Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang terlarang dalam agama

  0

Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah: Lanjutkan membaca “Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah”

Iklan

Haramnya Mengucapkan “Selamat Natal”

haram_mengucapkan_natalSudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca : cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan. Lanjutkan membaca “Haramnya Mengucapkan “Selamat Natal””

MENGIKUTI KEBANYAKAN ORANG !

avatar“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

[QS. al-An’am/6 : 116]

★★★★★★★★★★

Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka. Barangsiapa ingin selamat dari makar mereka, simaklah pembahasan berikut:

Makna Ayat Secara Umum  Lanjutkan membaca “MENGIKUTI KEBANYAKAN ORANG !”

Macam-macam Jual Beli

cara-cepat-menjual-rumah-1

Jual Beli.

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Macam-Macam Jual Beli Yang Dilarang Syari’at
1. Bai’ul Gharar
Yaitu semua jual beli yang mengandung unsur jahalah (ketidak-jelasan) atau mengandung unsur mengadu peruntungan atau judi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bai’ul hashaat dan bai’ul gharar (menjual barang yang ada unsur penipuan)” [14]

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah Lanjutkan membaca “Macam-macam Jual Beli”

Siapa Menanggung Dosa Riba

Nasabah Bank Ribawi Juga Ikut Menanggung Dosa

Pertanyaan

Saya berutang kepada seorang teman senilai Rp 100.000,- dengan perjanjian sebulan kemudian dikembalikan sebesar Rp 150.000,-. Ketika jatuh tempo tiba, saya berusaha hanya mengembalikan Rp 100.000,- saja, tapi dia ngotot minta tambahan sebesar 50 ribu.

Apa status hukum tambahan tersebut?

Jika itu riba, apakah saya berdosa karenanya?

Bagaimanakah cara untuk membersihkan diri dari uang utangan riba, mengingat uang utangan tersebut telah bercampur dengan harta saya yang lain?

Apa yang harus aku lakukan?

Jawaban:

Allah mengharamkan riba dan memberi Lanjutkan membaca “Siapa Menanggung Dosa Riba”

Hasanah City,

Seandainya Beli Rumah Seringan Balon Udara

Mungkinkah?

Saya saat ini masih merasakan keinginan besar untuk mendapatkan rumah idaman untuk istri dan anak-anak. Sedikitnya iri karena melihat teman yang sebaya mulai memiliki tempat tinggal dan tidak lagi menjadi kontraktor seperti saya.

Mencari-cari dan berselancar di dunia internet ternyata harga rumah semakin meningkat tanpa saya inginkan hal itu. Saat ini saya tersadar sekali bahwa langkah saya harus cepat dalam mengambil rumah.

Dimanapun lokasinya yang terpenting saya bisa memiliki rumah yang bisa dihuni oleh keluarga tercinta. Ada memang pemikiran lokasi, namun yang terpenting adalah pembelian rumah dengan metode yang ringan layaknya balon udara.

Berpikir keras dan bekerja keras setiap Lanjutkan membaca “Hasanah City,”

 

Nyaman dan Berkah

Tahukah anda?

Bahwa setiap Orang Pasti menginginkan rumah yang Nyaman, Aman, Tentram dan penuh kebahagiaan. Betul kan?? Atau yang bisa kita sebut dengan baiti jannati “Rumahku Surgaku”

Nah.. Mudah-mudahan andalah orangnya yg bisa mewujudkan Rumah yg seperti itu.
Mewujudkan Rumah Aman, Nyaman, Tentram dan Penuh Kebahagiaan.. Ya Rumahku Syurgaku.

Bagaimana ya?? Kira2 kita bisa mewujudkan rumah tersebut??.

Begini, segala sesuatu yang ada didunia ini semuanya datang dari Allah swt,maka apa yg kita inginkan? Ya tadi Rumah yg Aman, Nyaman, Tentram, dan penuh kebahagiaan.

Bagaimana caranya??
Kini sudah alhamdulillah sudah ada properti 100% syariah,
Tanpa Denda
Tanpa Bunga
Tanpa Sita
Tanpa Tanpa Akad Bathil
Tanpa Ribet.

InsyaAllah.. RUMAH Itu anda miliki, maka Hadir lah Rumah yg aman, nyaman, Tentram dan kebahagiaan. Aamiin

Miliki Rumah dengan Konsep Syariah Sekarang juga.

Bagi yang berminat memiliki hunian dengan konsep syariah serta mendapat kan penawaran menarik bisa mengisi form berikut:

https://goo.gl/forms/lMoEH2hYYzGbkSMz2

Insyaallah kami akan membantu sepenuhnya.

View on Path

Kritik: Anjuran Adzan di Telinga Bayi

Adakah tuntunan mengadzankan bayi ketika lahir?

Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan. Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadits yang shohih.Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadits yang lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti. Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan atau iqomah pada bayi yang baru lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Lanjutkan membaca “Kritik: Anjuran Adzan di Telinga Bayi”

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

Hatimu mungkin akan berbunga-bunga,
Saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan,
Seorang atau beberapa orang menegurmu.
Engkau tak mengenal mereka.
Tapi –Allah mengujimu-ternyata mereka mengenalmu.
“Ustadz, kami biasa mengikuti pengajiannya…”
“Wajah Ustadz sering kami lihat di TV dan Youtube…”.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Dakwah tersebar ke penjuru negeri.
Sunnah semakin dipahami.
Semakin banyak orang senang dengan kebaikan.
Tapi…

Tapi bagaimana dengan DIRI ini?
Bagaimana dengan JIWA ini?
Bagaimana NASIB hati yang lemah ini?
Hati yang rapuh pada pujian.
Hati yang gemeretak pada sanjungan.
Duhai Rabbi,
Karuniakan keikhlasan tak habis-habisnya pada hamba yang ringkih ini…

Yahya bin Ma’in pernah bertutur:
“Aku tak pernah melihat seperti Ahmad bin Hanbal.
Kami menyertainya selama 50 tahun, namun tak pernah sekalipun
Ia membanggakan kesalehan dan kebaikannya kepada kami.
Beliau –rahimahullah-biasa mengatakan:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin (baca: payah)’.”

Para ulama hadits menuturkan:
“Kami pernah melihat Imam Ahmad
pergi ke Pasar Baghdad untuk membeli seikat kayu bakar.
Beliau lalu memanggulnya di atas pundaknya.
Tapi ketika orang-orang mengenalinya,
Para pemilik dagangan meninggalkan dagangan mereka.
Para pemilik kedai meninggalkan kedai mereka.
Para pejalan kaki berhenti di jalan-jalan mereka,
untuk menyalaminya.
Mereka mengatakan: “Biar kami yang membawakan kayu Anda!”
Namun beliau menepiskan tangannya.
Wajahnya memerah sedih.
Lalu air matanya menetes, sembari berucap:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin.
Andai saja Allah tak menutupi aib ini,
maka semuanya akan terbongkar’.”

Suatu waktu, seorang pria datang memujinya.
Namun Imam Ahmad mengatakan padanya:
“Aku bersaksi kepada Allah,
Sungguh aku mengecammu atas ucapan itu.
Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahanku,
engkau akan melumuri kepalaku dengan tanah.”

Di kesempatan lain, beliau berucap:
“Duhai, andai saja aku tak kenal dengan popularitas.
Andai saja aku hidup di salah satu lembah Mekkah,
agar tidak ada lagi manusia yang mengenaliku.”
(Hilyah al-Auliya’, 9/181)

Maka berlarilah dengan hatimu dari kemasyhuran,
Meski engkau terpaksa menjadi masyhur.
Berlarilah menjauh dari popularitas,
Meski engkau terpaksa menjadi sosok yang populis.
Berlarilah di sepertiga akhir malam…
Berlarilah di khalwat-khalwatmu…
Berlarilah sambil menggumamkan istighfar tanpa putus
Berlarilah sambil mohon keteguhan jiwa,
agar selalu ikhlas dan ikhlas.

Ya Allah, ampuni hamba atas segala ketidakikhlasan
yang menyelusup dalam jiwa ini…

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,
Muhammad Ihsan Zainuddin

View on Path

Idul Fitri, Hari Kemenangan….?

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarakaatu

Sebagaimana kita ketahui, bulan Ramadhan merupakan bulan berkah, bulan rahmat, bulan keampunan dan bulan dengan penuh kelebihan, bulan dimana dibukanya pintu-pintu syurga dan ditutupnya semua pintu neraka dan diikat semua syaitan, bulan dimana orang-orang yang malaksanakan ibadah berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan nescaya akan diampuninya segala dosanya yang telah lalu, bualn dimana segala kelebihan ada padanya.

Dan kini, tak terasa  hari-hari dengan beribu kelebihan tersebut telah berlalu. dan umat muslimpun dengan suka citanya mereka merayakan hari (kemenangan?) hari raya “Iedul Fitr”, segala daya dan upaya, harta, tenaga pikiran diupayakan untuk merayakan (kemenangan?) tersebut, berbagai cara pun dilakukan dari mulai SMS, BBM, WA hingga kunjungan kesanak famili ,saudara, kerabat, hingga teman, bahkan kepada orang yang tidak pernah kenal sekaipun mereka sapa, dari mulai medoakan akan harapan diterima nya amal ibadah puasa mereka sampai permintaan maaf terhadap kesalahan kesalahan yang mereka sadari dan tertahan selama setahun( (nunggu lebaran), ataupun perkara-perkara yang tak pernah mereka lakukan pokoknya semua “Mohon maaf lahir dan batin”.

Bulan Ramadhan bagi sebagian umat islam merupakan bulan yang mereka nanti-nantikan, serta dijadikannya sebagai bulan pendekatan diri kepada sang Khalik, bulan pembelajaran, bulan pengakukan dosa dan pertaubatan nasuha, dimana mereka bersungguh-sunggu beribadah dibulan tersebut, Lanjutkan membaca “Idul Fitri, Hari Kemenangan….?”