, Khadijah radhiyalllāhu ‘anhā.
– Setelah wafat pamannya yang dia cintai, Abu Thalib.
– Kemudian, setelah beliau dakwah di Tha’if kemudian diusir dan dilempar dengan batu sehingga berlumuran darah.
– Tatkala shahabat-shahabatnya harus hijrah ke negeri Habasyah kerena mereka disiksa dan diintimidasi oleh orang-orang kafir Quraisy.

Isra’ mi’raj kata para ulama terjadi tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berada dipuncak kesedihan.

Dan ini sebagai tashliyah (hiburan) kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Rabbnya tidak akan meninggalkannya dan Rabbnya akan menguatkannya.

Oleh karenanya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla menuju Sidratil Muntaha untuk bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tanpa melalui perantara malaikat Jibril.

Yang biasanya Allāh memberi wahyu melalui malaikat Jibril, tapi kali ini Allāh langsung berbicara dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

▪Diantara perkara yang sangat menakjubkan adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berangkat dengan kendaraan Burāq.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, Al Burāq yaitu dābbah (hewan tunggangan) yang berwarna putih dan ukurannya di bawah bighal namun lebih tinggi daripada khimar.

~~~~~~~~~
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ

“Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal.”

(Lihat HR Imam Muslim nomor 234, versi Syarh Muslim nomor 162)
~~~~~~~~~

Bighal adalah hasil persilangan antara kuda dan khimar. Ini adalah riwayat yang datang tentang Al Burāq.

Adapun yang digambarkan oleh sebagian orang bahwa Burāq berwajah manusia atau berwajah wanita cantik dan yang lainnya, maka ini tidak benar. Seandainya ini benar tentunya akan datang dalam riwayat-riwayat yang shahih. Karena jika seperti itu (bentuk Burāq adalah hewan dengan kepala manusia) maka ini adalah mu’jizat tersendiri. Namun tidak disebutkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Burāq ini langkahnya begitu cepat dan langkah kakinya sejauh mata memandang, berapa jarak sejauh mata memandang itulah langkah kakinya.

Sehingga hal ini menjadikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bisa cepat berangkat dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, dalam waktu yang sangat singkat, Subhānallāh.

Allāh mentakdirkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak langsung diangkat dari dari masjidil Haram ke Sidratil Muntaha, padahal tujunnya ke sana. Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membelokkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam terlebih dahulu ke Baitul Maqdis (masjidil Aqsa) baru kemudian diangkat ke Sidratil Muntaha, ke atas langit yang ke-7.

Kata para ulama, ada hikmah yang diinginkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, diantaranya adalah:

*Pertama*: untuk menunjukkan bahwasanya masjidil Aqsha adalah masjid yang mulia.

Dan benar, bahwasanya 3 masjid yang kita dibolehkan unutk safar dalam rangka untuk mencari keberkahan tempat adalah 3 masjid tersebut dan semuanya dibangun oleh para nabi.

Masjidil Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alayhi sallam, masjid Nabawi dibangun oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan masjd Aqsha dibangun oleh nabi Sulaiman atau nabi Dawud ‘alayhima sallam.

Dan shalat di masjidil Haram pahalanya 100 ribu kali lipat, di masjid Nabawi 1000 kali lipat dan di masjidil Aqsha palahanya 500 kali lipat.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِيْ هَذَا، وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى.

“Tidak boleh mengadakan safar/perjalanan (dengan tujuan beribadah) kecuali ketiga masjid, yaitu: Masjidil Haram, dan Masjidku ini (Masjid Nabawi) serta Masjid al-Aqsha.” [7]

“Tidak boleh seseorang bersafar (berjalan jauh) dalam rangkah untuk mencari keberkahan tempat kecuali ke 3 masjid.”

(HR Al-Bukhari nomor 1197, 1864, 1995, Muslim nomor 827 dan yang lainnya dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu).

Tidak boleh seseorang, misalnya dari Jakarta kemudian ingin bersafar ke masjid Ampel di Surabaya dalam rangka mencari keberkahan di sana, ini tidak boleh, haram. Seakan-akan menjadikan saingan bagi 3 masjid yang dibangun oleh para nabi.

Tiga masjid tersebut spesial, boleh bersafar jauh dalam rangka mencari keberkahan di masjid tersebut.

Jadi, ini adalah penjelasan kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dimampirkan oleh Allāh ke masjidil Aqsha yaitu dalam rangka untuk menunjukkan keutamaan masjidil Aqsha.

*Kedua*: kata para ulama, Nabi dimampirkan ke masjidil Aqsha karena pasti akan timbul pengingkaran dari orang-orang kafir tentang kejadian isra’ dan mi’raj, dan ini benar-benar terjadi.

Oleh karenanya, begitru Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam selesai pulang dari perjalanannya dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha kemudian ke langit yang ke-7, maka ditemui oleh orang-orang kafir.

Kejadian ini sangat spektakuler dijaman tesebut. Di jaman tersebut mungkin sepeda saja belum ditemukan, apalagi mobil, apalagi pesawat. Kemudian ada orang yang mengaku berjalan dari Mekah menuju Palestina dalam waktu kurang dari satu malam dan sudah balik lagi.

Ini adalah perkara yang sangat mustahil di jaman tesebut. Di jaman sekarang saja aneh apa lagi jaman tersebut.

Oleh karenanya sampai-sampai ada kaum muslimin yang murtad tatkala itu karena tidak bisa menerima secara akal apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(Al Mustadrak 3/62)

Demikan juga orang kafir, mereka menjadikan hal ini sebagai bahan olok-olok. Mereka berkumpul ada yang bertepuk tangan mendengar berita tersebut. Mereka mentertawakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Namun akhirnya Allāh menunjukkan akan kebenaran peristiwa tersebut, maka diantara orang kafir ada yang bertanya:

“Kalau memang benar engkau pergi ke masjidil Aqsha, tolong ceritakan sifat-sifat masjidil Aqsha.”

Kita tahu bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi ke masjidil Aqsha bukan untuk jalan-jalan sehingga tidak memperhatikan berapa jumlah pintunya, berapa jumlah jendelanya. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam datang, shalat kemudian berangkat ke langit ke-7.

Akan tetapi kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menampakkan masjidil Aqsha di hadapan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian menyebutkan sifat-sifat masjid tersebut sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat langsung.

Sampai akhirnya orang kafir yang pernah melihat masjidil Aqsha pun berkata:

“Adapun pensifatan Muhamad terhadap masjidil Aqsha adalah jujur dalam hal ini (telah benar).”

(Lihat HR Bukhari nomor 4341, versi Fathul Bari nomor 4710)

Sebagai bukti bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ke masjidil Aqsha, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah ke sana selama hidupnya kecuali pada saat tersebut.

والله تعال أعلمُ بالصواب
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

PERINTAH MEMINTA PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLĀH (BAG. 1)

Standar

PERINTAH MEMINTA PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLĀH (BAG. 1)Ustadz Firanda Andirja, MA

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masuk pada hadits yang ke-5 dari Bab Zuhud wal Wara’.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله الهم قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَوْمًا، فَقَالَ: “يَا غُلاَمُ، اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.” رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā mengatakan:

Pada suatu hari aku pernah di bonceng Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau bersabda:

“Wahai remaja (pemuda), jagalah Allāh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allāh, niscaya kamu akan mendapati-Nya selalu hadir di hadapanmu.

Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allāh. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allāh.”

(HR Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih.”)

⇒Ibnu ‘Abbās merupakan sepupu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahābat kecil saat itu.

Hadits ini menjelaskan bagaimana perhatian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam memberi nasihat, bahkan kepada anak-anak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menanamkan tauhid bukan hanya kepada para shahābat yang senior (besar) tetapi juga kepada para shahābat yang junior (kecil).

Dan anak-anak, kalau ditanamkan tauhid padanya sejak kecil maka akan terpatri dalam dada-dada mereka.

Yang dimaksud dengan “menjaga Allāh” adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al Imām Nawawi rahimahullāh, yaitu:

◆ احفظ اوامره وامتثلها وانتبه عن نواهيه يحفظك في تطلباتك وفي دنياك واخرتك

◆ Jagalah perintah-perintah Allāh dan kerjakanlah, dan berhentilah engkau dari perkara yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Niscaya Allāh akan menjaga engkau dalam gerakanmu (perpindahanmu) dalam duniamu maupun akhiratmu.

⇒Jadi yang dimaksud dengan menjaga Allāh adalah menjaga syari’at Allāh; perintah Allāh dikerjakan dan larangan Allāh dijauhi.

Apa balasannya?

الجزاء من جنس العمل

Barang siapa yang menjaga perintah Allāh, maka Allāh akan menjaganya.

Allāh akan menjaga dia dalam dua perkara, yaitu:

■ Penjagaan Pertama | Allāh akan menjaga dia dalam urusan dunianya (kesehatan, istri, anak-anak, harta)

Orang yang menjaga perintah Allāh maka Allāh akan:

⑴ Menjaga keluarganya.
⑵ Mengirimkan malaikat untuk menjaganya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ

“Baginya (bagi seorang manusia) ada malaikat-malaikat yang berada di depannya dan di belakangnya. Mereka menjaga menusia ini karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Ar Ra’d: 11)

Oleh karenanya, di zaman yang penuh dengan fitnah (godaan) ini, sulit untuk bisa menjaga keluarga dan anak-anak kita kecuali kalau kita bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau diri kita bertaqwa (menjalankan perintah Allāh dan menjauhi larangan-Nya) maka Allāh akan menjaga anak-anak kita.

Siapa yang bisa menjaga anak-anak kita sementara anak-anak dilepaskan di sekolah?

⇒Bertemu dengan orang-orang nakal.
⇒Melihat hal-hal yang diharamkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⇒Bergaul dengan teman-teman yang tidak benar.
⇒Mendengarkan ucapan-ucapan yang kotor.
⇒Diajari oleh temannya untuk membohongi kedua orang tua.

Sulit bagi kita untuk menjaganya.

Kalau anak-anak di (dalam) rumah mungkin bisa kita jaga, itu pun tidak mudah.

Apalagi kalau kita punya kesibukan di luar rumah dan anak-anak di luar rumah, maka siapa yang bisa menjaganya?

Tidak ada yang bisa menjaganya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya, kita dapati banyak sekali orang-orang shalih (misal di Arab Saudi) yang Allāh berikan umur panjang, diberkahi umur dan ilmu mereka, dijauhkan dari pikun. Subhānallāh, sebagaimana para masyāyikh (para ulama) yang kita lihat.

■ Penjagaan Kedua | Allāh akan menjaga dalam urusan akhiratnya.

⇒Artinya, Allāh akan menjaga dia sehingga tidak terkena syubhat-syubhat (kerancuan pemikiran).

Ada syubhat yang bisa membuat seseorang menjadi kafir, munafiq atau ada yang membuat ragu terhadap agama.

Kita tahu, di zaman sekarang ini syubhat begitu banyak beredar di internet (dunia maya).

Maka kalau dia bertaqwa kepada Allāh, maka Allāh akan:

✓Melindungi (menjauhkan) dirinya dari syubhat-syubhat tersebut.
✓Menjaganya (menjauhkan) dari syahwat yang bisa menjerumuskan dia dalam perbuatan dosa besar.

Kemudian, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Jagalah Allāh, niscaya engkau akan mendapati Allāh di hadapanmu.”

Artinya apa?
Allāh akan senantiasa bersamamu.

◆ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh dimanapun dia berada dan kapanpun, maka senantiasa Allāh bersama dia, menolong dia setiap ada kesulitan.

Olah karenanya, tatkala Allāh mengutus Nabi Mūsā dan Hārūn untuk berdakwah kepada Fir’aun, mereka berdua takut, maka Allāh berkata:

لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

“Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian dan Aku melihat apa yang kalian lakukan.”
(QS Thāhā: 46)

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh, maka yakinlah kalau dia butuh Allāh, maka Allāh selalu berada di sampingnya untuk memudahkan urusannya.

والله تعالى أعلم بالصواب
______________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

View on Path

Muhasabah dan Penyesalan

Standar

Muhasabah dan Penyesalan

قال بَعْضُ الحُكَمَاء: مَنْ أَبْطَرَ الغِنَى أَذَّلَه الفَقْرَ، ومَنْ أَفْرَحَتْهُ العَافيةُ هَدَّهُ السَّقَمَ، ومَن ضَيَّعَ شُكْرَ النِّعَمِ حَلَّتْ به النِّقَمُ، ومَن لم يُحَاسِبْ نفسَه قَبْلَ يومِ القيامةِ حَلَّ بِهِ النَّدَمُ.

Telah berkata ahli hikmah: “Siapa saja yang membanggakan kekayaannya, niscaya ia akan jatuh pada kefakiran. Dan siapa saja yang membanggakan kesehatannya, –maka Allah– akan merobohkannya dengan penyakit. Dan siapa saja yang menyia-nyiakan syukur nikmat dari Allah, maka ia akan jatuh pada kesengsaraan. Dan siapa saya yang tidak melakukan muhasabah atas dirinya, pasti dia akan jatuh pada penyesalan.”

جوامعِ الكَلِمِ ونَفَائِسِ الحِكَمِ مِن كِتَابِ المجالسةِ وجَواهرِ العِلْمِ
(Dari kitab: Jamami’ul Kalim wa Nafaisu al Hikam dari Kitab al Mahalisati wa Jawahirul ‘Ilmi)

Bahwa dunia   tidaklah kekal, sementara akhirat adalah yang kekal dan abadi. Karenanya kekayaan itu tidak kekal, kesehatan pun tidak kekal, dan kenikmatan juga tidak kekal.

Segala sesuatunya, semuanya akan berakhir. Hanya Allah SWT-lah yang kekal abadi. Firman Allah SWT:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar Rahman 26-27)

Sehingga barangsiapa yang membanggakan kekayaannya, maka niscaya ia akan jatuh pada kemiskinan. Artinya, siapa saja yang sombong atas hartanya, suatu saat dia akan datang pada hari di mana dia dalam keadaan miskin dan hina.

Dan siapa yang berbangga dengan kesehatannya,  tidak digunakan untuk ta’at kepada Allah, maka dia akan temuakan hari di mana saat itu dia sakit yang bersangatan yang menyebabkan ia sulit bergerak dan berbicara.

Demikian pula, siapa saja yang menyia-nyiakan syukur nikmat dari Allah, dengan nikmat yang tidak terhitung dan tidak terkira, maka  akan datang suatu hari di mana ia jatuh pada musibah dan  kesengsaraan.

Karenanya, sungguh manusia harus instrospeksi.

Dan barangsiapa yang tidak melakukan instrospeksi atas dirinya, sebelum hari akhir datang, pasti ia akan jatuh pada penyesalan. Sejatinya seorang manusia harus melakukan muhasabah sebelum Allah menghisabnya di yaumil qiyamah.

Jika tidak, dia akan menyesal dengan se-sesal-sesalnya, di saat penyesalan sudah tiada guna.  Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ . وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.” (Al Hasyr 18-19)

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمْ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُون

“Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (Az Zumar 54)

وقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه: “حَاسِبوا أنفسَكم قبلَ أن تُحاسَبوا، وزنوا أعمالكم قبل أن توزن عليكم، فإن أهون عليكم في الحساب غدًا أن تحاسبوا أنفسكم اليوم، وتَزَيَّنوا للعرضِ الأكبرِ، يومئذٍ تُعرضون لا تَخفى منكم خافية”.

Umar bin Khaththab berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Karena sesungguhnya yang meringankan hisabmu nanti adalah saat engkau menghisab hari ini. Dan berhiaslah untuk pertemuan hari akbar, hari saat dipamerkan segala amal, dan tidak ada keringanan sedikitpun hisab atas kalian”.

وكتب عمر بن الخطاب رضي الله عنه إلى بعض عماله: “حَاسِبْ نفسَك في الرخَاءِ قبلَ حِسَابِ الشّدةِ، فإنّ مَن حَاسَبَ نفسَه في الرخاءِ قبلَ حِسابِ الشّدةِ، عَادَ أمرُه إلى الرِّضا والغِبْطَة، ومَن ألْهَتْهُ حياتُه، وشَغْلَتْه أهواؤُه عَادَ أمرُه إلى النَّدَامَةِ والخَسَارَة”.

Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada beberapa Gubernurnya: “Hisablah diri kalian di saat senang (lapang) sebelum saat sulit. Karena siapa yang menghisab dirinya saat senang sebelum saat sulit, dia akan menghadapi urusannya dengan ridha dan iri yang baik. Dan barangsiapa yang dilalaikan oleh kehidupannya, dan disibukkan dengan hawa nafsunya, dia akan menghadapi urusannya penyesalan dan kerugian. [ H. Luthfi H ]

View on Path

Wasiat Perpisahan

Standar

Wasiat Perpisahan
(Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Diriwayatkan dari al-‘Irbâdh bin Sâriyah radhiyallâhu’anhu bahwa ia berkata:
“Suatu hari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata:
‘Wahai Rasulullâh! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?’
Maka Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allâh, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafâ Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.’”

Takhrij Hadist

Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh Lanjutkan membaca

Keutamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Standar

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka menisbatkan (menyandarkan) diri kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berpegang teguh kepada Sunnahnya.

Beliau bersabda.

فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ مِنْ بَعِدِيْ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah sesudahku yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah tersebut, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian”

Beliau juga telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi sunnah beliau. Dalam hal ini beliau bersabda.

وَإِيَّاكُمْ وَ مَحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah kalian terhadap segala perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru seperti itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”

Dalam hadits yang lain beliau bersabda.

فَمَن رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”

Keadaan Ahlus Sunnah ini berbeda dengan kelompok lainnya, yaitu kalangan para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah. Para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah menempuh jalan yang tidak ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Akidah Ahlus Sunnah tampak sejak Nabi diangkat menjadi rasul dan selama beliau masih hidup, sedangkan akidah ahli hawa (para pengikut hawa nafsu) muncul setelah beliau wafat. Ada yang muncul pada akhir generasi sahabat; ada yang muncul setelah generasi sahabat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan kepada para sahabat beliau bahwa barangsiapa di antara mereka berumur panjang niscaya akan menjumpai perpecahan dan perselisihan. Rasulullah bersabda.

وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخِتِلاَفًا كَشِيرًا

“Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang berumur panjang maka dia akan melihat perselisihan”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada mereka untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifahnya yang mendapatkan petunjuk (Khulafa’ Ar-Rasyidah). Rasulullah juga telah memperingtkan kita agar menjauhi perkara-perkara yang baru dalam agama, dan memberitahukan bahwa semua itu adalah sesat.

Suatu hal yang sangat tidak masuk akal bila para sahabat tidak mengetahui kebenaran dan petunjuk (dengan jelas dan gamblang) sementara orang-orang yang datang setelah mereka lebih mengetahui kebenaran dan petunjuk. Sesungguhnya bid’ah yang diada-adakan orang-orang setelah generasi sahabat itu tidak lain dalah keburukan. Seandainya bid’ah yang mereka ada-adakan itu lebih baik, niscaya para sahabat akan melakukannya terlebih dahulu.

Bid’ah adalah keburukan yang menimpa banyak orang yang datang setelah para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang melakukan penyimpangan terhadap apa-apa yang dilakukan dan dipegangi oleh para sahabat Radhiyallahu anhu. Imam Malik berkata.

لَنْ يَصلُحَ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّ لُهَا

“Umat ini tidak akan baik kecuali dengan hal-hal yang telah menyebabkan baik generasi awalnya”

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah selalu menyandarkan dirinya kepada sunnah. Adapun selain Ahlus Sunnah, seperti kelompok Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah dan Al-Imamiyah Itsna ‘Asyaariyah, mereka menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan kepada tokoh-tokoh mereka, seperti kelompok Jahmiyah, Zaidiyah, Asy’ariyah, dan Ibadiyah.

Dalam hal ini, tidak bisa Ahlus Sunnah dikatakan sebagai Wahabiyah, yaitu dinisbatkan kepada Syaikh Muhamamad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Hal ini karena Ahlus Sunnah tidak pernah menyandarkan diri kepada beliau baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Syaikh Muhamamd bin Adbul Wahhab sendiri tidak pernah mengajarkan sesuatu yang baru untuk kemudian ajaran tersebut dinisbatkan kepada dirinya. Bahkan sebaliknya, beliau adalah orang yang teguh mengikuti jalan para Salafush Shalih, menampakkan, menyebarkan dan mengajak orang-orang untuk berpegang teguh dengan Sunnah.

Memang ada sementara orang yang menyebut Ahlus Sunnah sebagai aliran wahabi. Pemberian gelaran ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka dan dengki atas gencarnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Gelaran seperti ini sengaja dihembuskan agar orang-orang ragu mengikuti kebenaran dan petunjuk yang diajarkan beliau. Gelaran seperti itu juga digunakan agar orang-orang tetap tenggelam dalam bid’ah yang mereka ada-adakan, tindakan yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah.

Imam Syahtibi berkata dalam kitab Al-I’tisham (I/79), “Abdurrahman Al-Mahdi berkata, ‘Malik bin Anas pernah ditanya tentang Ahlus Sunnah.’ Beliau menjawab, ‘Dia adalah nama yang tidak mempunyai sandaran selain As-Sunnah. Kemudian beliau membaca firman Allah.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah jalan tersebut ! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya” [Al-An’am : 153]

Ibnul Qayyim berkata dalam kitab Madarijus Salikin (III/179), “Pernah sebagai Imam (Ulama terkemuka) kaum muslimin ditanya tentang sunnah. Mereka menjawab, ‘As-Sunnah adalah nama yang tidak mempunyai sandaran melainkan As-Sunnah itu sendiri.’ Maksudnya bahwa Ahlus Sunnah tidak mempunyai nama yang dijadikan penisbatan selain As-Sunnah”.

Dalam kitab Al-Intiqa (hal.35) karya Ibnu Abdil Barr disebutkan bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik. Orang tersebut bertanya, ‘Siapakah Ahlus Sunnah ?’. Beliau menjawab, “Ahlus Sunnah adalah orang yang tidak mempunyai julukan tertentu untuk mengenali diri mereka. Mereka bukanlah jahmi, tidak pula qadari, juga bukan rafidhi”.

Tidak diragukan lagi, menjadi kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan di setiap tempat untuk saling bersatu dan saling berkasih sayang di antara mereka, serta saling menolong dalam perkara kebaikan dan takwa.

Akan tetapi, sungguh amat disayangkan, sekarang ini banyak muncul pertentangan dan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah. Sebagian dari mereka sibuk mencela saudaranya sesama Ahlus Sunnah, memprovokasi orang-orang untuk menjauhi, dan terkadang melakukan tindakan boikot terhadapnya. Padahal sikap seperti itu semestinya dialamatkan kepada orang-orang yang bukan Ahlus Sunnah, yaitu kepada orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Adapun sesama Ahlus Sunnah hendaknya ditumbuhkan sikap saling lemah lembut dan saling berkasih sayang. Kalau umpanya suatu ketika mereka perlu mengingatkan saudaranya yang salah, itupun hendaknya dilakukan dengan cara yang halus dan lembut.

Memperhatikan keadaan yang seperti itu, saya memandang perlu menulis beberapa nasehat untuk mereka. Saya memohon keapda Allah Ta’ala semoga Dia berkenan memberikan manfaat dari kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan ini.

Dengan tulisan ini saya tidak lain hanyalah bermaksud mengadakan perbaikan semampu saya. Dan tulisan ini hanya akan membawa manfaat bila mendapat taufik dari Allah Ta’ala. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan hanya kepadaNya-lah saya kembali. Selanjutnya, kitab ini saya beri judul : Rifqan Ahlassunnah Bi Ahlissunnah (Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah).

Saya bermohon semoga Allah memberi taufik dan keteguhan kepada saya, juga kepada semuanya, serta memperbaiki hubungan mereka, mempertautkan hati mereka, menunjuki mereka jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004]