MENGIKUTI KEBANYAKAN ORANG !

Standar

avatar“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

[QS. al-An’am/6 : 116]

★★★★★★★★★★

Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka. Barangsiapa ingin selamat dari makar mereka, simaklah pembahasan berikut:

Makna Ayat Secara Umum  Lanjutkan membaca

Siapa Menanggung Dosa Riba

Standar

Nasabah Bank Ribawi Juga Ikut Menanggung Dosa

Pertanyaan

Saya berutang kepada seorang teman senilai Rp 100.000,- dengan perjanjian sebulan kemudian dikembalikan sebesar Rp 150.000,-. Ketika jatuh tempo tiba, saya berusaha hanya mengembalikan Rp 100.000,- saja, tapi dia ngotot minta tambahan sebesar 50 ribu.

Apa status hukum tambahan tersebut?

Jika itu riba, apakah saya berdosa karenanya?

Bagaimanakah cara untuk membersihkan diri dari uang utangan riba, mengingat uang utangan tersebut telah bercampur dengan harta saya yang lain?

Apa yang harus aku lakukan?

Jawaban:

Allah mengharamkan riba dan memberi Lanjutkan membaca

Hasanah City,

Standar

Seandainya Beli Rumah Seringan Balon Udara

Mungkinkah?

Saya saat ini masih merasakan keinginan besar untuk mendapatkan rumah idaman untuk istri dan anak-anak. Sedikitnya iri karena melihat teman yang sebaya mulai memiliki tempat tinggal dan tidak lagi menjadi kontraktor seperti saya.

Mencari-cari dan berselancar di dunia internet ternyata harga rumah semakin meningkat tanpa saya inginkan hal itu. Saat ini saya tersadar sekali bahwa langkah saya harus cepat dalam mengambil rumah.

Dimanapun lokasinya yang terpenting saya bisa memiliki rumah yang bisa dihuni oleh keluarga tercinta. Ada memang pemikiran lokasi, namun yang terpenting adalah pembelian rumah dengan metode yang ringan layaknya balon udara.

Berpikir keras dan bekerja keras setiap Lanjutkan membaca

Polemik Wanita Menyetir di Kerajaan Saudi Arabia

Standar

Polemik Wanita Menyetir di Kerajaan Saudi Arabia

Seorang wanita Saudi yang menentang larangan mengemudi di kerajaan tersebut, terluka dan temannya tewas ketika mobil yang mereka kendarai terbalik di utara provinsi Hael, seorang juru bicara polisi mengatakan pada hari Senin kemarin (23/1). Lanjutkan membaca

Macam-macam Jual Beli

Standar

Jual Beli.

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Macam-Macam Jual Beli Yang Dilarang Syari’at
1. Bai’ul Gharar
Yaitu semua jual beli yang mengandung unsur jahalah (ketidak-jelasan) atau mengandung unsur mengadu peruntungan atau judi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bai’ul hashaat dan bai’ul gharar (menjual barang yang ada unsur penipuan)” [14]

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah Lanjutkan membaca

NIKMAT MAMPU BERBICARA DAN MENJELASKAN

Standar

NIKMAT MAMPU BERBICARA DAN MENJELASKAN

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Sesungguhnya kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hambanya tak terhitung dan terhingga banyaknya. Dan termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemapuan tersebut seseorang bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Orang yang tidak diberi nikmat mampu berbicara, jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa mengutarakan sesuatu dan memahamkan orang dengan isyarat atau dengan cara menulis, jika dia mampu menulis. Allah Ta’ala berfirman.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, kemana saja dia suruh oleh penanggungnya itu dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang lurus?” [An-Nahl : 76]

Tentang tafsir ayat ini, ada yang mengatakan bahwasanya Allah memberikan permisalan perbandingan antara diriNya dengan berhala yang disembah. Adapula yang mengatakan bahwa Allah memberi permisalan antara orang kafir dan orang yang beriman. Imam Qurthubi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya (IV/149), “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa penjelasan-penjelasan tersebut semuanya baik, karena telah mencakup”.

Permisalan di atas secara jelas menerangkan kekurangan seorang budak bisu yang tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Pemiliknya pun tidak mampu mengambil manfaat kapan dia membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman.

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ

“Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan” [Adz-Dzariyat : 23]

Allah bersumpah dengan diriNya akan pastinya kedatangan hari kebangkitan dan pembalasan amal manusia, sebagaimana pastinya ucapan yang menjadi perwujudan dari orang yang berbicara. Pada ayat tersebut Allah memaparkan sebagian karuniaNya yang berupa ucapan,

Allah Ta’ala juga berfirman.

خَلَقَ الْإِنسَانَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Dia menciptakan manusia, dan mengajarinya berbicara” [Ar-Rahman : 2-3]

Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan bahwa al-bayan (penjelasan) adalah berbicara. Jadi, Allah menyebutkan nikmat berbicara ini, karena dengan berbicara manusia bisa mengutarakan apa yang diinginkannya.

Allah Ta’ala berfirman.

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukannkah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?” [Al-Balad : 8-9]

Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, “Firman Allah : أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ (Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata), maksudnya dengan kedua mata tersebut dia mampu melihat. وَلِسَانًا (Dan lidah), yaitu dengan lidahnya dia mampu berbicara ; mampu mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hatinya. وَشَفَتَيْنِ (Dan kedua bibirnya), yaitu dengan bibirnya dia dapat mengucapkan sebuah perkataan, atau memakan makanan ; juga sebagai penghias wajah dan mulutnya”.

Akan tetapi, kita tahu bahwa nikmat berbicara ini akan menjadi kenikmatan yang hakiki apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Apabila digunakan untuk perkara yang jelek, maka hal itu justru akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu, maka orang yang tidak diberi nikmat berbicara lebih baik keadaannya dibandingkan dengan orang yang menggunakan nikmat ini dalam perkara yang jelek.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004]

http://almanhaj.or.id/content/3198/slash/0

Reposting by : https://abuafifahassalafy.wordpress.com/2012/01/29/nikmat-mampu-b…an-menjelaskan/