Duhai Wanita

Standar

jilbag gaul dan jilbab syar'i

jilbag gaul versus jilbab syar’i

Sebagai Wanita, kadang aku tidak mengerti dengan makhluk bernama wanita. Ada berjuta warna tentang wanita. Ada wanita yang amat menjaga kehormatannya, setengah hati menjaga dan ada pula yang menjual kehormatan tanpa harga. Ada wanita yang merasa amat terhina saat dipandang sedemikian rupa oleh lelaki, ada yang biasa saja, bahkan ada yang senang dan bangga.

Dari cara berpakaian pun ketahuan, mana wanita yang menghargai dirinya sendiri, mana yang tidak. Wanita yang menutup seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan dengan pakaian longgar tentu sangat berbeda dengan mereka yang menutup seluruh auratnya dengan kain transparan dan ketat membentuk tubuh. Amat berbeda juga dengan yang membiarkan bagian tubuhnya terbuka dan terlihat.

Duhai wanita, benar-benar aku tak mengerti. Bukankah telah datang padamu pengetahuan tentang cara berpakaian yang datangnya dari Sang Pencipta? Di zaman sekarang rasanya tak mungkin engkau tak tahu. Bukankah pengajian dan majelis taklim pun bertebaran di sekitarmu? Di masjid, mushola, rumah tetangga, televisi, radio, koran, majalah dan masih banyak sumber informasi lainnya. Bukankah saat engkau keluar rumah, amat mudah dijumpai wanita yang menutup aurat dengan benar? Tak pernahkah engkau berpikir dan bertanya-tanya dalam hatimu, mengapa mereka seperti itu dan engkau tidak? Bukankah engkau dan ia sama-sama wanita? Sama-sama memiliki keindahan kulit dan tubuh yang menarik bagi lawan jenis. Lanjutkan membaca

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

Standar

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TAK POPULER.

Hatimu mungkin akan berbunga-bunga,
Saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan,
Seorang atau beberapa orang menegurmu.
Engkau tak mengenal mereka.
Tapi –Allah mengujimu-ternyata mereka mengenalmu.
“Ustadz, kami biasa mengikuti pengajiannya…”
“Wajah Ustadz sering kami lihat di TV dan Youtube…”.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Dakwah tersebar ke penjuru negeri.
Sunnah semakin dipahami.
Semakin banyak orang senang dengan kebaikan.
Tapi…

Tapi bagaimana dengan DIRI ini?
Bagaimana dengan JIWA ini?
Bagaimana NASIB hati yang lemah ini?
Hati yang rapuh pada pujian.
Hati yang gemeretak pada sanjungan.
Duhai Rabbi,
Karuniakan keikhlasan tak habis-habisnya pada hamba yang ringkih ini…

Yahya bin Ma’in pernah bertutur:
“Aku tak pernah melihat seperti Ahmad bin Hanbal.
Kami menyertainya selama 50 tahun, namun tak pernah sekalipun
Ia membanggakan kesalehan dan kebaikannya kepada kami.
Beliau –rahimahullah-biasa mengatakan:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin (baca: payah)’.”

Para ulama hadits menuturkan:
“Kami pernah melihat Imam Ahmad
pergi ke Pasar Baghdad untuk membeli seikat kayu bakar.
Beliau lalu memanggulnya di atas pundaknya.
Tapi ketika orang-orang mengenalinya,
Para pemilik dagangan meninggalkan dagangan mereka.
Para pemilik kedai meninggalkan kedai mereka.
Para pejalan kaki berhenti di jalan-jalan mereka,
untuk menyalaminya.
Mereka mengatakan: “Biar kami yang membawakan kayu Anda!”
Namun beliau menepiskan tangannya.
Wajahnya memerah sedih.
Lalu air matanya menetes, sembari berucap:
‘Kita ini adalah kaum yang miskin.
Andai saja Allah tak menutupi aib ini,
maka semuanya akan terbongkar’.”

Suatu waktu, seorang pria datang memujinya.
Namun Imam Ahmad mengatakan padanya:
“Aku bersaksi kepada Allah,
Sungguh aku mengecammu atas ucapan itu.
Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahanku,
engkau akan melumuri kepalaku dengan tanah.”

Di kesempatan lain, beliau berucap:
“Duhai, andai saja aku tak kenal dengan popularitas.
Andai saja aku hidup di salah satu lembah Mekkah,
agar tidak ada lagi manusia yang mengenaliku.”
(Hilyah al-Auliya’, 9/181)

Maka berlarilah dengan hatimu dari kemasyhuran,
Meski engkau terpaksa menjadi masyhur.
Berlarilah menjauh dari popularitas,
Meski engkau terpaksa menjadi sosok yang populis.
Berlarilah di sepertiga akhir malam…
Berlarilah di khalwat-khalwatmu…
Berlarilah sambil menggumamkan istighfar tanpa putus
Berlarilah sambil mohon keteguhan jiwa,
agar selalu ikhlas dan ikhlas.

Ya Allah, ampuni hamba atas segala ketidakikhlasan
yang menyelusup dalam jiwa ini…

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,
Muhammad Ihsan Zainuddin

View on Path