Kebenaran ataukah pembenaran yang kau cari wahai saudaraku..?

Standar

Di balik peristiwa pertengkaran senantiasa tersedia berbagai alasan yang dianggap benar untuk menyerang dan menghancurkan lawan. Masing-masing pihak selalu merasa diri berada di pihak yang paling benar dan menganggap pihak lain berada di posisi yang salah. Itu sebabnya setiap orang yang bertengkar senantiasa berupaya untuk saling menyerang dan melemahkan pihak lain yang dianggap musuh atau saingannya.
Apabila fenomena kehidupan sehari-hari sering diwarnai oleh pertengkaran, konflik atau perselisihan jelas menunjukkan bahwa manusia sering gagal untuk mencintai sesamanya.Tanpa sengaja  kita telah menciptakan suatu dunia yang miskin dengan cinta kasih, sehingga kita memberlakukan konsep kebenaran dan keadilan menurut kehendak diri sendiri.

Kegagalan dalam memberlakukan bukan karena kita berpijak kepada kebenaran dan keadilan, tetapi ketika kita memanipulasi makna kebenaran dan keadilan menurut kepentingan diri sendiri. Peristiwa pertengkaran tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang positif dan mendekatkan mereka kepada kebenaran. Sebaliknya peristiwa pertengkaran akan  semakin menjauhkan dan membuat kita berpaling dari kebenaran dan keadilan. Dengan perkataan lain kita sering bertengkar dengan orang lain yang dilandasi oleh motif untuk memperjuangkan kepentingan diri sendiri dengan mengatas-namakan kebenaran dan keadilan. Akibatnya peristiwa pertengkaran sering semakin luas dengan melibatkan sesama yang sebenarnya tidak pernah terlibat konflik sebelumnya. Mereka dimotivasi bahwa lawannya telah melanggar kebenaran dan keadilan sehingga mereka layak untuk dibenci. Karena itu pertengkaran kecil kadang-kadang menyulut menjadi besar dan berkepanjangan.

Sumber konflik atau pertengkaran yang paling mendasar disebabkan karena kita telah menjadikan diri sendiri sebagai pusat (self-centered). Yang mana pemusatan diri bukan sekedar suatu kecenderungan alamiah, tetapi suatu pola yang lahir dari mekanisme jiwa. Dengan pola tersebut, manusia memiliki agenda atau visi untuk menjadikan diri sendiri sebagai tolok-ukur dalam menilai dan menafsirkan setiap aspek dalam kehidupan ini. , maka penilaian dan pengukuran terhadap realitas kehidupan menghasilkan kepincangan dan kedangkalan persepsi. Sehingga manusia sering dibatasi oleh horison yang sempit seperti “katak dalam tempurung”. Dalam pengertian ini keleluasaan dan kekayaan misteri hidup hanya terbatas dalam lingkup “tempurung” yang tentunya serba terbatas. Padahal saat horison dan persepsi hidup kita serba sempit, maka kita juga dibatasi untuk menangkap segi-segi positif dan keunikan orang lain.

Itu sebabnya kita sering hanya mampu menangkap sebagian kecil dari realitas makna dan keberadaan orang lain. Kita sering gagal untuk menangkap realitas makna dan keberadaan orang lain secara utuh. Di titik inilah manusia sering mengalami kesalahpahaman dalam mengungkap diri dan memahami esensi keberadaan sesamanya. Yang mana pada sisi yang lain, kesalahpahaman dalam mengungkap diri dan memahami esensi keberadaan sesamanya disebabkan karena kita gagal untuk memperluas wilayah pemahaman diri dan pemaknaan terhadap realitas kehidupan ini. Dengan perkataan lain, kegagalan kita untuk memahami secara positif esensi keberadaan sesama disebabkan karena kita gagal untuk memahami secara positif pula esensi keberadaan diri sendiri.

Semakin banyak orang yang membela dan berkorban diri bagi kita, maka kita akan merasa diri sebagai orang yang paling benar. Tepatnya kita sering memperlakukan makna kebenaran bukan untuk kebenaran, tetapi kita memanfaatkan kebenaran untuk kepentingan diri sendiri. Kita bukan hanya memiliki potensi untuk menganiaya para musuh kita, tetapi juga berpotensi untuk menganiaya kebenaran. Potensi dan realitas tersebut lahir dari pemusatan diri sendiri.

Manusia bukan hanya memiliki kecenderungan untuk menjadikan dirinya sebagai pusat, tetapi juga dia ingin menjadi yang terbesar. Manusia ingin berkuasa melebihi orang-orang di sekitarnya. Alfred Adler  (7 Februari 1870 – 28 Mai 1937) seorang psikolog dari Austria menyebut kecenderungan tersebut sebagai libido untuk berkuasa sebagai bentuk dari superioritas diri manusia. Dengan dorongan libido berkuasa, manusia menggerakkan seluruh dinamika hidupnya kepada suatu tujuan tertentu. Padahal perasaan superioritas diri tersebut seringkali muncul dari inferioritas diri (perasaan rendah-diri). Karena itu seseorang yang ingin menjadi yang terbesar bisa disebabkan karena faktor kompensasi yang sifatnya psikologis untuk menutupi berbagai kekurangan diri sendiri. Dalam konteks ini batasan pengertian dari perasaan superioritas diri seringkali sangat tipis dengan inferioritas diri. Dengan kondisi demikian, manusia dengan sikap superioritas dirinya seringkali didasari oleh motif-motif yang tidak murni yang disebabkan oleh perasaan rendah diri (inferioritas). Sehingga kita sering mengalami kekaburan antara tujuan yang mulia dengan motif yang rendah, kebenaran dan pembenaran diri, keadilan dengan egoisme diri, dan tindakan kasih dengan sikap yang mengasihani diri sendiri.

Sikap kecenderungan seseorang yang tamak untuk menjadi besar akan mendorong dia untuk selalu defensif dan ofensif. Maksud sikap defensif adalah pola sikap yang selalu cenderung untuk berupaya membela dan mempertahankan diri dalam berelasi dengan sesamanya. Pada hakikatnya seorang yang defensif disebabkan karena mereka merasa diri terancam. Mereka merasa orang-orang di sekitarnya berupaya untuk menganiaya atau melukai dirinya. Itu sebabnya  mereka senantiasa mengembangkan perasaan yang sangat sensitif (over-sensitive) yang dalam kasus tertentu menjadi “paranoid”.

Dengan pola sikap yang demikian, seorang yang defensif akan berupaya mencari pembenaran diri untuk berbagai alasan yang sebenarnya sudah jelas dan tidak membutuhkan pembelaan. Pada pihak lain, karena mereka terlalu sensitif dan merasa diri terancam maka mereka juga akan berupaya untuk menyerang sesama yang dianggap melukai dirinya. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata yang pedas, sinis, dan menghina orang lain. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau cikal-bakal  dari setiap permusuhan atau pertengkaran disebabkan karena masing-masing pihak dilatar-belakangi oleh sikap yang defensif dan ofensif. Apabila kedua pihak memiliki latar-belakang hidup atau masa lalu yang pahit sehingga masing-masing mengembangkan sikap yang defensif dan ofensif, maka mereka akan bertengkar secara vulgar dan kasar di hadapan publik

Taat Pada Peraturan

Standar

Wajibnya taat pada peraturan yang ada.

Hadis dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
"Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada atasan), baik ketika dia suka maupun tidak suka. Selama dia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan maupun mentaatinya". (HR. Bukhari 7144, Abu Daud 2626 dan yang lainnya)

Taat artinya tunduk, baik kepada Allah Swt., pemerintah, orang tua dan lain-lain, tidak berlaku curang, dan setia.
Sedang aturan adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Taat pada aturan adalah sikap tunduk kepada tindakan atau perbuatan yang telah diatur baik oleh Allah Swt., nabi, pemimpin, atau yang lainnya. Di rumah terdapat aturan, di sekolah terdapat aturan, di lingkungan masyarakat terdapat aturan, di mana saja kita berada, pasti ada aturannya. Aturan dibuat dengan maksud agar terjadi ketertiban dan ketenteraman. Mustahil aturan dibuat tanpa adanya tujuan. Oleh karena itu, wajib hukumnya kita menaati aturan yang berlaku.

Tapi kabanyakan dari manusia suka dan bangga jika mereka melanggar aturan yang ada. Padahal kita tahu bahwa tidaklah perutaran itu dibuat kecuali untuk kemaslahatan bersama.

Sering kita mendengar dengan banganya seseorang bercerita bahwa dia telah melanggar aturan yang ada, dan berlepas dari sanksi yg ada dengan berkelit dengan dalih yang gak masuk akal atau bahkan merendahkan petugas dengan perkataannya atau bahkan dengan marah dan memakinya.
Tidakkah mereka tahu bahwa iru semua adalah perbuatan yang sangat di benci Allah dan diancam dengan adzab Nya.

Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini

Standar

Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Apa hukum menonton televisi di masa kini?”.

الجواب: التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده

Jawaban beliau, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah haram. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.
كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”
فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛

Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.
فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة،

Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat.
التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره،

Isi televisi pada masa kini 99 persen adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dst.
بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس

Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang.
فالعبرة بالغالب،

Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.
فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.

Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya wajib.

Sumber:

http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342586

Catatan:
Jika demikian hukum menonton TV –menurut al Albani- di zaman beliau padahal beliau tinggal di Yordania, lalu bagaimana dengan hukum menonton TV saat ini di negeri kita??!!
Fatwa di atas mengisyaratkan bahwa al Albani tidak mengharamkan gambar bergerak yang tentu ada di layar TV.