Hasanah City,

Seandainya Beli Rumah Seringan Balon Udara

Mungkinkah?

Saya saat ini masih merasakan keinginan besar untuk mendapatkan rumah idaman untuk istri dan anak-anak. Sedikitnya iri karena melihat teman yang sebaya mulai memiliki tempat tinggal dan tidak lagi menjadi kontraktor seperti saya.

Mencari-cari dan berselancar di dunia internet ternyata harga rumah semakin meningkat tanpa saya inginkan hal itu. Saat ini saya tersadar sekali bahwa langkah saya harus cepat dalam mengambil rumah.

Dimanapun lokasinya yang terpenting saya bisa memiliki rumah yang bisa dihuni oleh keluarga tercinta. Ada memang pemikiran lokasi, namun yang terpenting adalah pembelian rumah dengan metode yang ringan layaknya balon udara.

Berpikir keras dan bekerja keras setiap Lanjutkan membaca “Hasanah City,”

Iklan

Ar Rayyan Agency, Bojong Gede

Bismillahirrohmanirrohim…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

SEGERA HADIR PRE LAUNCHING PERUMAHAN SYARIAH DI BOJONGGEDE – BOGOR

Persembahan Hasanah Land Group

Insya Allah dengan mengisi Formulir ini akan semakin memudahkan Kami dalam rangka membantu kebutuhan Bapak/Ibu semua untuk memiliki hunian yang nyaman dengan lingkungan Islami yang bisa menghantarkan ke Surga. Karena konsep yang kami tawarkan 100% Syariah, yaitu:

# Tanpa Riba
# Tanpa Pembiayaan Bank
# Tanpa Denda
# Tanpa Sita, Lelang, dan Pinalti
# Tanpa Akad Bathil
# Tanpa BI Checking
# Tanpa Bunga
# Lebih Tentram Dunia Akhirat

Sebelumnya, jawablah pertanyaan berikut : Lanjutkan membaca “Ar Rayyan Agency, Bojong Gede”

Kritik: Anjuran Adzan di Telinga Bayi

Adakah tuntunan mengadzankan bayi ketika lahir?

Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan. Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadits yang shohih.Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadits yang lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti. Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan atau iqomah pada bayi yang baru lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Lanjutkan membaca “Kritik: Anjuran Adzan di Telinga Bayi”

Polemik Wanita Menyetir di Kerajaan Saudi Arabia

Polemik Wanita Menyetir di Kerajaan Saudi Arabia

Seorang wanita Saudi yang menentang larangan mengemudi di kerajaan tersebut, terluka dan temannya tewas ketika mobil yang mereka kendarai terbalik di utara provinsi Hael, seorang juru bicara polisi mengatakan pada hari Senin kemarin (23/1). Lanjutkan membaca “Polemik Wanita Menyetir di Kerajaan Saudi Arabia”

Kitab Jual Beli

KITAB JUAL BELI

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Definisi Jual Beli
Al-buyu’ adalah bentuk jamak dari bai’u, dan dijamak karena banyak macamnya.

Sedangkan bai’u yaitu memindahkan kepemilikan kepada orang lain dengan harga. Adapun syira adalah menerima bai’i tersebut. Dan setiap dari keduanya digunakan untuk menamai yang lainnya.

Pensyari’atan Jual Beli
Allah Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [An-Nisaa’: 29)]

Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا.

“Al-Bayyi’an (penjual dan pembeli) memiliki hak khiyar (memilih untuk melanjutkan jual beli atau membatalkannya) selama keduanya belum berpisah.” [1]

Kaum muslimin telah berijma’ akan bolehnya jual beli, dan hikmah juga mengharuskan adanya jual beli, karena hajat manusia banyak bergantung dengan apa yang dimiliki oleh orang lain (namun) terkadang orang tersebut tidak memberikan kepadanya, sehingga dalam pensyari’atan jual beli terdapat wasilah (perantara) untuk sampai kepada tujuan tanpa memberatkan. [2]

Anjuran Bekerja
Dari Miqdam Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ q كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.

“Tidaklah seseorang memakan makanan sedikit pun yang lebih baik dari memakan hasil kerjanya sendiri, karena sesungguhnya Nabiyullaah, Dawud Aliahissallam dahulu makan dari hasil kerjanya sendiri.” [3]

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َلأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.

“Sungguh, seseorang di antara kalian mengumpulkan seikat kayu bakar yang ia panggul di atas punggungnya (untuk dijual) adalah lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang lain, entah diberi atau ditolak.’” [4]

Kekayaan bagi Orang Yang Bertakwa
Dari Muadz bin ‘Abdillah bin Khubaib, dari ayahnya, dari pamannya Radhiyallahu anhum, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ.

“Tidak mengapa kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik dari pada kekayaan, dan jiwa yang baik termasuk nikmat.’” [5]

Anjuran Sederhana Dalam Mencari Penghidupan
Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ.

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah dalam memohon, karena sesungguhnya suatu jiwa tidak akan mati sehingga dipenuhi rizkinya walaupun lambat datangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah dalam memohon. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang
haram.” [6]

Anjuran Berbuat Jujur Dan Ancaman Berdusta
Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، أَوْ قَالَ: حَتَّى يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا.

“Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama keduanya belum berpisah (atau beliau bersabda, ‘Hingga keduanya ber-pisah’), apabila keduanya berbuat jujur dan menjelaskan (keadaan dagangannya), maka akan diberkahi dalam jual belinya, (namun) apabila menutup-nutupinya dan berdusta, maka akan dihapus keberkahan jual belinya.” [7]

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلاَّ بَيَّنَهُ لَهُ.

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual kepada saudaranya barang dagangan yang terdapat aib padanya kecuali ia menjelaskannya” [8]

Anjuran Mempermudah Dan Murah Hati Dalam Jual Beli
Dari Jabir bin ‘Abdillah Rdhiyallahu ‘anhum bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى.

“Semoga Allah merahmati seseorang yang murah hati apabila menjual, apabila membeli serta apabila menuntut” [9]

Keutamaan Memberi Tempo kepada Orang yang Kesulitan Membayar Hutang
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ: تَجَاوَزُوْا عَنْهُ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، فَتَجَاوَزَ اللهُ عَنْهُ.

“Dahulu ada seorang pedagang yang sering memberi hutang kepada manusia, apabila ia melihat orang yang kesulitan membayar hutangnya (mu’-sir) maka ia berkata kepada para pembantunya, ‘Maafkanlah ia, semoga Allah memaafkan (kesalahan-kesalahan) kita.’ Maka, Allah pun memaafkan (mengampuni) kesalahan-kesalahannya.” [10]

Larangan Menipu
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ يَبِيعُ طَعَامًا، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهِ فَإِذَا هُوَ مَغْشُوشٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ غَشَّ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seseorang yang menjual makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, ternyata ia menipu, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang menipu (berbuat curang) bukan dari golongan kami.’”[11]

Anjuran Berpagi-pagi Dalam Mencari Rizki
Dari Shakhr al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَللّهُمَّ بَارِكْ ِلأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا.

‘Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.’” [12]

Do’a Ketika Masuk Pasar
Dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu anhum, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, “Barangsiapa ketika masuk pasar membaca:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian, Dia yang menghidupkan dan mematikan, Dia Mahahidup dan tidak mati, segala kebaikan berada dalam tangan-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’

Niscaya Allah akan menuliskan satu juta kebaikan baginya dan menghapus satu juta kesalahannya dan Dia akan membangun rumah untuknya di Surga.” [13]

Allah Telah Menghalalkan Jual Beli
Hukum asalnya adalah boleh menjual apa saja dan dengan cara bagaimanapun jual beli tersebut selama dilakukan dengan saling suka sama suka antara penjual dan pembeli selama tidak dilarang oleh syari’at.

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/328, no. 2110), Shahiih Muslim (III/ 1164, no. 1532), Sunan Abi Dawud (IX/330, no. 3442), Sunan at-Tirmidzi (II/359, no. 1264), Sunan an-Nasa-i (VII/244).
[2]. Fat-hul Baari (IV/287)
[3]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5546)], Shahiih al-Bukhari (IV/303, no. 2072).
[4]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7069)], Shahiih al-Bukhari (IV/303, no. 2074), Sunan at-Tirmidzi (II/94, no. 675), Sunan an-Nasa-i (V/96).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1741)], Sunan Ibni Majah (II/724, no. 2141).
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1743)], Sunan Ibni Majah (II/725, no. 2144).
[7]. Telah disebutkan takhrijnya.
[8]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6705)], Sunan Ibni Majah (II/755, no. 2246).
[9]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4454)], Shahiih al-Bukhari (IV/206, no. 2076).
[10]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3495)], Shahiih al-Bukhari (IV/308, no. 2078).
[11]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1319), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1809)], Sunan Ibni Majah (II/752, no. 2236), Sunan at-Tirmidzi (II/343, no. 1230), Sunan Abi Dawud (VII/265, no. 2589), Sunan at-Tirmidzi (II/389, no. 1329), Shahiih Muslim (I/99, no. 102).
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1818)], Sunan Ibni Majah (II/752, no. 2236), Sunan at-Tirmidzi (II/343, no. 1230), Sunan Abi Dawud (VII/265, no. 2589), dan sabda beliau: “fii bukuurihaa (di waktu paginya),” maksudnya pada apa yang mereka bawa pada awal hari.
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1817)], Sunan Ibni Majah (II/752, no. 2235

Sumber: https://almanhaj.or.id/2821-kitab-jual-beli-1.html

View on Path

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

Hatimu mungkin akan berbunga-bunga,
Saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan,
Seorang atau beberapa orang menegurmu.
Engkau tak mengenal mereka.
Tapi –Allah mengujimu-ternyata mereka mengenalmu.
“Ustadz, kami biasa mengikuti pengajiannya…”
“Wajah Ustadz sering kami lihat di TV dan Youtube…”.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Dakwah tersebar ke penjuru negeri.
Sunnah semakin dipahami.
Semakin banyak orang senang dengan kebaikan.
Tapi…

Tapi bagaimana dengan DIRI ini?
Bagaimana dengan JIWA ini?
Bagaimana NASIB hati yang lemah ini?
Hati yang rapuh pada pujian.
Hati yang gemeretak pada sanjungan.
Duhai Rabbi,
Karuniakan keikhlasan tak habis-habisnya pada hamba yang ringkih ini…

Yahya bin Ma’in pernah bertutur:
“Aku tak pernah melihat seperti Ahmad bin Hanbal.
Kami menyertainya selama 50 tahun, namun tak pernah sekalipun
Ia membanggakan kesalehan dan kebaikannya kepada kami.
Beliau –rahimahullah-biasa mengatakan:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin (baca: payah)’.”

Para ulama hadits menuturkan:
“Kami pernah melihat Imam Ahmad
pergi ke Pasar Baghdad untuk membeli seikat kayu bakar.
Beliau lalu memanggulnya di atas pundaknya.
Tapi ketika orang-orang mengenalinya,
Para pemilik dagangan meninggalkan dagangan mereka.
Para pemilik kedai meninggalkan kedai mereka.
Para pejalan kaki berhenti di jalan-jalan mereka,
untuk menyalaminya.
Mereka mengatakan: “Biar kami yang membawakan kayu Anda!”
Namun beliau menepiskan tangannya.
Wajahnya memerah sedih.
Lalu air matanya menetes, sembari berucap:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin.
Andai saja Allah tak menutupi aib ini,
maka semuanya akan terbongkar’.”

Suatu waktu, seorang pria datang memujinya.
Namun Imam Ahmad mengatakan padanya:
“Aku bersaksi kepada Allah,
Sungguh aku mengecammu atas ucapan itu.
Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahanku,
engkau akan melumuri kepalaku dengan tanah.”

Di kesempatan lain, beliau berucap:
“Duhai, andai saja aku tak kenal dengan popularitas.
Andai saja aku hidup di salah satu lembah Mekkah,
agar tidak ada lagi manusia yang mengenaliku.”
(Hilyah al-Auliya’, 9/181)

Maka berlarilah dengan hatimu dari kemasyhuran,
Meski engkau terpaksa menjadi masyhur.
Berlarilah menjauh dari popularitas,
Meski engkau terpaksa menjadi sosok yang populis.
Berlarilah di sepertiga akhir malam…
Berlarilah di khalwat-khalwatmu…
Berlarilah sambil menggumamkan istighfar tanpa putus
Berlarilah sambil mohon keteguhan jiwa,
agar selalu ikhlas dan ikhlas.

Ya Allah, ampuni hamba atas segala ketidakikhlasan
yang menyelusup dalam jiwa ini…

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,
Muhammad Ihsan Zainuddin

View on Path